Selama Mengobati Anaknya, Mega Terpaksa Jual Kebun Karet

Diakuinya, selama mengobati anaknya, berulang-ulang di RS Bunda dan RSMH, pasangan suami istri ini, terpaksa menjual kebun karet.

Selama Mengobati Anaknya, Mega Terpaksa Jual Kebun Karet
TRIBUNSUMSEL/ARI WIBOWO
Mega‎ sedang menggendong Putri, yang menderita jantung bocor.

SRIPOKU.COM, PALI - Putri, bocah berumur tiga tahun enam bulan yang didiagnosa oleh dokter mengalami klep jantung bocor (katup jantung bocor) didatangi petugas Puskesmas Tempirai. Senin (6/2) pagi.

Buah hati pasangan Sirih dan Mega, warga Desa Tempirai Utara, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten PALI.
Direncanakan Hari Selasa Putri(7/2) dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Talang Ubi, Pendopo, untuk meminta surat rujukan ke RSMH, Palembang, dan selanjutnya meminta rujukan ke RS Harapan, di Jakarta yang dikenal RS Jantung.

Mega, ibu Putri mengatakan kondisi anak perempuannya berbeda dari anak-anak pada umur sebayanya, di mana pertumbuhan lambat, dan belum bisa berjalan. Selain itu, jika Putri banyak bergerak maka sesak napas.

"Anakku (Putri) belum bisa berjalan, kalau banyak bergerak napas jadi sesak," kata Mega sedih, Senin (6/2).

Sejak umur satu tahun dua bulan, kondisi kesehatan Putri tidak stabil dan sering sakit-sakit. Lanjut Mega, umur tiga tahun empat bulan dibawa ke RSMH diagnosa dokter anak mengalami bocor jantung.

Diakuinya, selama mengobati anaknya, berulang-ulang di RS Bunda dan RSMH, pasangan suami istri ini, terpaksa menjual kebun karet untuk biaya pengobatan.

Namun, setelah anaknya disarankan agar berobat ke RS Jantung, di Jakarta. Keduanya terpaksa pulang ke kampung halamannya karena keterbatasan biaya.

"Waktu itu, kami mengobati Putri ke RS menggunakan dana pribadi, dan jual kebun mengobati anakku, dengan harapan agar bisa sembuh, tapi setelh disuruh ke Jakarta (RS Jantung) uang kami tidak cukup lagi, dan kami rawat di rumah," jelas Mega.

Ditambahkan, Sirih yang sehari-harinya berkerja sebagai buruh serabutan tidak ada uang lagi untuk mengobati penyakit anaknya.

"Uang yang dulu (jual kebun) habis, untuk berobat, jadi untuk berobat ke RS di Jakarta, tidak ada biaya lagi," keluh Siri, yang mengaku bekerja serabutan dengan upah Rp 50 ribu sampai 80 ribu perhari.

Halaman
12
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved