Islam Terorisme
Islam Terorisme ? Ah, Mustahil!
Terorisme berasal dari kata teror --secara etimologis berarti usaha menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman
Islam Terorisme ? Ah, Mustahil!
Prof. Dr. H. Jalaluddin
Mantan Rektor IAIN (UIN) Raden Fatah Palembang
Terorisme berasal dari kata teror, yang secara etimologis berarti usaha menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan.
Sedangkan terorisme berarti penggunaan kekerasan atau menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan, terutama tujuan politik ; praktik tindakan teror (KBBI, 2012 :1454-1455).
Smith dan Jungman menyebut terorisme adalah tindakan yang dengan sengaja menggunakan atau mengancam menggunakan kekerasan terhadap sipil atau sasaran sipil untuk mencapai tujuan politik (Hasnan Habib, 2002).
Keduanya menekankan pada cara, sasaran, dan tujuan.
Tidak pada subjeknya. Hal ini memberi kesan, bahwa terorisme dapat dilakukan oleh siapa saja.
Adapun yang penting, didalamnya termuat indikasi berupa perbuatan sengaja (direncanakan, sistematik, dan terorganisasi), penggunaan kekerasan (ancaman langsung), sasaran (sipil, non-militer), dan tujuannya terkait dengan kepen tingan politik.
Jadi terorisme sama sekali tidak terkait dengan agama. Agama apapun.
Namun ironisnya, akhir-akhir ini terus seakan-akan mulai dikembangkan suara bernada "miring" untuk mengaitkan terorisme dengan gerakan keagamaan.
Adanya hubungan seperti itu dinyatakan oleh seorang pakar strategi keamanan dan terorisme di pusat Analisa
Strategi Internasional (CISA), yakni Prof. Ross Babbage.
Dalam ceramahnya yang The New Terorism : Implications For Asia Pasific Governance di gedung Parlemen Australia di Canberra, 11 Desember 2002, ia menyimpulkan, bahwa terorisme terkait dengan gerakan mi-
noritas Islam Wahabi yang radikal dan akrab dengan kekerasan.
Iapun membagi terorisme menjadi dua kelopok, yakni terorisme lama dan terorisme baru.
Kelompok pertama antara lain : Tentera Merah Jepang, Tentera Republik Irlandia, Macan Pembebasan Tamil (Ealam) di Srilangka, Fron Pembebasan Nasional Moro, dan Kelompok Abu Sayyap di Filipina.
Sedangkan Jama'ah Islamiyah dan Al-Qaeda, ia kelompokkan dalam terorisme baru.
Dalam melakukan operasinya, kelompok terorisme baru ini tidak memerlukan peralatan berat seperti perang konvensional atau jaringan yang berbentuk organisasi, layaknya organisasi militer.
Namun Ross melihat mereka didukung landasan doktrin agama yang dikaitkan dengan perang suci. (Sriwijaya Post, 12 Desember 2002 ).
Pandangan Ross Babbage ini sebenarnya sudah bukan sesuatu yang baru.
Menurut Karel A. Steenbrink, sejak sistem komunis dihancurkan, maka Barat memerlukan kambing hitam baru. Beberapa pihak telah menemukannya dalam fundamentalisme Islam Teroris-teroris dari Timur Tengah, Palestina, Syria, dan Lybia dalam film, pers, dan politik Barat sejak permulaan dijadikan musuh utama dalam budaya Barat.
Islam dicap identik dengan fundamentalis, dan fundamentalis Islam dijadikan musuh yang paling hebat dan dahsyat bagi budaya Barat.
Kecenderungan ini masih diperkuat oleh hukuman mati terhadap Salman Rushdie, berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini pada bulan Maret 1989 (Karel A. Steebrink, 1995 : 222).
Adapun sasaran media massa Barat mula-mula dilekatkan pada Lybia sebagai "sarang teroris" yang diperintah oleh seorang "megalomaniak", dan yang benar atau salah selalu dihubung-hubungkan dengan gerakan pembantu teroris di berbagai pelosok dunia, mulai dari Irlandia Utara hingga ke Filipina Selatan (Juwono Sudarsono, 1993 : 50).
Akhir-akhir ini sorotan terorisme beralih dari Lybia ke Afghanistan dan Irak.
Afghanistan diserang karena dinilai sebagai tempat "penampungan" pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden.
Tokoh "teorisme " internasional ini dituduh terlibat dalam tragedi 11 September 2001, yang menghancurkan gedung World Trade Centre dan merusak gedung Pentagon.
Silang pendapat mengenai terorisme tampaknya memang sulit untuk dihindarkan, karena berbagai tuduhan yang dialamatkan seakan sudah terbakukan dalam persepsi masing-masing.
Titik awal dari terorisme sering dikaitkan dengan fundamentalisme dan radilakisme, khususnya Islam.
Untuk lebih dari dua deekade, baik oleh pemerintah dari negara-negara Muslim maupun oleh Barat "fundamentalisme Islam" telah dan makin lama makin diidentifikasikan sebagai ancaman terhadap mereka.
Keyakinan ini ditumbuhkan oleh pengaruh revolusi Iran, spektrum impor revolusi ke seluruh Dunia Islam, identifikasi Qadhafi, dan Khomeini dengan terorisme seluruh dunia, citra pembunuhan Anwar Sadat oleh kelompok ekstremis Islam, kecaman-kecaman terhadap Barat, dan serangan-serangan oleh kelompok-kelompok bawah tanah di Lebanon dan di mana-mana.
Padahal, lanjut Elposito, perkembangan yang berlangsung pada dekade 90-an telah merontokkan preasumsi dan harapan ini. Tidak ada revolusi dalam gaya Iran yang terjadi.
Juga tidak ada kelompok radikal yang berhasil merampas kekuasaan ( John L. Esposito, 1994 : 230 ).
Memang tampaknya, gerakan terorisme ini terus bertumbuh-kembang termassuk di Indonesia.
Kasus terbaru terjadi di Jakarta, Surabaya, di Medan, maupun di Riau.
Sungguh memprihatinkan.
Mitos-mitos Keagamaan
Agama memiliki peran penting dalam pembentukan sistem nilai (keyakinan) pada individu, maupun masyarakat.
Atas dasar keyakinan terhadap agama, manusia termotivasi untuk melakukan sesuatu, betapapun berat dan sulitnya.
Para penganut agama merasa terpanggil untuk mendistribusikan harta kekayaan bagi kepentingan sosial, membangun rumah-rumah ibadah, atau bahkan mengorbankan nyawa sekalipun.
Keyakinan yang sudah terinternalisasi dalam prinsip hi dup akan menjadikan penganut agama bersedia berkorban.
Sebab agama menawarkan janji-janji kehidupan abadi yang lebih berkualitas bagi para pemeluknya yang setia, termasuk bagi para martyr (mati syahid ).
Pada tingkat pemahaman yang seperti itu pula, lazimnya gagasan terorisme diselipkan sebagai "gerakan sempalan."
Dalam bukunya Terorisme Berjubah Agama, Ridwan al-Makassary mengungkapkan, bahwa pertalian antara agama dengan terorisme bukan hal yang baru.
Secara etimologis, The Zealot sebagai gerakan perlawanan dari sekte Yahudi terhadap penjajahan Romawi pada tahun 66 dan 73 Masehi, dapat dianggap sebagai gerakan terorisme.
Kemudian gerakan yang hampir serupa dilakukan oleh Muslim Syi'ah antara tahun 1090 dan 1272 Masehi dalam melawan pasukan Salib.
Gerakan yang tak jauh berbeda juga pernah terjadi di India. Pembunuhan ritual terhadap para wartawan sebagai persembahan kepada kali, dewa teror dan penghancur Hindu.
Karenanya dalam pandangan Walter Laquer, sampai abad ke- 19, agama sekedar menjadi justifikasi bagi terorisme ( Ridwan al- Makassary, 2003 : 5-6 ).
Tidak ada satupun agama yang memuat ajaran atau menganjurkan pemeluknya untuk berbuat makar, maupun melakukan kekerasan.
Apalagi sampai melakukan pembunuhan.
Pada intinya ajaran agama mengandung nilai-nilai luhur yang mengacu kepada pembentukan rasa kasih sa-
yang., cinta kasih, sikap saling menghargai, rasa keadilan, serta kerja sama dalam upaya menciptakan kondisi kehidupan yang damai, aman, dan sejahtera.
Namun, dari rangkaian sejarah perkembangannya, adakalanya nilai-nilai esensi tersebut disalahgunakan, sehingga tindakan kekerasan yang dilakukan kelompok tertentu diidentikkan dengan agama yang dinutnya.
Gerakan terorisme tampaknya menjadi bagian dari ekspresi dari kebangkitan komunalisme pada era reformasi, yakni dengan munculny aparta-partai dan organisasi- organisasi massa baru yang mengusung simbol-simbol primordial, seemisal agama, etnik, kelompok, yang disebut Manuel Castells sebagai identitas bersama the ego of authenticity (Ridwan al-Makassary : 20).
Pada tataran ini tampakya ibol-simbol primordial yang "paling laris" serta memiliki " pasar" luas adalah agama.
Agama merupakan sisi kehidupan batin (inner life) dan keyakinan seseorang atau kelompok, terkait dengan sistem nilai yang menjadi anutan.
Nilai, sebagai sesuatu yang dianggap benar dan perlu dipertahankan, terkadang hingga ke pengorbanan nyawa (E. M. K Kaswardi, 1993 ), diyakini mampu membangkitkan solidaritas yang kuat.
Dengan demikian, simbol-simbol agama lebih mudah diperankan sebagai trigger (pemicu) sebuah gerakan massa, apapun bentuknya, termasuk terorisme.
Maka tidak mengherankan bila terorisme dengan mengatasnamakan agama lebih mudah mengundang simpati, ketimbang simbol- simbol primordial lainnya.
Kajian psikologi agama melihat, bahwa terorisme merupakan bagian dari tingkah laku keagamaan yang menyimpang.
Gerakan seperti itu tak lepas dari faktor- faktor kejiwaan yang memengaruhi para pendukung dan pelakunya. Faktor-faktor dimaksud antara lain adalah : pemahaman yang keliru dan otoritas keagamaan.
Pemahaman yang keliru tentang agama, lazimnya dimunculkan oleh mitos keagamaan.
Ajaran agama yang sebenarnya berisi nilai-nilai luhur itu tak jarang "dipasung" oleh tokoh-tokoh atau kelompok tertentu dan dimanipulasi ke dalam
mitos. Tindakan yang bersifat manipulatif ini menjadikan ajaran agama kehilangan nilai-nilai luhurnya.
Pada tingkat tertentu, alam pikiran mitologis cenderung anti sejarah dan anti peradaban modern.
Realitas yang ada dipan dang semu, maya, imitasi, dan tidak sempurna dari arketipe (model, pola ) yang ada di alam surgawi. Selanjutnya pemikiran mitologis ini memunculkan dua bentuk paradoksal.
Pertama, radikalisme-eskapis (menghindar diri dari kenyataan), berusaha mele paskan kehidupan dunia, hidup bertapa, membebaskan diri dari berbagai kehidupan duniawi yang dianggap racun dan bersifat maya.
Kedua, radikalisme-teologis, membangun komunitas eksklusif (khusus, terpisah dari yang lain) yang memiliki sikap fanatisme.
Sia papun atau golongan manapun yang dinilai berbeda faham dalam masalah keagamaan dianggap "musuh".
Islam sebagai agama samawi, secara etimologis memuat sejumlah derivasi (kata turunan), antara lain :
1) Aslama, yang berarti menyerahkan diri, taat, tunduk, dan patuh sepenuhnya;
2) Salima, berarti selamat, sejahtera, sentosa, bersih, dan bebas dari cacat/cela;
3) Salam, berarti damai, aman dan tenteram, dan
4) Sullam, yang artinya tangga (alat bantu untuk naik ke atas), berkonotasi dengan peningkatan kualitas diri.
Berdasarkan pengertian etimologis ini, maka secara garis besarnya Islam mengandung makna penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. yang dibuktikan dengan sikap taat, tunduk, dan patuh sepenuhnya kepada ketentuanNya, guna terwujudnya suatu kondisi kehidupan yang damai, aman, terteram, dan berkualitas.
Menurut Muhammad Abu Zahrah, sasaran hukum Islam (syari'ah) ada tiga.
Pertama, ialah penyucian jiwa.
Kedua, menegakkan keadilan dalam masyarakat Islam.
Ketiga, kemashlahatan. Kemashlahatan merupakan puncak dari hukum Islam.
Kemashlahatan diwujudkan melalui hukum yang mengacu kepada pemeliharaan lima hal, yakni : memelihara agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan (Muhammad Abu Zahrah, 2008 : 543-548).
Jadi kata kuncinya adalah "pemeliharaan". Bukan "perusakan".
Pemeliharaan tidak hanya terbatas pada hubungan antara manusia, melainkan juga menyangkut hubungan dengan alam sekitar.
Pemeliharaan alam sekitarnya adalah bagian dari amanah kekhalifahan manusia.
Tugas yang diamanatkan kepada manusia sebagai khalifah, adalah untuk memakmurkan atau membangun bumi ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh yang menugaskannya, yaitu Allah (M. Quraish Shihab,1992 :172). Kawasan pemeliharaan itu sendiritercakup di dalamnya flora (tumbuh-tumbuhan) dan fauna (hewan), serta sumber daya alam lainnya (udara, tanah, air). Dalam konteks tugas kekhalifahan ini pula, dalam kemasan Hadits Qudsi, Rasul Allah SAW. memesankan : "Kasih-sayangilah segala yang ada di bu-mi, maka yang di langit akan mengasih-sayangimu."(HR.Bukhari) Lagi-lagi "pemeliharaan":.
Bukan "perusakan." Bila dicermati dadianalogikan dengan menggunakan akal sehat (common sense), sulit untuk menemukan hubungan antara terorisme dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Doktrin terorisme dalam segala bentuknya sama sekali sangat bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama samawi ini. Bahkan menodai agama yang telah mendapat ridha dari Allah Swt. (QS. 5 : 3).
Namun ironisnya, manusia sering "terjebak" pada yang sebaliknya.
Para pelaku yang terlibat dalam terorisme ini, tampaknya terjebak dalam perangkap doktrin “mitos- mitos “ keagamaan.
Mereka ini biasanya memiliki latar belakang kehidupan tercederai secara psikologis.
Bisa dari kalangan masyarakat yang merasa terindas atau merasa diperlakukan kurang adil.
Ataupun juga dari kalangan yang merasa terbebankan oleh kumpulan dosa.
Dalam kondisi psikologis yang labil seperti itu, mereka mudah tersugesti.
Momentum seperti itu pula yang biasanya dimanfaatkan oleh "tokoh siluman" yang muncul dengan mendakwahkan diri sebagai "sosok penyelamat," yang dalam konsep messianisme dikenal sebagai "Ratu Adil,"
Konsep messianisme ini pula yang kemudian dijadikan icon (cita-cita batin) dari masyarakat atau kelompok yang "merasa" termarjinalisasi ini.
Dalam kondisi yang demikian, mereka merasa senasib sepenanggungan, hingga doktrin yang bersumber dari mitos- mitos keagamaan yang didakwahkan oleh sang tokoh "dilahap" begitu saja.
Tanpa pertimbangan.
Pokoknya "selalu benar." Manakala kondisi yang sedemikian itu sudah tercipta, maka segala bentuk "kebencian" terus bermunculan. Dikatakan oleh pepatah, bahwa "dengan mata yang ridha, segala yang buruk terlihat baik.
Tetapi dengan mata yang benci, segala kebaikan terlihat buruk. Mereka yang sudah termakan doktrin mitos keagamaan ini, selalu menggunakan pandangan tunggal, yakni dengan menggunakan
"mata"yang benci. "Semua terlihat jelek, buruk, negatif, dan harus dimusuhi. Alam pikiran sudah dikuasai oleh luapan perasaan (emosi), yang oleh pepatah Melayu dinyatakan "ikut rasa binasa". Dalam kondisi yang seperti itu, maka benar dan salah, sudah sulit untuk dibedakan.
Mereka yang terlibat atau sengaja melibatkan diri dengan aktivitas terorisme itu, bukan hanya sekedar buta mata, tetapi juga buta hati.
Mereka yang sama sekali sudah kehilangan hati nuraninya.
Kondisi yang demikian itu sungguh sangat bertolak belakang dengan tuntunan Rasul Allah SAW.
Sebagai sosok teladan satu-satunya bagi kaum Muslimin, Rasul Allah SAW berpesan dalam sabda beliau :"Aku diutus membawa agama yang tidak memberatkan dan banyak memaafkan. (Al-Ghazali, 1986 : 164). Jadi pelaku penganut terorisme jelas sudah salah kaprah.
Mereka lebih memilih sosok teladan selain Rasul Allah SAW. Sayangnya mereka tidak menyadari akan jalan sesat yang mereka lalui.
Semuanya itu terlukis utuh dalam firman Sang Maha Pencipta. Dinyatakan dalam Al- Qur'an : "Dan apabila dikatakan kepada mereka : "Janganlah berbuat kerusakan di bumi ! 'Mereka menjawab ' Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari." (QS. 2: 11-12).
Pernyataan di atas sudah demikian jelasnya, bagaimana luhur, utuh dan sempurnanya nilai-nilai ajaran Islam.
Jadi mereka yang mengaitkan agama ini dengan terorisme, atau dengan sengaja mengatasnamakan terorisme dengan Islam, jelas "kebelinger".
Dengan demikian, segala upaya, dalam bentuk apapun untuk menyangkut-pautkan Islam dengan terorisme, sungguh merupakan kebohongan besar. Sama sekali tidak layak untuk ditolerir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/jalal_20171204_105639.jpg)