Eksklusif: Rumah Baghi Lahat Diincar Kolektor, Papan Dihargai Rp 4,5 Juta

Rumah yang disebut sebagai ghumah baghi atau rumah baghi (rumah tua) berada di beberapa kecamatan.

Tayang:
Editor: Darwin Sepriansyah
SRIPOKU.COM/EHDI AMIN
Salah satu rumah baghi (rumah tua) di Kabupaten Lahat yang masih berdiri hingga saat ini. Namun keberadaan rumah tradisional khas Lahat itu kini terancam karena dimakan waktu. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Selain memiliki sejumlah megalitik (batu besar/monumen kuno) berusianya ribuan tahun, Kabupaten Lahat juga memiliki sejumlah rumah tradisional yang berusia ratusan tahun.

Rumah yang disebut sebagai ghumah baghi atau rumah baghi (rumah tua) berada di beberapa kecamatan.

Baca: Pria Tunawisma ini Menolak Saat Diminta Pergi dari Toko. Lihat Apa yang dilakukan Polisi Padanya

Rumah panggung yang kaya ornamen ukiran/pahat kuno itu, beberapa diantaranya masih berdiri dan berada di delapan dari 22 kecamatan di Lahat, yakni di Kecamatan Kota Agung, Mulak Ulu, Tanjung
Tebat, Tanjung Sakti Pumu, Tanjung Sakti Pumi, Jarai, Muara Payang dan Pajar Bulan. Dahulunya delapan kecamatan ini dikenal dengan nama Besemah Padang Libagh dan secara kultur adat istiadat sama dengan masyarakat Pagaralam yang disebut Besemah, yang dahulunya bagian dari Lahat.

Keberadaan rumah baghi di delapan kecamatan ini tersebar di desa-desa seperti di Kecamatan Kota Agung, terlihat ada di Desa Bangke, Mulak Ulu dan salah satunya terdapat di Desa Gramat.

Baca: Berniat Bunuh Istri dan Anaknya, Pesan Pembunuhan Pria ini Justru Nyasar ke Sosok ini

Sayangnya, hingga kini tidak ada data resmi berapa jumlah rumah baghi di delapan kecamatan tersebut yang masih tegak berdiri. Namun dari penuturan warga setempat, diperkirakan jumlahnya berkisar ratusan unit.

Saat Sripo mengunjungi beberapa rumah, kondisinya memprihatinkan tergambar pada sejumlah bangunan. Sebagian rumah yang rata rata usianya di atas ratusan tahun ini, banyak yang sudah lapuk.
Bahkan beberapa diantaranya tak terurus dan terpinggirkan diantara rumah-rumah warga dengan desain yang lebih modern.

Tak seperti rumah modern saat ini, rumah baghi kian terpingirkan. Maklum saja, desainnya yang klasik tidak menarik warga untuk mencontohnya saat membangun. Jika merenovasi, tanpa sadar
keaslian rumah tersebut hilang. Tak ayal, keberadaannya kini terancam punah dan tinggal jadi kenangan.

Baca: Rindu Mario Teguh yang Dulu, Kiswinar Unggah Foto yang Buat Haru Netizen

Buruan Kolektor
Selain itu aksi-aksi kolektor barang-barang kuno atau anti yang mengincar rumah baghi juga menambah daftar ancaman eksistensi rumah tua itu. Kolektor sengaja menawarkan harga tinggi untuk bagian-bagian rumah baghi tersebut yang menyebabkan pemilik tidak bergeming dan menjual rumah warisan leluhur itu.

Di Desa Gramat, Kecamatan Mulak Ulu, Kabupaten Lahat, Sripo mendapatkan informasi dulunya ada belasan unit rumah baghi. Namun seiring perjalanan waktu, selain rusak ternyata pemilik rumah
menjual ke kolektor.

Baca: Tertidur Usai Berhubungan Badan Berkali-Kali, Wanita Ini Alami Hal Mengejutkan Saat Terbangun

Hal ini diakui Kepala Desa Gramat, Sapuan. Menurutnya, beberapa rumah baghi di desanya sudah dibeli kolektor. Bahkan, jual beli baru saja terjadi sekitar dua bulan yang lalu.

"Mereka pindahkan bangunan rumah yang umumnya bongkar pasang (knock down) dengan sistem pasak kayu itu, entah kemana," katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved