sejarah
Veteran Waterloo yang Buat Tuanku Imam Bonjol Tak Berkutik
Perang Paderi yang terjadi di Ranah Minang sukar dikalahkan Belanda karena di waktu bersamaan di Jawa juga ada perlawanan Diponegoro.
Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
Melihat perbuatan tentara Belanda yang demikian, yaitu masjid pun mereka tembaki, bertambah mendidihlah darah rakyat dan mau berperang sampai mati.”
Seperti pernah divirakan tirto.id Pada bulan Juli 1837 itu pula, jabatan Komandan Tentara di Sumatera Barat pun berpindah dari Letnan Kolonel Cleerens ke tangan Letnan Kolonel Andries Victor Michiels. Nama yang disebut terakhir baru datang dari Jawa.
Cleerens, Cochius, dan Michiels adalah veteran Perang Jawa.
Michiels “memutuskan sendiri untuk meneruskan perang dan menjelang Agustus 1837 memuncak sampai pendudukan Benteng Paderi yang terakhir, yaitu Bonjol..” tulis Elizabeth Graves, Asal Usul Elite Minangkabau Modern (2007).
“Suatu malam kira-kira pukul tiga, sedang orang kampung nyenyak tidur, datanglah satu pasukan Tentara Belanda dengan diam-diam ke dalam benteng Bonjol,” kata buku Tuanku Imam Bondjol: Perintis Djalan Ke Kemerdekaan.
Anak dan istri Imam Bonjol hendak dihampiri serdadu-serdadu itu.
Belum sempat jadi tawanan, Mahmud, salah seorang anak melawan dan yang lain akhirnya terluka. Jeritannya pun membangunkan Imam Bonjol yang sebelum terlelap.
Sang imam mengambil pedang lalu ia bersama Umar Ali, anaknya yang lain, berlari menuju tempat anak dan istrinya yang diganggu.
Serdadu-serdadu Belanda menyambut Imam Bonjol dan Umar Ali dengan tambakan senapan.
Sebuah pelor mengenai rusuk Umar Ali. Selanjutnya, Imam Bonjol bertempur layaknya orang mengamuk dengan pedangnya.
Dalam kepungan serdadu-serdadu itu, dia kena tusuk bayonet.
Pertempuran itu terhenti, serdadu-serdadu Belanda menghilang, Imam Bonjol lalu diamankan pengikutnya.
“Ada 13 luka pada badan beliau dan banyak mengeluarkan darah,” tulis buku Tuanku Imam Bondjol: Perintis Djalan Ke Kemerdekaan itu.
Esok paginya, sekitar pukul lima, serdadu-serdadu Belanda muncul lagi dan disambut orang-orang kampung hingga pecah pertempuran.
“Perempuan-perempuan turun mempermainkan senjata untuk mengusir musuh itu.”
Pertempuran terjadi hingga pukul dua belas siang, ketika serdadu-serdadu Belanda itu kemudian kabur lagi ke luar benteng pengikut Imam Bonjol itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/victor_20170821_162800.jpg)