Pilpres 2019

3 Perdebatan Ini Terjadi Sebelum Prabowo Subianto & Sandiaga Uno Deklarasi Cawapres Pilpres 2019

3 Perdebatan Ini Terjadi Sebelum Prabowo Subianto & Sandiaga Uno Deklarasi Cawapres Pilpres 2019

3 Perdebatan Ini Terjadi Sebelum Prabowo Subianto & Sandiaga Uno Deklarasi Cawapres Pilpres 2019
IST

Ketika itu Prabowo Subianto mengajak Sandiaga Uno masuk ke politik, dan bagi Sandiaga Uno hal itu cukup mengkhawatirkan karena Prabowo baru kalah di Pilpres 2014.

“Jadi dalam posisi yang menurut saya sangat sensitif bagi seseorang yang baru kalah,” kata Sandiaga Uno.

Sandiaga Uno merasa tak belum mau masuk  politik karena dasarnya sebagai pebisnis. Tapi Prabowo Subianto mengganggu pikiran Sanid dengan mengatakan

“iya betul kalian sebagai pengusaha memang berdampak positif, tapi yang dibutuhkan bangsa ini adalah pengambil kebijakan yang bisa menghasilkan dampak yang bukan hanya bisa dirasakan 50.000 karyawan yang ada di grup anda. Tapi bisa dirasakan jutaan, bahkan puluhan juta rakyat indonesia. Jadi passion kamu ada di UKM , passion kamu ada di wirausaha, kalau di politik itu bisa menghasilkan dampak yang sangat besar buat rakyatindonesia,” kata Prabowo Subianto kepada Sandiaga Uno, ketika itu.

Perdebatan kurang lebih 1 atau 2 jam itu berakhir tanpa jawaban. Sandiaga Uno memilih keluar dari percakapan dengan mengatakan akan meminta izin dahulu dengan keluarganya.

Tapi dalam hati Sandiaga Uno berujar dan sudah yakin tak akan diberikan ijn oleh keluarganya.

“Karena saya yakin keluarga saya nggak akan memberikan ijin.Karena saya tidak pernah dalam satu keluarga yang jadi politisi. Semuanya pengajar, guru, atau professor. Nah saya pengusaha pertama di keluarga saya, dan saya juga yakin orangtua saya akan melarang,” kata Sandiaga Uno.

Tapi pikiran Sandiaga Uno ternyata salah besar. Keesokan harinya usai berdebat dengan Prabowo Subianto, Sandiaga Uno mendatangi rumah ibunya untuk berkonsultasi dengan mendapati keanehan.

“Ternyata besoknya setelah itu, just to make sure, saya tanya sama ibu saya. Saya dateng pagi-pagi, ibu saya nanya ‘wah datang pagi-pagi nih ada apa’, saya bilang mau konsultasi. Dia bilang ‘oh pasti mau nanya mau masuk politik atau tidak?’ Loh kok mama tahu saya bilang. ’Oh iya pak prabowo sudah telepon saya semalam’, dan mama setuju tuh dengan argumennya pak prabowo bahwa Ini memang saatnya kamu fokus berkontribusi’. Rupanya dia (Prabowo Subianto) cepet melobi ke orang yang paling saya dengar, dan itu singkat cerita,” kata Sandiaga Uno.

Berikutnya tepat  6 Februari 2015 Sandiaga Uno masuk ke Partai Gerindra, dan mendapat tugas membangun kebijakan mengenai ekonomi kerakyatat,kewirausahaan,dan juga ukm di partai gerindra.

Dari situlah semuanya berawal. Sandiaga Uno menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, lalu kini dipilih menjadi Cawapres mendampingi Prabowo Subianto

2.  Perdebatan soal kandidat bakal calon Gubernur DKI

Hanya beberapa bulan kemudian, di akhir 2015, Sandiaga Uno mendadak ditunjuk Prabowo Subianto menjadi  calon kandidat bakal calon gubernur di dki jakarta.

Sandiaga Uno mengaku menolak mati-matian penunjukan Prabowo Subianto. Dia merasa tak mampu melawan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“‘Saya bilang ke Pak Prabowo, ‘pak ini bagaimana sih kita,kan saya lagi fokus di platform daripada ekonomi kerakyatan Gerindra, bapak tugasinnya sangat sulit. Saya mendingan dihukum yang lain saja ini pak.menurut saya hukuman pada waktu itu, karena harus menghadapi seorang tokohyang sangat fenomenal, dan ex partai gerindra juga. Kan Pak Basuki adalah seorang mantan petinggi gerindra. Jadi saya bilang pak saya disuruh yang lain ajalah, disuruh push up kek, disuruh lari 50 kilometer saya jabanin, tapi maju di DKI saya nyerah lah pak. Itu yang menarik yang dia sampaikan. Disini saya yakin dia punya penciuman politik yang luar biasa,” ujar Sandiaga Uno.

Sandiaga Uno pun mendebat Prabowo Subianto bahwa perintahnya tak masuk akal. Sebab ketika itu elektabilitas Sandiaga Uno 0,00, sedangkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memilki elektabilitas 70 persen. 

