Breaking News

sejarah

Veteran Waterloo yang Buat Tuanku Imam Bonjol Tak Berkutik

Perang Paderi yang terjadi di Ranah Minang sukar dikalahkan Belanda karena di waktu bersamaan di Jawa juga ada perlawanan Diponegoro.

Tayang:
Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
Andreas Victor Michiels. FOTO/nederlandsekrijgsmacht.nl 

Dia menjadi panglima tentara Belanda di Bali.

Menurut catatan buku Gedenkschrift Koninklijk Nederlandsche Indische Leger 1830-1950 (1990), setidaknya tiga kali KNIL mengirimkan ekspedisi-ekspedisi militernya ke Bali di masa Perang Bali. Tepatnya pada 1846, 1948, dan 1849.

Menurut catatan RP Suyono dalam Peperangan Kerajaan di Nusantara (2003), perang ini bermula dari dirampoknya kapal Belanda oleh orang-orang Bali dalam hukum tawan karang. Kemudian, permintaan ganti rugi sebesar 300 ribu gulden yang dituntut pemerintah Belanda ditolak raja Bali. Ekspedisi ke Bali pun dikirim.

KNIL setidaknya pernah mengerahkan 19 Batalyon Infanteri, 8 Squadran Kavaleri, dan 15 Arteleri Meriam lapangan.

Ditambah pasukan Gunung dan 6 kompi pasukan Zeni.

Pasukan-pasukan itu datang bergelombang.

Namun, akhirnya Michiels terbunuh oleh laskar-laskar Bali pada 25 Mei 1849 di Kusamba.

Nama Michiels cukup dikenal oleh pemerintah kolonial.

Di Padang pernah ada taman yang dinamai dengan namanya disertai monumen untuknya.

Letaknya di sekitar Museum Adityawarman, kota Padang.

Di Sumatera Barat, rekan-rekan tempur dan atasannya bahkan menjadi nama Benteng yang kemudian berubah jadi nama kota.

Hendrik Merkus de Kock diabadikan jadi nama benteng Fort de Kock (kini Bukittinggi); Frans David Cochius diabadikan jadi Fort Cochius (Bonjol); Cornelis Pieter Jacob jadi Fort Elout (Penyabungan).

Di Museum Taman Prasasti, Jakarta juga terdapat prasasti dalam batu nisan bertulis: “Jenderal Mayor AV Michiels, Balie, 23 May 1849.” Prasasti serupa dibuat untuk mengenang Jenderal J.H.R. Kohler yang terbunuh di depan Masjid Raya Aceh.

Selain di Bali dan Sumatera Barat, Michiels juga berperan dalam mengalahkan Pangeran Diponegoro.

Pada “11 November 1829, Diponegoro nyaris tertangkap di Pegunungan Gowong oleh pasukan gerak cepat ke-11 yang dikomandani Mayor AV Michiels,” tulis Peter Carey dalam Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro, 1785-1855 (2014).

Pada 25 Maret 1830 sampai 29 Ramadhan 1830 jelang lebaran, Michiels juga jadi bagian tindak “tidak terpuji, tidak ksatria dan curang” dari Jenderal Merkus de Kock. Mayor A.V. Michels, bersama Letnan Kolonel du Perron, diperintahkan mengamankan penangkapan sang pangeran jika ia datang.  Akhirnya, sang Pangeran pun tertangkap kala lebaran.

Menurut Encyclopedie van Nederlandsch-Indië - Volume 2 (1918), perwira kelahiran Maastricht, Belanda, 30 April 1797 ini sudah masuk militer sejak ia berumur 17 tahun.

Dia adalah anak dari pengacara J. Michiels dan A. Gillis. Pangkat pertamanya letnan dua.

Pertempuran penting yang pernah diikuti oleh Michiels adalah Waterloo pada 1815.

Baca: Meletusnya Gunung Tambora dan Akibatnya terhadap Dunia

Setelah Napoleon kalah, tahun 1817, dia dikapalkan Jawa sebagai letnan satu.

Dia kemudian ikut serta dalam menumpas perlawanan di Cirebon.

Kariernya pun menanjak sangat cepat. Tak butuh waktu lama untuknya menjadi kapten.

Ketika Perang Jawa berkobar, dia sudah berpangkat mayor.

Perang Jawa adalah debut penting dalam karier militer veteran Waterloo yang gemilang di Sumatera Barat dan akhirnya mampus di Bali itu.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved