Sekelumit Kisah Alexis, Misteri Bungkus Kondom, Surga Dunia hingga Pengakuan Iwan Fals Pernah
Salah satunya, penutupan Hotel dan griya pijat di Hotel Alexis sebagai salah satu janji keduanya saat masa-masa pilkada.
Penulis: Candra Okta Della | Editor: Candra Okta Della
"Di sini Rp 150 ribu baru biaya masuk, tapi sepuasnya mau bersantai di ruangan lounge, berendam di kolam, steam hingga sauna. Kalau butuh terapis ada tambahan biaya Rp 180 ribu per jam belum termasuk makan dan minum yang cukup mahal."
"Di sini air mineral botol seharga Rp 40 ribu, tidak boleh bawa makanan dari luar," ujar karyawan yang tidak mau disebutkan namanya tersebut.
Di lounge itu pengunjung bisa bersantai di balai dan kursi yang sangat nyaman atau berendam di tiga jenis kolan rendam berbeda, ada yang panas dan dingin. Sementara itu pihak Alexis juga menyiapkan sebanyak 18 kamar reguler dan 8 suite untuk pelayanan spa. Harganya pun bervariasi, untuk kamar reguler dibanderol Rp 300 ribu sementara suite Rp 400 ribu.
"Perbedaannya ada pada keberadaan bathtub. Itu semua di luar biaya menginap di kamar hotel dengan tarif layanan bintang empat Rp 1,35 juta per malam," terangnya.
Ia pun menyanggah bila ada layanan seks komersial yang diberikan dalam griya pijat dan spa tersebut.
"Tidak ada itu, ada terapis perempuan dan laki-laki sesuai dengan pelanggan," tegasnya.
Hotel Alexis dan semua bidang usaha seperti griya pijat dan spa, restoran, diskotek, karaoke, dan hotel resmi dihentikan operasionalnya hari ini lantaran tidak diperpanjang izinnya oleh Pemprov DKI Jakarta.
Pihak Hotel Alexis mengaku sudah mengajukan perpanjangan sejak Juli 2017 namun belum juga disetujui hingga kini.
Disebut Raja Hiburan Malam
Keberadaan Hotel Alexis sering disebut banyak orang sebagai raja dunia malam.
Dari beberapa sumber, dunia malam di ibukota memiliki tiga raja yang berkuasa.
Group Malio, Ismaya Group dan Group Alexis.
Ketiganya memiliki tempat-tempat yang menyediakan wisata malam bagi pelancong ibu kota untuk menghilangkan penat bekerja.