Ilmuwan Menduga Sampah Yang Berserakan Di Pantai Terkecil Di Australia Berasal dari Indonesia
Sekelompok polisi hutan menghabiskan waktu selama berjam-jam setiap minggu untuk membersihkan pantai yang dipenuhi sampah manusia
Khawatir dengan skala dari sampah-sampah di pantai di Arnheim Land, Luke Playford mulai memotret kemasan dan negara asal dari limbah-limbah itu dan menemukan bahwa sebagian besar limbah itu berasal dari wilayah Indo-Pasifik.
Dia juga telah melihat pemodelan yang menunjukkan sampah memasuki Teluk Carpentaria berkat angin barat laut yang melakukan perjalanan dari wilayah Indonesia setiap musim hujan.
"Ketika musim berganti dan kami memasuki musim kemarau, angin dari asia tenggara bertiup dan mendorong limbah itu ke pantai-pantai yang berada di sisi barat Teluk," katanya.
"Tapi saya pikir limbah-limbah itu tidak tersapu kembali oleh hujan di awal musim. Sebagian bisa jadi terkubur di bawah pasir di pantai."
"Peristiwa topan kadang-kadang bisa menyebabkan limbah itu tergali dan disapu kembali ke laut, tetapi tujuan kami adalah mencegah sampah-sampah itu sampai di pantai dan untuk mencegah hal itu terjadi."
Warga Nhulunbuy sangat terkejut dengan banyaknya sampah, dia menghabiskan waktu seharian untuk mengangkut sampah itu dengan mobil truknya.

Bekas gigitan satwa laut di plastik
Dalam beberapa minggu ke depan, penyu akan berusaha mencapai pesisir Cape Arnhem untuk bertelur selama musim bersarang tahun ini.
"Bagi penyu itu, keluar dari laut dan harus melalui ranjau sampah plastik dan limbah, lalu mencoba untuk menggali melalui berbagai limbah tersebut di pasir untuk dapat meletakkan telur-telur adalah tantangan yang besar," kata Luke Playford.
Bukan hanya kura-kura yang terkena dampak Luke Playford dan timnya juga telah melihat bekas gigitan dari kehidupan laut pada benda-benda plastik dan meyakini beberapa dari hewan laut telah memakannya dan mati.
Selain itu, kawasan pantai terpencil di Arnheim Land itu juga memiliki nilai budaya yang signifikan bagi masyarakat Aborijin Yolngu setempat, yang menjadi faktor mengapa para polisi hutan melakukan penjagaan di kawasan itu.
"Ini di luar kemampuan kami untuk membersihkan seluruh pantai itu setiap tahun, jadi kami harus memprioritaskan di mana kami memfokuskan upaya kami," kata Luke Playford.
"Dan sudah pasti didasarkan pada pertimbangan, nilai-nilai budaya dari lansekap di kawasan ini."
Limbah-limbah ini juga mengalihkan perhatian dari tugas-tugas lain di musim sibuk ketika mereka harus berpatroli di darat dan air, melayani lokasi perkemahan, dan melakukan pembakaran pada musim kering.
Sebaliknya, tim Luke Playford secara teratur menghabiskan setengah hari bepergian ke beberapa pantai dan setengah hari membersihkan pantai itu dari sampah dari laut, sebelum mensurvei limbah yang akhirnya akan berakhir di TPA.