Sekayu, Kampung Bersejarah di Kota Semarang
MEMILIKI masjid kuno At Taqwa, Sekayu adalah kampung bersejarah di Kota Semarang, Jawa Tengah. Masjid berarsitektur Jawa ini memiliki saka (tiang) tun
Di Bustaman, gang-gang terasa sempit, hanya cukup untuk pejalan kaki dan pesepeda. Rumah-rumah warga berimpitan. Bahkan, Gang Gedung Sepuluh yang terdiri atas 10 rumah dihuni lebih dari 100 jiwa.
Padahal, rumah di gang ini rata-rata berukuran 25 meter persegi. Sulit membayangkan satu rumah menampung 10-12 orang selama bertahun-tahun.
Gang-gang sempit itu digunakan pula untuk aktivitas warga memasak, duduk ngobrol, atau orang membersihkan sepeda motornya.
Salah satu warga Bustaman, Sugiono (44), antusias menunjukkan kepada pengunjung potongan kayu jati bekas tiang listrik yang dibangun Belanda pada 1936.
Tiang itu awalnya berdiri di tengah gang sehingga dibongkar dan sisa potongan dimanfaatkan sebagai penanda kampung. Bustaman juga dikenal sebagai Kampung Kambing, mengacu pada kelihaian warga mengolah dan memasak daging kambing.
Ada pula sumur tua warga yang tidak pernah surut atau keruh airnya meski kawasan Kampung Bustaman sebenarnya daerah langganan banjir rob.
”Air sumur di musim kemarau pun tetap agung (penuh) dan jernih. Jika menjelang Ramadhan, ada tradisi gabyuran (perang air) diikuti warga, tua dan muda, juga pengunjung yang turut serta,” ujar Sugiono.
Di Bustaman inilah Kota Semarang memiliki kekayaan kuliner. Selain berdagang, warga Bustaman sudah lama dikenal sebagai pusat penyediaan hewan kurban serta penjual gulai bustaman. Ini tiada lain berkat tangan dingin Ki Bustam, pendiri kampung ini sejak 1814.
Tengok Bustaman
Pegiat pelestarian Kampung Bustaman, Hari Bustaman (63), menuturkan, sejak 2015, warga sudah menetapkan tradisi Bustaman sebagai kegiatan wisata.
Nama kegiatan itu Tengok Bustaman, yang berlangsung selama sepekan. Pada Tengok Bustaman, pengunjung dapat mengikuti tradisi gabyuran, menikmati kuliner gulai bustaman, dan menyaksikan tradisi tari.
”Dengan menjadi kampung wisata, kesadaran warga melestarikan kampung makin bergairah. Kampung tidak lagi kumuh, kotor, dan kesannya tidak terawat. Kalau banyak tamu pengunjung, warga terus berbenah,” kata Hari.
Di Kota Semarang, ada pula Kampung Kauman, yang berkembang seiring dengan berdirinya Masjid Besar Kauman semasa Ki Ageng Pandan Arang pada awal abad ke-15 Masehi. Dalam sejarahnya, Kauman merupakan kampung otonomi. Mayoritas mereka yang tinggal adalah warga keturunan Arab.
Kauman tidak hanya menjadi pusat budaya Islam, tetapi telah menjadi simbol pusat perdagangan maju. Di Kauman terdapat Pasar Johar yang legendaris dengan struktur tiang pasar berbentuk cendana karya arsitek Belanda, Thomas Karsten.
Kauman juga melahirkan tradisi dudgeran yang kini masih terus dilestarikan sebagai penanda awal puasa Ramadhan. ”Kauman sudah lama menjadi kampung yang memadukan konsep sosio-religi berbasis ekonomi,” ujar tokoh masyarakat setempat, M Tachsin (40).
Kauman, terutama di sepanjang Jalan Kauman, juga merupakan pusat bisnis untuk kebutuhan oleh-oleh perjalanan haji, pusat perkulakan perangkat tempat ibadah, seperti karpet, sajadah, dan pusat perdagangan atribut militer dan satuan pengamanan (satpam).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/jalan-sekayu-semarang_20161121_104532.jpg)