Berita Palembang

Dampak El Nino Lemah, Musim Hujan di Sumsel Diprediksi Mundur

El Nino lemah ditandai oleh menghangatnya suhu muka laut di wilayah Pasifik bagian tengah dan timur sebesar +0.5°C s/d +1.0°C.

Tayang:
Penulis: Odi Aria Saputra | Editor: Sudarwan
BMKG
Prakiraan cuaca dikeluarkan BMKG, Kamis (6/9/2018). 

Laporan wartawan Sripoku.com, Odi Aria Saputra

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Fenomena pemanasan suhu muka laut atau El Nino di akhir 2018 berpotensi menyebabkan wilayah Indonesia diprediksi mengalami keterlambatan awal musim hujan, tak terkecuali wilayah Sumsel.

Kasi Data dan Informasi BMKG Kenten Palembang, Nandang mengatakan kondisi El Nino diprediksi BMKG mulai September dengan intensitas lemah hingga awal tahun 2019.

Baca: Bank Indonesia Buka Lowongan Kerja Besar-besaran, Siap-siap Cek Info Resminya Disini

El Nino lemah ditandai oleh menghangatnya suhu muka laut di wilayah Pasifik bagian tengah dan timur sebesar +0.5°C s/d +1.0°C.

"Pakiraan awal musim hujan Sumsel mundur 1 sampai 2 Dasarian," jelasnya, Kamis (6/9/2018).

Ia menjelaskan, hingga Oktober 2018, suhu Muka Laut di wilayah Indonesia diprediksikan dalam kisaran normalnya dan cenderung hangat dengan perubahan fluktuatif -0.5°C s/d +0.5°C.

Baca: Tubuh Bocah 5 Tahun di OKUS Ini Bersisik. Orang Tua Curiga Gara-gara Bunuh Ular Saat Hamil

Sebagian wilayah perairan diprakirakan akan lebih hangat hingga +2°C, di antaranya perairan Laut Banda dan sekitar Papua.

Secara umum, kondisi musim hujan dan kemarau di Indonesia, selain dikendalikan oleh aliran masa udara monsun dari Benua Asia dan Australia, El Nino/La Nina Samudera Pasifik dan Dipole Mode Samudera Hindia juga memengaruhi musim menjadi lebih kering atau lebih basah.

Selain itu pergerakan pusat konvektif masa udara basah MJO dari barat ke timur melintasi wilayah Indonesia dengan siklus kehadiran 30 hingga 90 hari juga membawa dampak penambahan curah hujan beberapa hari hingga minggu.

Baca: Jelang Piala AFF 2018, Ini Jadwal Pertandingan Uji Coba Indonesia vs Mauritius

"Kondisi atmosfer global dengan latar belakang El Nino lemah di Samudera Pasifik dan Dipole Mode normal di Samudera Hindia berdampak pada peralihan musim kemarau ke musim hujan akhir tahun ini," beber Nandang.

Hasil pantuan BMKG terhadap perkembangan musim kemarau hingga akhir Agustus 2018 ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau yaitu sebanyak 95.6 %.

Sedangkan sisanya 4.3% masih mendapatkan hujan 50 – 150 mm dalam 10 hari terakhir, dan hanya 0.1% wilayah masih mendapatkan curah hujan cukup tinggi >150 mm/dasarian.

Baca: Siap Dimulai 6 September 2018, Berikut Jadwal Lengkap Pertandingan UEFA Nations League

Puncak musim kemarau saat ini ditandai dengan 30% wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa mengalami kurang hujan (kekeringan meteorologis) kategori sangat panjang (31 – 60 hari tanpa hujan), bahkan 6,23% di antaranya terkategorikan ekstrem (>60 hari tanpa hujan).

Mulai awal September, diperkirakan cakupan daerah terdampak puncak musim kemarau tersebut akan berkurang secara bertahap.

"Untuk Sumsel awal masuk musim hujan normalnya di bulan Oktober Dasarian 2 dan 3, untuk 2018 awal musim hujan diperkirakan mundur 1 sampai 2 Dasarian, diperkirakan November 1 dan 2," katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved