Restoran Mewahnya Didatangi Pria Tua, Pramusaji ini Malah Mengusir, Besoknya Kena Karma

Kalimat ini berarti kita tidak dapat menggunakan penampilan luar seseorang untuk menilai kebajikan orang itu.

Net
Ilustrasi. 

Karena ternyata direktur itu adalah petani tua yang kemarin diusirnya.

===

Setelah itu, Ani dipecat.

Dia sempat mengatakan bahwa dia menyesali perbuatannya, namun semuanya sudah terlambat.

Semua orang sudah tahu sifat aslinya dan memang tidak mungkin ada yang bisa membantunya, tidak mungkin ada yang berani membantah direktur.

===

Setelah membaca cerita ini, mungkin banyak dari kita akan mendapatkan satu pelajaran lagi bagi diri kita sendiri, untuk sama sekali tidak menggunakan penampilan untuk menilai seseorang.

Pelajaran dari cerita Konfusius, ”Orang yang tak terlihat, laut yang tak tergoyahkan ” adalah hikmat kuno.

Bahkan Konfusius, seorang filsuf besar dalam sejarah Tiongkok, mengakui bahwa dia telah membuat kesalahan dan kemudian belajar dari kesalahan itu.

Dalam buku “Korean eater – display” dicatat bahwa Konfusius memiliki 3000 orang murid, termasuk seorang pria bernama Tzu Chi Wu, seorang jenderal.

Untuk alasan ini, Konfusius mengatakan bahwa muridnya yang satu ini tidak sama, karena dia bisa menjadi jenderal.

Jadi dia memperlakukannya dengan berbeda dan cara mengajar untuk murid satu inipun berbeda.

Tapi setelah beberapa waktu, Konfusius berubah pikiran, dan menyadari kesalahannya sebagai seorang guru.

===

Di antara murid-muridnya, ada juga seorang pria bernama Zu Du.

Pada awalnya, karena dia sangat pandai sekali berbicara dan bicaranya juga baik sekali, Konfusius mengatakan bahwa orang ini sangat cerdas dan baik.

Namun kemudian, Konfusius menemukan bahwa kecerdasan berbicaranya dengan kecerdasannya di aspek lain tidak sesuai.

Pengalaman Konfusius mengatakan bahwa jika kita hanya menggunakan apa yang tampak di permukaan untuk menilai orang lain sebagai baik atau buruk, kita akan membuat kesalahan dan akhirnya malah tidak mampu mengenali potensi sesungguhnya dari orang tersebut.

Jika kita hanya mengandalkan kehandalan berbicara sebagai patokan untuk menilai kecerdasan orang lain, maka kita pasti akan salah menilai orang lain.

Kecerdasan sesungguhnya dari orang tersebut tidak akan pernah kita kenali. (latifah/rp)

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved