'Singa Padang Pasir' Itu pun Menangis, Pukulan Bagi Pecinta Dunia

kisah kehidupan Rasulullah bersama sahabat terdekatnya, Umar bin Khattab, yang dikenal sebagai sosok yang sangat tegas, keras dan pemberani.

Penulis: Darwin Sepriansyah | Editor: Darwin Sepriansyah
net
ilustrasi 

Demikianlah Muhammad menjauhkan diri dari kehidupan dunia, padahal dia adalah seorang nabi dan rasul yang bisa saja meminta kepada Allah sebagai seorang yang kaya sebagaimana Allah telah berikan kekayaan kepada Nabi Daud as, Nabi Sulaiman, dan Nabi Ayub as.

Ustadz Satria, Muwajjih Rumah Dakwah Indonesia, pun menyampaikan sebuah kisah kehidupan Rasulullah bersama sahabat terdekatnya, Umar bin Khattab, yang dikenal sebagai sosok yang sangat tegas, keras dan pemberani.

Dikatakan, dari Ibnu Mas'ud RadhiAllahu 'anhu, Umar berkata:

"Suatu ketika aku melihat Rasulullah tertidur di atas selembar tikar kasar yang terbuat dari pelepah kurma, ketika bangkit dari tidurnya, tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh Beliau, kemudian Umar bin Khattab mendekati Rasulullah dan duduk di dekatnya sambil mengeluarkan air matanya.

Rasulullah kemudian bertanya kepada Sayyidina Umar,

"Mengapa Engkau menangis, wahai Umar?"

Umar bin Khattab menjawab,

“Bagaimana aku tidak menangis, wahai Rasulullah... Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal engkau ini Nabi Allah dan kekasih-NYA, kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini... Sedangkan Kaisar Kisra dan Kaisar Romawi duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera...

Wahai Rasulullah... seandainya boleh kami siapkan untukmu tempat tidur yang empuk.”

Beliau pun menjawab,

"Wahai Umar... Mereka itu telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga di dunia, sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir, kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir Akhirat kita, hal apa yang harus aku cintai di dunia ini? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengembara yang sedang berpergian, mencari tempat berteduh di bawah pohon, lalu beristirahat sejenak, kemudian pergi meninggalkannya."
(Hadits Riwayat At-Tirmidzi).

Ustadz Satria mengatakan, hadits di atas, sungguh indah perumpamaan Rasulullah, akan hubungan Beliau dengan dunia ini.

Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara, hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.

"Semoga tangisan kita bukan sandiwara, atau sekedar galau karena cinta dunia. Semoga tangis hari-hari Kita senantiasa berharga mulia di sisi Allah. Aaminn," 

Halaman 2/2
Tags
Islam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved