Berita Palembang
Sampah Disulap Jadi Listrik, 50 Kepala Keluarga di Palembang Sempat Nikmati Listrik dari Sampah
Dan Kota Palembang menjadi salah satu kota yang memiliki potensi penghasil energi listrik, melalui pengolahan sampahnya.
Penulis: Siti Olisa | Editor: Siti Olisa
Laporan wartawan Sripoku.com, Siti Olisa
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) saat ini menggalakkan konsep energi berkeadilan untuk kesejahteraan masyarakat.
Melalui kebijakan energi berkeadilan inilah, pemerintah dapat memberikan akses energi kepada semua masyarakat tanpa terkecuali dengan harga yang terjangkau.
Untuk mewujudkan ini, Kementerian ESDM terus menggali potensi-potensi penghasil energi baru terbarukan (EBT).
Baca: Ketimbang Masakan Luar Negeri, Sayur Asem Lebih Enak di Lidah Si Seksi Ini
Dan Kota Palembang menjadi salah satu kota yang memiliki potensi penghasil energi listrik, melalui pengolahan sampahnya.
Ide awal pendirian pembangkit listrik dari bahan bakar sampah, berawal dari kebingungan dan kewalahan Pemerintah Kota Palembang mengatasi tumpukan sampah rumah tangga yang semakin hari, kian bertambah dan menggunung.
Setelah melakukan kajian, maka terhitung 2008, pengelolaan sampah disulap menjadi sumber energi alternativ.
Baca: Live Streaming BeIN Sport, Leicester vs Liverpool:Klopp Waspadai Rekor Leicester di King Power
Maka sejak itu, digaraplah rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan Kota Palembang.
Sempat melalui rangkaian ujicoba, program ini beroperasi, maka Tahun 2010 pembangkit listrik tenaga sampah ini sempat terhenti.
Menyadari pengelolaan sampah tidak hanya dapat didayagunakan sebagai sumber listrik, maka sampah yang dikelolah bisa menjadi aman bagi lingkungan dan masyarakat pun bisa sehat.
Baca: Faisol Temukan Tengkorak Manusia Mengenakan Jam Tangan Merk Rolis di Kebun Yadi
Dari hasil survei di lokasi pembangkit, setidaknya pembangkit listrik sampah ini sudah pernah diujicobakan terhadap 50 Kepala Keluarga (KK) dari target 112 rumah yang berada di sekitar pembangkit.
Hasilnya, masyarakat penerima manfaat ini mengaku senang karena harga beli (watt) listrik tidak begitu mahal.
Dan masyarakat benar-benar merasakan adanya kebijakan listrik ini sangat berkeadilan. Namun sayang, listrik yang berasal dari gas metan ini tidak dinikmati terlalu lama karena pasokan gasnya sedikit. Alhasil, mesin pembangkit tenaga sampah hingga memasuki tahun kedelapan, tidak beroperasi.
Baca: Faisol Temukan Tengkorak Manusia Mengenakan Jam Tangan Merk Rolis di Kebun Yadi
“Kami berharap pemerintah kembali mengoperasikan mesin pembangkit ini sehingga berdaya guna bagi masyarakat, khususnya di sekitar Tempat Pembuangan Akhir,” kata Rahman, salah satu warga di sekitar TPA Sukawinatan yang pernah menikmati listrik yang dihasilkan dari sampah ini.
Sepertinya pemerintah merespon keinginan masyarakat tersebut dengan kembali mengoperasikan mesin pembangkit tersebut.
Hanya saja persoalannya, mesin tersebut hanya mampu menghasilkan listrik selama dua jam karena faktor dan kendala teknis.
Baca: Diduga Jalan Berlobang, Truk Terguling Menuju Jalan Noerdin Pandji Palembang (FOTO)
Untuk saat ini, potensi ini kembali dimaksimalkan dengan cara memperbaiki sumur-sumur yang menjadi penampungan gas metan yang kemudian akan disalurkan ke pipa-pipa untuk membangkitkan energi listrik di TPA ini.
Menurut Kepala Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J) Kota Palembang, Ahmad Novan bahwa tumpukan sampah di TPA seluas 25 hektare itu belum semuanya bisa diolah menjadi gas metan sebagai sumber energi listrik karena kapasitas mesin pengolah belum mampu mengolah semua tumpukan sampah ini.
Baca: Mantan Sekjen Partai Golkar, Idrus Marham Ditahan KPK, 20 Hari Pertama di Rutan KPK
Ia mengatakan, penangkapan gas metan tersebut hanya bisa dilakukan pada sampah yang ketinggiannya mencapai 15 meter. Karena itu, kini pihaknya telah melakukan pemetaan menjadi delapan zona.
Saat ini, ada 50 sumur yang dibangun untuk menghasilkan gas metan, namun sayangnya hanya ada 26 sumur yang mengandung gas metan.
Dari target 500 kw saat ini PLTSa tersebut baru bisa menghasilkan 50-90 kw listrik. "Nyala memang, tapi belum maksimal, paling hanya dua jam saja."
Baca: Beredar Isu Soal Larangan Azan di Medsos, Kemenag Sumsel Langsung Kumpulkan Ormas Islam
"Jadi sekarang cuma untuk manasin mesinya saja," katanya.
Novan menerangkan, belum maksimalnya hasil dari PLTSa Sukawinatan ini karena PLTSa tersebut saat ini kekurangan pasokan gas metan.
Novan menjelaskan, 24 sumur yang kurang maksimal menghasilkan gas metan ini, karena saat hujan sumur-sumur ini sering kemasukan air, sehingga tidak bisa menghasilkan gas metan.
Menurutnya, selama ini sumur itu hanya ditutupi dengan tanah, padahal semestinya sumur tersebut harus ditutupi membran atau plastik tebal, agar menghasilkan gas metannya maksimal.
Baca: Beredar Isu Soal Larangan Azan di Medsos, Kemenag Sumsel Langsung Kumpulkan Ormas Islam
"Saat ini pengolaannya masih dilakukan Kementerian ESDM, sudah mau diserahterimakan beberapa waktu lalu tapi karena masih ada kerusakan kami belum mau menerima, sampai PLTSa itu benar-benar maksimal," jelasnya.
Novan mengatakan, saat ini Pemkot Palembang tengah berjuang bersama Kementrian ESDM agar sumur-sumur tersebut menghasilkan gas metan yang maskimal, sehingga bisa menghasilkan listrik yang diinginkan.
Baca: Kontra Leganes di Bernabeu, Real Madrid Cari Start Bagus. Bagaimana Posisi Penjaga Gawang?
Menurut dia, perlu dilakukan revitalisasi sumur baru namun biayanya relatif besar "Kalau mau buat sumur baru itu bisa mencapai Rp 5 miliar untuk 20 sumur, " katanya.
Agar PLTSa ini tidak menjadi sesuatu yang sia-sia, Novan menyebutkan, dalam waktu dekat, Kementerian ESDM akan datang untuk melakukan revitalisasi sumur-sumur ini.
Ia menargetkan, pada akhir tahun mendatan, PLTSa sudah dapat menghasilkan listrik yang maksimal.
Baca: Kontra Leganes di Bernabeu, Real Madrid Cari Start Bagus. Bagaimana Posisi Penjaga Gawang?
"Kalau sudah maksimal, baru kita jual ke PLN. Nanti mereka yang mendistribusikan ke masyarakat," ujarnya.
Hasilnyapun cukup lumayan, setiap kwh yang dijual ke PLN, PT SP2J akan memperoleh uang sebesar 1800/kwh. Menurut Novan, PLTSa seperti ini, sudah dijalankan di Surabaya, Jakarta, dan Bekasi.
"Tapi yang lain dikelola swasta, nah ini dikelola BUMD. Ini berdasarkan peraturan baru, karena inikan sumber listrik tenaga baru, bukan solar atau batu bara tapi sampah," katanya
Baca: Pekan ke-4 Liga Inggris, Berikut Jadwal Siaran Langsung dan Live Streaming
Nopan menerangkan, listrik yang dihasilkan dari sampah ini, akan menerangi wilayah sekitar TPA. Pasalnya, PLTSa Sukawinatan ini, hanya menghasilkan sekitar 350 watt sampai 500 watt.
"Memang tidak terlalu besar. Hanya saja, karena ini program kementerian dan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, setidaknya ini bisa membantu untuk menerangi warga di sekitar Sukawinatan," ulasnya.
Baca: Pekan ke-4 Liga Inggris, Berikut Jadwal Siaran Langsung dan Live Streaming
Untuk pengelolaannya, kata Nopan, pihaknya akan kembali menyerahkannya ke Perusahaan Lisrik Negara (PLN) Wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (WS2JB).
"Meski tidak menghasilkan, kami tetap akan mengelola listrik sampah ini, dan hal ini sudah mendapat persetujuan walikota," tandasnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/tumpukan-sampah_20180322_175430.jpg)