Suka Duka Penambang Sumur Minyak Tua

Mereka Siap Mati Demi Emas Hitam

Para penambang sumur minyak tua, tahu persis, jika terjadi ledakan, maut bisa menjemput mereka.

Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/FAJERI RAMADHONI
Beberapa orang tengah beraktivitas pengambilan minyak pada salah satu sumur minyak tua di Kabupaten Muba, Provinsi Sumsel. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Resiko yang dihadapi memang tidak main-main. Nyawa menjadi taruhannya. Para penambang sumur minyak tua, tahu persis, jika terjadi ledakan, maut bisa menjemput mereka.

Namun, mereka sadar asap dapur harus terus mengepul. Mereka siap mati demi menghidup anak istri. Ratusan warga Kabupaten Muba tepatnya di Kecamatan Sangga Desa, Desa Keban, Kecamatan Babat Toman, Desa Sungai Angit, Kecamatan Lawang Wetan, Desa Rantau Panjang, Kecamatan Sekayu, Desa Talang Piase dan beberapa lokasi lain, terus menjalani hidup menjadi penambang emas hitam.

Dengan pendapatan apa adanya, sumur minyak peninggalan Hindia Belanda, dari generasi ke generasi, mereka kelola. Bahkan, kini mereka mulai berpikir bagaimana mengebor sendiri di saat sumur bor tua tidak lagi mengeluarkan minyak.

Kucingan-kucingan dengan aparat telah menjadi makanan mereka sehari-hari. Apalagi bahaya minyak yang sewaktu-waktu bisa meledak seperti bom waktu bagi penambang minyak. Mereka belajar dengan alam, belajar secara otodidak dan secara turun temurun. Tak ada lagi malam atau siang bagi penambang minyak, hanya berfikir bagaimana bisa mendapatkan uang dengan 'molot' (mengambil minyak dari sumur bor dengan pipa yang disebut canting) atau 'menyaring' (mengambil minyak dengan jarit yang kemudian diperas ke dalam ember). Tuntutan perut di saat karet yang menjadi komoditas utama hancur, menjadi penambang minyak adalah satu-satunya pilihan.

Pantauan Sripoku.com, di Desa Keban Kecamatan Sanga Desa, ratusan sumur bor minyak tradisional tersebar disetiap tempat. Kawasan yang semula hamparan kebun karet ini kini berubah jadi tempat dengan aroma minyak yang menyengat. Kiri kanan jalan dengan kepulan asap hitam tak berhenti menandakan emas hitam dari sumur telah disuling menjadi minyak siap jual.

Alpian, warga Keban yang berprofesi sebagai pemolot mengakui, ia bersama rekan-rekannya terkadang tak ingat lagi waktu. Di saat sumur baru memancarkan banyak minyak, mereka seakan berlomba dengan waktu memolot minyak sebanyak mungkin. Dengan upah satu drum minyak Rp 30 ribu, mereka harus bergegas mengisi pundi-pundi rupiah, karena jika tidak cepat minyak akan menyurut dan pendapatan otomatis berkurang.

"Yah sehari-hari tinggal disini. Anak istri di dusun. Seminggu sekali pulang kadang pulang kadang tidak. Di rumah juga lama-lama tidak ada kerjaan. Lebih baik disini, meski dalam hutan tapi dapat uang. Walau makan seadanya, siang ganti malam, malam ganti siang yang penting dapat uang," ungkap Pian dengan pakaian penuh bekas minyak hitam.

Bahkan dirinya rela bermalam di lokasi tersebut untuk menarik minyak terus-menerus. Apabila tidak dipolot otomatis penghasilan yang didapat jauh berkurang. Sedangkan untuk tidur, ia tidur pada sebuah gubuk kecil yang telah dimodifikasi dengan sedemikian rupa, ditambah dengan sound system sederhana untuk mengusir kesunyian malam, karena tempat sumur minyak yang ia polot berada di atas tebing.

"Kedalaman lubang ini sekitar 250 sampai 300 meter, biasanya dalam satu lubang sumur ini habisnya sampai setengah tahun bahkan lebih tergantung dari kondisi minyaknya. Biasanya kalau lubang tersebut sudah tidak ada lagi minyaknya, gas yang ditimbulkan tidak pekat seperti pertama kali dibuat serta tercampurnya air pada minyak," ungkapnya.

Diceritakan Alpian, minyak mentah yang berhasil diangkat dari sumur kemudian dialirkan ke tempat penampungan untuk menjalani proses pemisahan dari campuran air yang ikut terangkat, secara manual. Setelah terpisah dari air, kemudian minyak mentah tersebut dialirkan ke penampungan, dibeli oleh penyuling. Atau selanjutnya untuk kemudian disuling sendiri oleh pekerja lain menjadi bahan bakar yang siap dijual. Proses yang terbilang sangat berbahaya ini pun dilakukan secara sederhana tanpa menggunakan peralatan pengaman apapun.

Dalam sehari, rata-rata hasil sulingan minyak mentah yang telah berubah menjadi bensin, solar dan minyak tanah tersebut bisa mencapai satu tangki atau setara dengan 1.500-3.500 liter untuk
satu tauke.

Namun menurut Alpian tak semua beruntung, terkadang mereka yang mencoba mengebor di lokasi baru hanya mendapatkan air. Dengan ilmu otodidak melihat bekas minyak dan kondisi alam, terkadang malah tempat tersebut tak berminyak.

"Itulah suka dukanya. Berkelompok membuka bor baru misalnya, satu bor perlu modal Rp 50 juta. Jadi kami patungan. Nah disaat berhasil kami bisa balik modal. Tapi, di saat tidak ada minyak, pipa bengkok di dalam, atau 'canting' (wadah memolot minyak) tersangkut. Disitu kami berduka. Apalagi, kadang uang modal itu hasil hutang tetangga atau jual kebun," ucap Pian lirih.

Sama dengan beberapa petani karet, sawit dan padi lainnya, Yani seorang penambang ilegal juga mengutarakan, "Ya, mau bagaimana lagi dik. Harga karet dan sawit saat ini turun jauh sekali, bahkan harga terendah mencapai Rp 6.000 ribu perkilogram, itu juga berbeda-beda di setiap tauke yang membuka lapak. Kalau dengan harga begitu kami cukup mau beli apa, mau beli beras saja susah sedangkan beras saja 1 Kg harganya Rp 7.000 ribu," kata Yani, salah satu penambang ketika dibincangi di lokasi penambangan di Keban I.

Yani menambahkan, walau berprofesi sebagai penambang ini sangat penuh resiko dirinya mau tidak mau harus melakoni pekerjaan tersebut. Tujuannya demi membuat dapur rumah tangganya terus berasap dan menghidupi anak bini, meski nyawa terancam. Memang bahaya ledakan dan semburan minyak selalu mengintai, karena tidak jarang sudah banyak korban akibat ledakkan sumur seperti ini.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved