Islam Terorisme

Islam Terorisme ? Ah, Mustahil!

Terorisme berasal dari kata teror --secara etimologis berarti usaha menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman

Editor: Salman Rasyidin
Prof. Dr. H. Jalaluddin 

Gerakan yang tak jauh berbeda juga pernah terjadi di India. Pembunuhan ritual terhadap para wartawan sebagai persembahan kepada kali, dewa teror dan penghancur Hindu.

Karenanya dalam pandangan Walter Laquer, sampai abad ke- 19, agama sekedar menjadi justifikasi bagi terorisme ( Ridwan al- Makassary, 2003 : 5-6 ).

Tidak ada satupun agama yang memuat ajaran atau menganjurkan pemeluknya untuk berbuat makar, maupun melakukan kekerasan.

Apalagi sampai melakukan pembunuhan.

Pada intinya ajaran agama mengandung nilai-nilai luhur yang mengacu kepada pembentukan rasa kasih sa-
yang., cinta kasih, sikap saling menghargai, rasa keadilan, serta kerja sama dalam upaya menciptakan kondisi kehidupan yang damai, aman, dan sejahtera.

Namun, dari rangkaian sejarah perkembangannya, adakalanya nilai-nilai esensi tersebut disalahgunakan, sehingga tindakan kekerasan yang dilakukan kelompok tertentu diidentikkan dengan agama yang dinutnya.

Gerakan terorisme tampaknya menjadi bagian dari ekspresi dari kebangkitan komunalisme pada era reformasi, yakni dengan munculny aparta-partai dan organisasi- organisasi massa baru yang mengusung simbol-simbol primordial, seemisal agama, etnik, kelompok, yang disebut Manuel Castells sebagai identitas bersama the ego of authenticity (Ridwan al-Makassary : 20).

Pada tataran ini tampakya ibol-simbol primordial yang "paling laris" serta memiliki " pasar" luas adalah agama.

Agama merupakan sisi kehidupan batin (inner life) dan keyakinan seseorang atau kelompok, terkait dengan sistem nilai yang menjadi anutan.

Nilai, sebagai sesuatu yang dianggap benar dan perlu dipertahankan, terkadang hingga ke pengorbanan nyawa (E. M. K Kaswardi, 1993 ), diyakini mampu membangkitkan solidaritas yang kuat.

Dengan demikian, simbol-simbol agama lebih mudah diperankan sebagai trigger (pemicu) sebuah gerakan massa, apapun bentuknya, termasuk terorisme.

Maka tidak mengherankan bila terorisme dengan mengatasnamakan agama lebih mudah mengundang simpati, ketimbang simbol- simbol primordial lainnya.

Kajian psikologi agama melihat, bahwa terorisme merupakan bagian dari tingkah laku keagamaan yang menyimpang.

Gerakan seperti itu tak lepas dari faktor- faktor kejiwaan yang memengaruhi para pendukung dan pelakunya. Faktor-faktor dimaksud antara lain adalah : pemahaman yang keliru dan otoritas keagamaan.

Pemahaman yang keliru tentang agama, lazimnya dimunculkan oleh mitos keagamaan.

Ajaran agama yang sebenarnya berisi nilai-nilai luhur itu tak jarang "dipasung" oleh tokoh-tokoh atau kelompok tertentu dan dimanipulasi ke dalam

mitos. Tindakan yang bersifat manipulatif ini menjadikan ajaran agama kehilangan nilai-nilai luhurnya.

Pada tingkat tertentu, alam pikiran mitologis cenderung anti sejarah dan anti peradaban modern.

Realitas yang ada dipan dang semu, maya, imitasi, dan tidak sempurna dari arketipe (model, pola ) yang ada di alam surgawi. Selanjutnya pemikiran mitologis ini memunculkan dua bentuk paradoksal.

Pertama, radikalisme-eskapis (menghindar diri dari kenyataan), berusaha mele paskan kehidupan dunia, hidup bertapa, membebaskan diri dari berbagai kehidupan duniawi yang dianggap racun dan bersifat maya.

Kedua, radikalisme-teologis, membangun komunitas eksklusif (khusus, terpisah dari yang lain) yang memiliki sikap fanatisme.

Sia papun atau golongan manapun yang dinilai berbeda faham dalam masalah keagamaan dianggap "musuh".

Islam sebagai agama samawi, secara etimologis memuat sejumlah derivasi (kata turunan), antara lain :

1) Aslama, yang berarti menyerahkan diri, taat, tunduk, dan patuh sepenuhnya;

2) Salima, berarti selamat, sejahtera, sentosa, bersih, dan bebas dari cacat/cela;

3) Salam, berarti damai, aman dan tenteram, dan

4) Sullam, yang artinya tangga (alat bantu untuk naik ke atas), berkonotasi dengan peningkatan kualitas diri.

Berdasarkan pengertian etimologis ini, maka secara garis besarnya Islam mengandung makna penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. yang dibuktikan dengan sikap taat, tunduk, dan patuh sepenuhnya kepada ketentuanNya, guna terwujudnya suatu kondisi kehidupan yang damai, aman, terteram, dan berkualitas.

Menurut Muhammad Abu Zahrah, sasaran hukum Islam (syari'ah) ada tiga.

Pertama, ialah penyucian jiwa.

Kedua, menegakkan keadilan dalam masyarakat Islam.

Ketiga, kemashlahatan. Kemashlahatan merupakan puncak dari hukum Islam.

Kemashlahatan diwujudkan melalui hukum yang mengacu kepada pemeliharaan lima hal, yakni : memelihara agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan (Muhammad Abu Zahrah, 2008 : 543-548).

Jadi kata kuncinya adalah "pemeliharaan". Bukan "perusakan".

Pemeliharaan tidak hanya terbatas pada hubungan antara manusia, melainkan juga menyangkut hubungan dengan alam sekitar.

Pemeliharaan alam sekitarnya adalah bagian dari amanah kekhalifahan manusia.

Tugas yang diamanatkan kepada manusia sebagai khalifah, adalah untuk memakmurkan atau membangun bumi ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh yang menugaskannya, yaitu Allah (M. Quraish Shihab,1992 :172). Kawasan pemeliharaan itu sendiritercakup di dalamnya flora (tumbuh-tumbuhan) dan fauna (hewan), serta sumber daya alam lainnya (udara, tanah, air). Dalam konteks tugas kekhalifahan ini pula, dalam kemasan Hadits Qudsi, Rasul Allah SAW. memesankan : "Kasih-sayangilah segala yang ada di bu-mi, maka yang di langit akan mengasih-sayangimu."(HR.Bukhari) Lagi-lagi "pemeliharaan":.

Bukan "perusakan." Bila dicermati dadianalogikan dengan menggunakan akal sehat (common sense), sulit untuk menemukan hubungan antara terorisme dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Doktrin terorisme dalam segala bentuknya sama sekali sangat bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama samawi ini. Bahkan menodai agama yang telah mendapat ridha dari Allah Swt. (QS. 5 : 3).

Namun ironisnya, manusia sering "terjebak" pada yang sebaliknya.

Para pelaku yang terlibat dalam terorisme ini, tampaknya terjebak dalam perangkap doktrin “mitos- mitos “ keagamaan.

Mereka ini biasanya memiliki latar belakang kehidupan tercederai secara psikologis.

Bisa dari kalangan masyarakat yang merasa terindas atau merasa diperlakukan kurang adil.

Ataupun juga dari kalangan yang merasa terbebankan oleh kumpulan dosa.

Dalam kondisi psikologis yang labil seperti itu, mereka mudah tersugesti.

Momentum seperti itu pula yang biasanya dimanfaatkan oleh "tokoh siluman" yang muncul dengan mendakwahkan diri sebagai "sosok penyelamat," yang dalam konsep messianisme dikenal sebagai "Ratu Adil,"

Konsep messianisme ini pula yang kemudian dijadikan icon (cita-cita batin) dari masyarakat atau kelompok yang "merasa" termarjinalisasi ini.

Dalam kondisi yang demikian, mereka merasa senasib sepenanggungan, hingga doktrin yang bersumber dari mitos- mitos keagamaan yang didakwahkan oleh sang tokoh "dilahap" begitu saja.

Tanpa pertimbangan.

Pokoknya "selalu benar." Manakala kondisi yang sedemikian itu sudah tercipta, maka segala bentuk "kebencian" terus bermunculan. Dikatakan oleh pepatah, bahwa "dengan mata yang ridha, segala yang buruk terlihat baik.
Tetapi dengan mata yang benci, segala kebaikan terlihat buruk. Mereka yang sudah termakan doktrin mitos keagamaan ini, selalu menggunakan pandangan tunggal, yakni dengan menggunakan
"mata"yang benci. "Semua terlihat jelek, buruk, negatif, dan harus dimusuhi. Alam pikiran sudah dikuasai oleh luapan perasaan (emosi), yang oleh pepatah Melayu dinyatakan "ikut rasa binasa". Dalam kondisi yang seperti itu, maka benar dan salah, sudah sulit untuk dibedakan.

Mereka yang terlibat atau sengaja melibatkan diri dengan aktivitas terorisme itu, bukan hanya sekedar buta mata, tetapi juga buta hati.

Mereka yang sama sekali sudah kehilangan hati nuraninya.

Kondisi yang demikian itu sungguh sangat bertolak belakang dengan tuntunan Rasul Allah SAW.

Sebagai sosok teladan satu-satunya bagi kaum Muslimin, Rasul Allah SAW berpesan dalam sabda beliau :"Aku diutus membawa agama yang tidak memberatkan dan banyak memaafkan. (Al-Ghazali, 1986 : 164). Jadi pelaku penganut terorisme jelas sudah salah kaprah.

Mereka lebih memilih sosok teladan selain Rasul Allah SAW. Sayangnya mereka tidak menyadari akan jalan sesat yang mereka lalui.

Semuanya itu terlukis utuh dalam firman Sang Maha Pencipta. Dinyatakan dalam Al- Qur'an : "Dan apabila dikatakan kepada mereka : "Janganlah berbuat kerusakan di bumi ! 'Mereka menjawab ' Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari." (QS. 2: 11-12).

Pernyataan di atas sudah demikian jelasnya, bagaimana luhur, utuh dan sempurnanya nilai-nilai ajaran Islam.

Jadi mereka yang mengaitkan agama ini dengan terorisme, atau dengan sengaja mengatasnamakan terorisme dengan Islam, jelas "kebelinger".

Dengan demikian, segala upaya, dalam bentuk apapun untuk menyangkut-pautkan Islam dengan terorisme, sungguh merupakan kebohongan besar. Sama sekali tidak layak untuk ditolerir.

Wanita bercadar ditangkap polisi
Wanita bercadar ditangkap polisi (kolasesripoku.com)
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved