Tito Sejak Kecil Jenius Hingga Menjadi Jenderal Berprestasi

Dia menjalaninya dengan penuh perjuangan. Ketabahan, kecerdasan, dan dengan semangat juang tinggilah membuat dia mencapai semuanya.

Penulis: Damayanti Pratiwi | Editor: Hendra Kusuma
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Komjen Pol Tito Karnavian 

Ahmad menuturkan tentang masa kecil Tito yang menurutnya termasuk anak yang cuek dan acuh pada omongan banyak orang. Selama 12 tahun bersekolah, ia tak pernah menggunakan kendaraan pribadi karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak terlalu baik.

Namun, Tito yang lahir pada 26 Oktober 1964 tergolong anak yang pandai di bidang akademik. Tito pun pergi ke sekolah tidak pernah membawa buku, karena malam sebelumnya telah mempelajari semua isi buku.

Bahkan, ketika lulus dari SMA Negeri 2 Palembang dan akan melanjutkan pendidikannya, berhasil lulus di sejumlah instansi pendidikan bergengsi. Selain lulus Akabri, ia juga lulus di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada, dan STAN.

"Kami bukan keluarga yang mewah, pas tahun 1987 Tito mau ke Magelang, saya cuma bisa kasih dia uang Rp 12 ribu untuk modal dia disana. Cuma uang itu yang saya berikan selama ia menjalani pendidikan empat tahun lamanya, tidak pernah saya beri lagi, karena memang tidak punya," ungkapnya terlihat terharu.

Tito yang sejak Maret lalu menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia itupun memang berotak encer. Terbukti, ia merupakan lulusan terbaik di angkatannya dan mendapat penghargaan Adhi Makayasa yang diserahkan langsung oleh mantan Presiden Soeharto.

Ahmad Saleh pun menuturkan, terakhir kali bertemu dengan Tito sebelum bulan Ramadan, ketika putra keduanya tersebut menjenguk dirinya di rumah sakit. "Hanya sebentar karena memang ia tak bisa lama meninggalkan tugasnya. Tetapi, dia selalu tanya kabar saya dari telepon," ucapnya.

Suka cita atas capaian yang diraih Tito, juga disampaikan oleh ibunda Tito, Hj Kordiah. Meski tidak tinggal bersama Tito kecil, ia mengaku bersyukur mengetahui sang anak akan menjadi calon kuat Kapolri.

Ia pun mengingat-ingat jika di masa kecil Tito merupakan anak pemurah. "Paling baik sama orang, kalau ada uang pasti ia bagi-bagikan ke temannya," tuturnya.

Awalnya, Kordiah yang merupakan bidan, berharap Tito menjadi seorang dokter. Apalagi, ketika menjalani tes, buah hatinya itu berhasil lulus.

Sayangnya, Tito justru lebih memiliki untuk melanjutkan pendidikannya ke Akabri. "Alasan dia karena gratis, kan Akabri dibiayai negara. Jadi tidak menyusahkan orangtua karena biaya kuliah yang mahal," ucapnya.

Iapun berpesan pada sang putra jika nantinya berhasil terpilih menjadi Kapolri.

"Kalau jadi Kapolri, harus jujur. Karena itu kan asal muasal menjadi pemimpin yang baik, Tito harus terus jujur ya," katanya yang saat ini tinggal di Jl Pangeran Sido Ing Kenayan Kelurahan Karang Anyar Kecamatan Gandus, terpisah dari ayahanda Tito.

Sumber:
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved