Tito Sejak Kecil Jenius Hingga Menjadi Jenderal Berprestasi

Dia menjalaninya dengan penuh perjuangan. Ketabahan, kecerdasan, dan dengan semangat juang tinggilah membuat dia mencapai semuanya.

Penulis: Damayanti Pratiwi | Editor: Hendra Kusuma
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Komjen Pol Tito Karnavian 

SRIPOKU.COM-Siapa Komisaris Jenderal Polisi Tito Karnavian? perjuangannya mencapai level puncak di Kepolisian RI tidak serta merta didapatkan dengan mudah. Dia menjalaninya dengan penuh perjuangan. Ketabahan, kecerdasan, dan dengan semangat juang tinggilah yang membuatnya mencapai semuanya.

Tidak mudah memang, kini Tito menjadi satu-satu calon Kapolri yang sudah mendapatkan dukungan dari DPR RI dan Presiden Jokowi. Masuknya nama Tito memang sudah sejak awal diprediksi, namun sempat ditolak Jenderal Bintang Tiga asal Palembang ini.

Tentang sosoknya semasa kecil, bisa kita dengarkan langsung dari sang ayah Ahmad Saleh yang merupakan wartawan senior di Palembang.

Seperti dilansir dari kompas.com, masuknya nama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror Komjen (Pol) Tito Karnavian rupanya sudah lama diperbincangkan menjadi Kepala Polri.

Namun, Tito sempat menolak diberi jabatan orang nomor satu di Korps Bhayangkara. Hal ini diungkap Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.

Saat Presiden Joko Widodo meminta masukan soal calon Kapolri dari internal Polri, Badrodin Haiti kemudian memaparkan nama-nama yang berprospek menjadi Kapolri. Salah satunya Tito.

Hal ini diungkapkan Badrodin bawah Presiden tertarik dengan prestasi Tito di Polri, khususnya dalam menangani tindak pidana luar biasa.

Penolakan ini menurut Badrodin membuat melancarkan komunikasi personal kepada Tito. Saat itulah, Tito menyampaikan penolakannya.

"Dalam pembicaraan kami dengan Pak Tito, Pak Tito bilang masih ingin konsentrasi menangani terorisme," ujar Badrodin.

Memang Tito merupakan angkatan muda, dia membuat banyak prestasi dan melakukan loncatan karir luar biasa. Makanya, Sebagai Kapolri, Badrodin paham itu.

Penolakan itu lebih dikarenakan angkatan Tito yang terbilang masih muda untuk dijadikan sebagai pucuk pimpinan Polri."Maksudnya dia itu, kita mengertilah," ujar Badrodin.

Orang nomor satu di Polri ini pun mengungkapkan bahwa nama Tito sempat tidak masuk yang diusulkan, karena dalam sidang dewan kepangkatan dan jabatan tinggi, hanya mengusulkan tiga nama sebagai Kapolri, yakni Komjen Budi Gunawan, Komjen Budi Waseso dan Komjen Dwi Priyatno. Namun, hal ini yang membuat Presiden tetap kukuh mengusulkan nama Tito untuk menggantikan Badrodin sebagai Kapolri ke DPR RI dan disetujui."Ya saya senang-senang saja," ujar Badrodin.

Inilah Prestasi Tito yang Membuat Jokowi Tertarik

Seperti penelurusan dan berdasarkan dokumentasi Sripo dan Kompas, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Tito Karnavian disebut telah ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai calon tunggal kapolri.

Penggantian kapolri menyusul purnatugas Jenderal (Pol) Badrodin Haiti yang memasuki usia pensiun.

Tito baru dilantik Jokowi sebagai Kepala BNPT pada 16 Maret 2016. Pangkat Tito pun baru dinaikkan menjadi bintang tiga pada 12 April 2016.

Berselang dua bulan, Ketua DPR RI Ade Komarudin menyebut Jokowi menyerahkan nama Tito ke DPR untuk dilakukan uji kelayakan dan kepatutan.

Sebelumnya Tito menjabat sebagai Kepala Polda Metro Jaya sejak 12 Juni 2015. Karier Tito terbilang melesat cepat berkat prestasi yang dicapainya.

Tahun 2001, Tito memimpin tim Kobra dan berhasil menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, putra Presiden pertama RI Soeharto, dalam kasus pembunuhan hakim agung Syafiuddin Kartasasmita.

Semasa berkiprah di kepolisian, ia berpengalaman di bidang terorisme. Banyak prestasi yang ia peroleh setelah memimpin tim Densus 88 Polda Metro Jaya.

Salah satunya adalah penangkapan teroris Azahari Husin dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur, pada 2005. Selain itu, ia juga membongkar jaringan teroris pimpinan Noordin M Top tahun 2009.

Setelah itu, ia diangkat menjadi Kepala Densus 88 Antiteror. Ia hanya memimpin unit tersebut selama setahun, kemudian dimutasi menjadi Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT.

Dari BNPT, Tito bertolak ke Papua dan memimpin Polda Papua selama dua tahun. Kemudian ia kembali ke Jakarta dan dipercaya sebagai Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kapolri. Setelah itu, barulah dia dimutasi menjadi Kapolda Metro Jaya.

Karier gemilang Tito bisa dilihat dari kesuksesannya semasa sekolah. Tito merupakan lulusan terbaik Akpol tahun 1987 dengan menerima penghargaan Adhi Makayasa.

Setelah itu, Tito menyelesaikan pendidikan di University of Exeter di Inggris tahun 1993 dan meraih gelar MA dalam bidang Police Studies.

Ia pun melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta tahun 1996 dan meraih gelar S-1 dalam bidang Ilmu Kepolisian.

Di PTIK, ia kembali menjadi lulusan terbaik dan mendapatkan Bintang Wiyata Cendekia.

Cuek Tapi Peduli dan Cerdas
Sementara seperti diungkapkan Ahmad Saleh ayah kandung Komjen Pol Tito, bahwa Tito adalah sosok yang jenius dan peduli, serta berjiwa pemimpin sejak kecil.

Ahmad Saleh terlihat cerah, meski baru saja menjalani rawat inap beberapa waktu lalu. Ayah kandung dari Komjen Pol Drs HM Tito Karnavian MA PhD tersebut pun tampak bersemangat ketika mengetahui kabar jika anaknya menjadi calon tunggal Kapolri yang diajukan oleh Presiden Joko Widodo.

Ia pun mengaku senang karena putranya tersebut berhasil membanggakan keluarganya. "Kami berpesan jika Tito dapat menjalankan amanat yang diberikan nantinya sebaik mungkin," ungkapnya dijumpai di kediamannya di Jl Sambu nomor 36 Ilir Barat I Palembang, Rabu (15/6/2016).

Ahmad menuturkan tentang masa kecil Tito yang menurutnya termasuk anak yang cuek dan acuh pada omongan banyak orang. Selama 12 tahun bersekolah, ia tak pernah menggunakan kendaraan pribadi karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak terlalu baik.

Namun, Tito yang lahir pada 26 Oktober 1964 tergolong anak yang pandai di bidang akademik. Tito pun pergi ke sekolah tidak pernah membawa buku, karena malam sebelumnya telah mempelajari semua isi buku.

Bahkan, ketika lulus dari SMA Negeri 2 Palembang dan akan melanjutkan pendidikannya, berhasil lulus di sejumlah instansi pendidikan bergengsi. Selain lulus Akabri, ia juga lulus di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada, dan STAN.

"Kami bukan keluarga yang mewah, pas tahun 1987 Tito mau ke Magelang, saya cuma bisa kasih dia uang Rp 12 ribu untuk modal dia disana. Cuma uang itu yang saya berikan selama ia menjalani pendidikan empat tahun lamanya, tidak pernah saya beri lagi, karena memang tidak punya," ungkapnya terlihat terharu.

Tito yang sejak Maret lalu menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia itupun memang berotak encer. Terbukti, ia merupakan lulusan terbaik di angkatannya dan mendapat penghargaan Adhi Makayasa yang diserahkan langsung oleh mantan Presiden Soeharto.

Ahmad Saleh pun menuturkan, terakhir kali bertemu dengan Tito sebelum bulan Ramadan, ketika putra keduanya tersebut menjenguk dirinya di rumah sakit. "Hanya sebentar karena memang ia tak bisa lama meninggalkan tugasnya. Tetapi, dia selalu tanya kabar saya dari telepon," ucapnya.

Suka cita atas capaian yang diraih Tito, juga disampaikan oleh ibunda Tito, Hj Kordiah. Meski tidak tinggal bersama Tito kecil, ia mengaku bersyukur mengetahui sang anak akan menjadi calon kuat Kapolri.

Ia pun mengingat-ingat jika di masa kecil Tito merupakan anak pemurah. "Paling baik sama orang, kalau ada uang pasti ia bagi-bagikan ke temannya," tuturnya.

Awalnya, Kordiah yang merupakan bidan, berharap Tito menjadi seorang dokter. Apalagi, ketika menjalani tes, buah hatinya itu berhasil lulus.

Sayangnya, Tito justru lebih memiliki untuk melanjutkan pendidikannya ke Akabri. "Alasan dia karena gratis, kan Akabri dibiayai negara. Jadi tidak menyusahkan orangtua karena biaya kuliah yang mahal," ucapnya.

Iapun berpesan pada sang putra jika nantinya berhasil terpilih menjadi Kapolri.

"Kalau jadi Kapolri, harus jujur. Karena itu kan asal muasal menjadi pemimpin yang baik, Tito harus terus jujur ya," katanya yang saat ini tinggal di Jl Pangeran Sido Ing Kenayan Kelurahan Karang Anyar Kecamatan Gandus, terpisah dari ayahanda Tito.

Sumber:
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved