'Singa Padang Pasir' Itu pun Menangis, Pukulan Bagi Pecinta Dunia
kisah kehidupan Rasulullah bersama sahabat terdekatnya, Umar bin Khattab, yang dikenal sebagai sosok yang sangat tegas, keras dan pemberani.
Penulis: Darwin Sepriansyah | Editor: Darwin Sepriansyah
SRIPOKU.COM -- Kehidupan di dunia hanya sebatas persinggahan. Kita tida akan selamanya berada di dunia.
Namun seiring dengan bergulirnya waktu yang panjang terkadang membuat lupa mereka sang pelakon peran dunia.
Tidak heran jika Rasulullah pun memberikan contoh dan teladan bagi umatnya agar tidak terlalu cinta dengan perihal kehidupan di dunia.
Dalam kesehariannya, Rasulullan adalah seorang yang sangat sederhana dan berusaha menjauhkan diri dari kehidupan dunia.
Padahal beliau adalah seseorang Pedagang yang sukses, yang selalu mendapatkan keuntungan besar, sehingga membuat seorang wanita kaya, dan sekaligus adalah tuannya, yaitu Khadijah menjadi senang, lantaran dagangannya selalu habis terjual.
Bukan itu saja Khadijah pun mulai tertarik kepada pemuda ini (Muhammad) yang saat itu baru berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah adalah seorang janda kaya raya yang terpaut umur 15 tahun lebih tua dari Muhammad bin Abdullah.
Dan diapun adalah seorang pedagang yang terbilang sukses dan terpandang dikalangan bangsawan Arab pada saat itu, mereka pun menikah.
Namun dibalik itu Muhammad juga adalah seorang yang menyebut dirinya adalah utusan Allah, ia diutus untuk menyebarkan agama Islam kepada seluruh manusia.
Dengan demikian Khadijah sebagai istri Muhammad merelakan seluruh hartanya untuk membantu dakwah Muhammad dalam menyebarkan Risalah Allah ini.
Sebagai seorang yang sukses dalam berdagang, Muhammad tetap saja hidup miskin dan bahkan ketika Khadijah wafat, beliau mengalami masa- masa sulit dalam kehidupannya sehari- hari dan sering berpuasa karena tidak ada sedikitpun makanan yang tersedia dirumahnya.
Padahal beliau adalah seorang pedagang yang terbilang sukses.
Sejak beliau diangkat oleh Allah sebagai Rasul, harta yang tadinya ia miliki bersama Khadijah habis tak tersisa, ia korban semua hartanya untuk berdakwah, menolong orang-orang fakir dan miskin dan selalu memberi makan anak-anak yatim, sehingga apa yang dia punya habis untuk dibelanjakan ke jalan Allah.
Kemiskinannya membuat salah satu gunung Hud prihatin dan merasa kasihan terhadap Muhammad, dengan berkata:
"Wahai Muhammad, sesungguhnya aku bisa merubah diriku menjadi emas atas izin Allah !"
Tetapi Muhammad menolak, karena ia tidak cinta kepada dunia. "Cinta dunia awal dari kejahatan".
Demikianlah Muhammad menjauhkan diri dari kehidupan dunia, padahal dia adalah seorang nabi dan rasul yang bisa saja meminta kepada Allah sebagai seorang yang kaya sebagaimana Allah telah berikan kekayaan kepada Nabi Daud as, Nabi Sulaiman, dan Nabi Ayub as.
Ustadz Satria, Muwajjih Rumah Dakwah Indonesia, pun menyampaikan sebuah kisah kehidupan Rasulullah bersama sahabat terdekatnya, Umar bin Khattab, yang dikenal sebagai sosok yang sangat tegas, keras dan pemberani.
Dikatakan, dari Ibnu Mas'ud RadhiAllahu 'anhu, Umar berkata:
"Suatu ketika aku melihat Rasulullah tertidur di atas selembar tikar kasar yang terbuat dari pelepah kurma, ketika bangkit dari tidurnya, tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh Beliau, kemudian Umar bin Khattab mendekati Rasulullah dan duduk di dekatnya sambil mengeluarkan air matanya.
Rasulullah kemudian bertanya kepada Sayyidina Umar,
"Mengapa Engkau menangis, wahai Umar?"
Umar bin Khattab menjawab,
“Bagaimana aku tidak menangis, wahai Rasulullah... Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal engkau ini Nabi Allah dan kekasih-NYA, kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini... Sedangkan Kaisar Kisra dan Kaisar Romawi duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera...
Wahai Rasulullah... seandainya boleh kami siapkan untukmu tempat tidur yang empuk.”
Beliau pun menjawab,
"Wahai Umar... Mereka itu telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga di dunia, sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir, kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir Akhirat kita, hal apa yang harus aku cintai di dunia ini? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengembara yang sedang berpergian, mencari tempat berteduh di bawah pohon, lalu beristirahat sejenak, kemudian pergi meninggalkannya."
(Hadits Riwayat At-Tirmidzi).
Ustadz Satria mengatakan, hadits di atas, sungguh indah perumpamaan Rasulullah, akan hubungan Beliau dengan dunia ini.
Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara, hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.
"Semoga tangisan kita bukan sandiwara, atau sekedar galau karena cinta dunia. Semoga tangis hari-hari Kita senantiasa berharga mulia di sisi Allah. Aaminn,"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/cinta-dunia_20151003_140449.jpg)