Tapi Prabowo Subianto meyakinkannya dan memberi waktu  3 bulan untuk mempelajari segala sesuatunya.

Akhirnya pada akhir Maret 2016 Sandiaga Uno punya gambaran bahwa dirinya punya peluang di Jakarta, setelah turun di 257 kelurahan.

“Saya sampaikan ke beliau bahwa ada peluangnya. Sebab ternyata isu di jakarta adalah isu ekonomi lapangan pekerjaan, harga bahan pokok, dan pendidikan. Kalau lapangan kerja saya bisa.Tapi yang ketiga ini saya belum punya jawabannya, tentang pendidikan. Sayamemang dari keluarga pendidkan, tapi orang tahu saya ini seorang pengusaha, bukan  pendidik,”kata Sandiaga Uno.

Prabowo Subianto kemudian memberi Sandiaga Uno kesempatan, dengan syarat elektabilitasnya harusnya naik sampai angka 20 persen, dan popularitasnya naik di atas 40 persen.

Sejak itulah Sandiaga Uno turun dari kelurahan ke keluraha, sampai total dia memecahkan rekor Muri sebagai kandidat yang turun ke paling banyak lokasi masyarakat,yakni 1.300 lokasi.

3. Menjadikan Gubernur Anies Baswedan

Perdebatan ini terjadi usai Prabowo Subianto memberikan surat perintah membentuk koalisi kepada Sandiaga Uno sebagai calon Gubernur DKI Jakarta yan akan diusung Partai Gerindra pada 2016. 

Sandiaga Uno memperkirana antara Juni-Juli 2016 dirinya bisa memenuhi syarat dari Prabowo Subianto, dan akhirnya dia dipilih menjadi  bakal calon Gubernur DKI Jakarta yang diusung Partai Gerindra.

Sandiaga Uno agak kaget dia terpilih, karena sebenarnya ada 2 kandidat lain yang amat dekat dengan Prabowo Subianto.

“Itu dia (Prabowo) tuangkan dalam surat tugas untuk membangun koalisi untuk mencalonkan. Karena Gerindra kan waktu itu nggak cukup kursinya. Kita hanya punya 15, padahal kita butuh 22 kursi. Dan saya ditugaskan,” kata Sandiaga Uno .

Sejak itu Sandiaga Uno mulai membangun koalisi. Singkat cerita, akhirnya Sandiaga Uno hanya bisa meyakinkan PKS, karena ternyata partai lain punya calonnya sendiri-sendiri.

Menjadi dilematis, kata Sandiaga Uno, ketika itu Gerindra dan PKS menginginkan dirinya yang menjadi calon gubernur.

“Tapi karena saya lihat saya punya saingan 2 saingan yang super kuat, memiliki jaringan yang teramat dahsyat, dan punya jaringanyang melimpah, saya tawarkan varian baru ke pak Prabowo dan Sohibul Iman, bahwa untuk memastikan kita memiliki daya saing yang lebih, kita perlu tokoh baru, dan itu yang saya bawa Anies Baswedan. Saya bawa Anies Baswedan, saya perkenalkan, karena  tadi satu topik yang saya nggak bisa, pendidikan.karena saya yakin 3 isu ini konsisten,” ujar Sandiaga Uno.

“Saya yangmenawarkan Pak Anies menjadi nomorsatu. Kan nggak pantes mantan menteri menjadi wakil gubernur,” kata Sandiaga Uno.

Anies Baswedan sempat ragu dengan usul Sandiaga Uno. Sebab di tahun 2014 Anies Baswedan menjadi juru bicara Joko Widodo.

“Saya bilang itu tanggungjawab saya, biarkan saya  meyakinkan Pak Prabowo,” kata Sandiaga Uno kepada Anies Baswedan,pada saat itu.

Ketika itu Prabowo Subianto sempat kaget karena justru Anies Baswedan yang menjadi calon Gubernur,dan Sandiaga Uno justru menjadi wakil Gubernurnya.

Perdebatan terjadi kala itu antara Sandiaga Uno dan Prabowo Subianto. Tapi kali ini giliran Prabowo Subianto yang terpatahkan oleh argumentasi Sandiaga Uno. 

“Awalnya dia juga sampai kaget kok saya jadi nomor 2.Ya itu saya bilang kita ingin punya peluang untuk menang, atau mau jago-jagoan saja. Kalau mau jago-jagoaan aja nggak apa-apa. Pak anies nggak  perlu ada disini kita hanya ikut konstetasi jago-jagoan. Pak Prabowo bilang saya ingin menang. Saya bilang oke serahkan ke saya keputusannya,” kata Sandiaga Uno.

Dari situlah akhirnya Anies Baswedan secara mendadak menjadi calon Gubernur DKI yang kemudian terpilih bersama Sandiaga Uno.

Tapi kini  giliran Sandiaga Uno yang bakal melompat menjadi Cawapres apabila terpilih di Pilpres 2019 mendatang. 

Penulis: Fadhila Rahma
Editor: Fadhila Rahma
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved