Perseteruan Amin Rais vs Ruhut

SBY Minta Pemerintah Jangan Arogan Tanggapi Kritik

Perseteruan pihak Penguasa dengan kelompok Oposisi --meski Indonesia tidak menganut sistem oposisi

Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
kompas.com
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat orasi di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (7/2/2017). 

SBY : Jangan Arogan Tanggapi Kritik

JAKARTA, KOMPAS.com — Perseteruan pihak Penguasa dengan kelompok Oposisi --meski  Indonesia tidak menganut sistem oposisi, semakin memanas antara Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional Amien Rais dan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan

Memanasnya suhu politik  menjelang pilpres 2019 membuat  Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono angkat bicara. SBY yang juga Ketua Umum Partai Demokrat meminta kedua tokoh tersebut berdamai dan menyelesaikan persoalan dengan kekeluargaan.
“Kedua-duanya ini adalah sahabat saya. Saya berharap masalah ini bisa diselesaikan dengan baik," kata SBY seperti dikutip dari siaran pers resmi Partai Demokrat, Rabu (21/3/2018).

Menurut SBY, pemerintah tak boleh anti terhadap kritik.

Baca Juga : Kritikan Amien Rais Untuk Rasa Keadilan

Apalagi, jika kritikan itu disampaikan dengan baik dan didukung data yang konkret.

“Itu tak boleh dihalang-halangi. Hak rakyat untuk mengkritik pemerintahnya jika dianggap belum menjalankan tugas dengan benar. Pemerintah tak boleh alergi dengan hal ini,” ujar SBY.
Meski begitu, SBY juga berharap Amien lebih berhati-hati dalam menyampaikan kritik.

Sebagai tokoh senior, hendaknya mantan Ketua MPR itu lebih bijak sehingga tidak menimbulkan kegaduhan.

"Kritik kepada pemerintah boleh saja asal tidak fitnah. Pemerintah juga jangan cepat marah kalau ada kritik dari rakyatnya,” kata Ketua Umum Partai Demokrat itu.

Di sisi lain, SBY juga berharap pemerintah mengurangi penyampaian statement publik yang bernada ancaman.

Menurut dia, kekuasaan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk melindungi dan mengayomi.

“Pemerintah tak perlu arogan dalam menanggapi kritik. Negeri ini dibangun bukan untuk menjadi negara kekuasaan. Karena itu, kedaulatan berada di tangan rakyat. Namun, rakyat juga tak boleh absolut,” ujarnya.

SBY mengatakan, selama 10 tahun menjabat presiden RI, ia sering mendapat kritikan yang jauh lebih keras dibandingkan dengan saat ini.

Meski begitu, pemerintahannya tak jatuh di tengah jalan. Ia meletakkan jabatan tepat pada waktunya.

“Namun, entah kenapa yang dulu keras mengkritik saya itu malah sekarang lebih banyak diam,” ucap SBY.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved