Berita Palembang

Sampah Disulap Jadi Listrik, 50 Kepala Keluarga di Palembang Sempat Nikmati Listrik dari Sampah

Dan Kota Palembang menjadi salah satu kota yang memiliki potensi penghasil energi listrik, melalui pengolahan sampahnya.

Penulis: Siti Olisa | Editor: Siti Olisa
SRIPOKU.COM/WAHYU KURNIAWAN
Truk pengangkut sampah yang masuk di areal gunungan sampah di TPA Sukawinatan 

Hanya saja persoalannya, mesin tersebut hanya mampu menghasilkan listrik selama dua jam karena faktor dan kendala teknis.

Baca: Diduga Jalan Berlobang, Truk Terguling Menuju Jalan Noerdin Pandji Palembang (FOTO)

Untuk saat ini, potensi ini kembali dimaksimalkan dengan cara memperbaiki sumur-sumur yang menjadi penampungan gas metan yang kemudian akan disalurkan ke pipa-pipa untuk membangkitkan energi listrik di TPA ini.

Menurut Kepala Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J) Kota Palembang, Ahmad Novan bahwa tumpukan sampah di TPA seluas 25 hektare itu belum semuanya bisa diolah menjadi gas metan sebagai sumber energi listrik karena kapasitas mesin pengolah belum mampu mengolah semua tumpukan sampah ini.

Baca: Mantan Sekjen Partai Golkar, Idrus Marham Ditahan KPK, 20 Hari Pertama di Rutan KPK

Ia mengatakan, penangkapan gas metan tersebut hanya bisa dilakukan pada sampah yang ketinggiannya mencapai 15 meter. Karena itu, kini pihaknya telah melakukan pemetaan menjadi delapan zona.  

Saat ini, ada 50 sumur yang dibangun untuk menghasilkan gas metan, namun sayangnya hanya ada 26 sumur yang mengandung gas metan. 

Dari target 500 kw saat ini PLTSa tersebut baru bisa menghasilkan 50-90 kw listrik. "Nyala memang, tapi belum maksimal, paling hanya dua jam saja."

Baca: Beredar Isu Soal Larangan Azan di Medsos, Kemenag Sumsel Langsung Kumpulkan Ormas Islam

"Jadi sekarang cuma untuk manasin‎ mesinya saja," katanya.

‎Novan menerangkan, belum maksimalnya hasil dari PLTSa Sukawinatan ini karena PLTSa tersebut saat ini kekurangan pasokan gas metan. 

Novan menjelaskan, 24 sumur yang kurang maksimal menghasilkan gas metan ini, karena saat hujan sumur-sumur ini sering kemasukan air, sehingga tidak bisa menghasilkan gas metan. 

‎Menurutnya, selama ini sumur itu hanya ditutupi dengan tanah, padahal semestinya sumur tersebut harus ditutupi membran atau plastik tebal, agar menghasilkan gas metannya maksimal.

Baca: Beredar Isu Soal Larangan Azan di Medsos, Kemenag Sumsel Langsung Kumpulkan Ormas Islam

"Saat ini pengolaannya masih dilakukan Kementerian ESDM, sudah mau diserahterimakan beberapa waktu lalu tapi karena masih ada kerusakan kami belum mau menerima, sampai PLTSa itu benar-benar maksimal," jelasnya.‎‎

Novan mengatakan, saat ini Pemkot Palembang tengah berjuang bersama Kementrian ESDM agar sumur-sumur tersebut menghasilkan gas metan yang maskimal, sehingga bisa menghasilkan listrik yang diinginkan.

Baca: Kontra Leganes di Bernabeu, Real Madrid Cari Start Bagus. Bagaimana Posisi Penjaga Gawang?

Menurut dia, perlu dilakukan revitalisasi sumur baru namun biayanya relatif besar "Kalau mau buat sumur baru itu bisa mencapai Rp 5 miliar untuk 20 sumur, " katanya.

Agar PLTSa ini tidak menjadi sesuatu yang sia-sia, Novan menyebutkan, dalam waktu dekat, Kementerian ESDM akan datang untuk melakukan revitalisasi sumur-sumur ini.

Ia menargetkan, pada akhir tahun mendatan, PLTSa sudah dapat menghasilkan listrik yang maksimal.

Baca: Kontra Leganes di Bernabeu, Real Madrid Cari Start Bagus. Bagaimana Posisi Penjaga Gawang?

"Kalau sudah maksimal, baru kita jual ke PLN. Nanti mereka yang mendistribusikan ke masyarakat," ujarnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved