Ketika Mantan TKI Mengejar Mimpi

Pemimpi Jadi Guru itu Boyong Penghargaan Bergensi .

Tidak sedikit teman-temannya yang terjebak menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) selama puluhan tahun bahkan tidak tidak dapat kembali ke tanah air.

Editor: Salman Rasyidin
Estu Suryowati/KOMPAS.com
di Hongkong yang menjadi inspirasi, Jakarta, Rabu (17/5/2017). Heni baru saja menyabet penghargaan sebagai Anak Muda Berpengaruh di Bawah 30 Tahun dari majalah Forbes. 

Pada tahun pertama, Heni juga tidak bisa mengambil hak libur, pun ketika hari Minggu ataupun tanggal merah. Kalau sampai libur, maka gajinya akan dipotong lagi 100 HKD. Kesusahannya sebagai seorang TKI tak berhenti hanya sampai urusan dengan agen nakal. Majikan pertama Heni yang mengontraknya selama dua tahun, sangat merendahkan profesi asisten rumah tangga. Ceritanya waktu itu, Heni yang memang suka membaca, tengah membaca sebuah buku.

"Dia sampai ngomel-ngomel. 'Eh, kamu lagi ngapain di sini? Kamu lagi baca buku, ya? Kalau pembantu itu enggak usah lah bisa baca buku. Pembantu itu yang penting kamu bisa jaga anak, bisa masak, bisa bersihin rumah, selesai'. Begitu majikan aku bilang dengan nada sinis," kata Heni.

Setelah setahun, yang artinya sudah bisa mengambil libur pada akhir pekan, Heni mengisi liburannya dengan pergi ke perpustakaan dan kuliah D3 jurusan IT tanpa sepengetahuan majikannya. Heni tak membayangkan apa yang akan terjadi jika majikannya tahu ia kuliah. Beruntung, majikan kedua yang mengontraknya selama empat tahun cukup baik. Heni kala itu juga melanjutkan studi di Saint Mary's University jurusan manajemen wirausaha. Heni akhirnya berhasil menuntaskan studi S1-nya selama 3,5 tahun.

Untuk membiayai kuliahnya, Heni menjadi kontributor di banyak koran Hongkong dan Taiwan yang berbahasa Indonesia. Ia juga sering mengikuti lomba penulisan. Dari situ uangnya cukup untuk membiayai biaya kuliah. Sementara sebagian besar gajinya dikirimkan pada ibu dan neneknya di Ciamis. Terjebak jadi TKI Setelah kontraknya habis dan lulus sarjana, Heni kembali ke Indonesia pada 2011.

Aktivitas Heni banyak diisi dengan menjadi pembicara mengenai isu-isu TKI dan inspirasi. Di tahun berikutnya, Heni menikah dengan Aditia Ginantaka, dan hingga saat ini dirinya aktif di yayasan yang didirikannya bersama suami. Cita-cita menjadi guru, tentu saja diraihnya. Bahkan, Heni juga menjadi dosen di Universitas Djuanda.

Kini, Heni juga tengah menyelesaikan tesis dari program pascasarjana yang ia ambil di Bumiputera School of Business. Meski sudah kembali dan sukses mencapai cita-citanya, ia tak lupa akan teman-teman TKI-nya dan segala permasalahan pelik yang dihadapi para pahlawan devisa. Memang, selama enam tahun di Hongkong Heni tak hanya merasakan sendiri bagaimana menjadi seorang TKI, namun juga menuliskannya menjadi buku dan berbagai publikasi di media massa.

Menariknya, banyak orang tak mengerti apa masalah para TKI, khususnya di Hongkong, selain pemalsuan data yang dilakukan oleh agen dan pemotongan gaji yang tidak sesuai kontrak. "Masalahnya TKI lainnya, kadang-kadang teman-teman itu lupa tujuan awalnya ke Hongkong apa," kata Heni. "Misal, tujuannya mengumpulkan modal untuk kembali ke Indonesia, tetapi bahkan ada beberapa orang yang sampai 20-30 tahun masih bekerja di Hongkong dan dia sulit mengatur uang, sehingga enggak pulang-pulang," katanya lagi.

Dalam pandangannya, kelalaian ini tidak hanya karena faktor dalam diri TKI itu sendiri. Lingkungan di Hongkong juga membentuk gaya hidup mereka, menjadi tidak bisa mengelola keuangan dengan baik. "Jadi, aku sedih sih. Kalau aku kan menjadikan TKI sebagai jembatan untuk meraih cita-citaku yang lebih besar. Tetapi, teman-teman ini justru menjadikan TKI sebagai tujuan," ucap Heni.

Ia berprinsip, hidup itu bukan hanya soal mengumpulkan pundi-pundi. Bukan hanya soal enam hari bekerja dan satu hari libur. Bukan hanya soal membantu menyelesaikan pekerjaan orang lain. "Bahwa dalam hidup kita harus punya impian. Kalau kita enggak punya impian, maka orang lain akan meng-hire kita untuk membantu mewujudkan mimpi mereka. Terus kita (jadi) apa?" pungkasnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved