Ini Sepenggal Kisah Pemburu Batu Mustika dari Palembang
Batu Mustika merupakan batu yang berasal dari alam dan tercipta dari kuasa Tuhan Yang Maha Besar.
Penulis: wartawan | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Pada era sekarang, masyarakat menggemari batu nusantara sebagai perhiasan. Mulai dari batu akik atau batu permata/mulia yang sudah sangat lazim digemari oleh masyarakat Indonesia. Tetapi ada satu jenis batu yang sangat istimewa namun jarang diketahui atau dimiliki oleh masyarakat, yakni adalah Batu Mustika.
Batu Mustika merupakan batu yang berasal dari alam dan tercipta dari kuasa Tuhan Yang Maha Besar. Terbentuk dari proses alamiah dan mengandung berbagai macam unsur seperti tumbuhan, binatang, tanah, air, api, udara dan unsur mineral lainnya.
Di kota Palembang ini ternyata terdapat sang ahli mustika yang memiliki ratusan mustika yang menjadi kepemilikannya. Sang ahli mustika di Palembang adalah seorang laki-laki setengah baya yang bernama Pakde “DG” (nama disamarkan). Kegemaran Pakde DG dalam mengoleksi batu mustika diwariskan oleh sang kakek yang berprofesi sebagai pedagang batu permata. Semenjak umur 22 tahun pakde DG mulai mengenal batu mustika berupa akik panca warna.
Setelah menikah di umur 24 tahun, Pakde DG semakin mendalami dunia batu mustika dan mengenali semua batu yang dikoleksinya beserta fungsi dan manfaatnya masing-masing. Hal itu semakin diperjelas oleh sang istri melalui mimpinya yang menjumpai si pemilik asal batu permata secara gaib. Sejak saat itu, Pakde DG mulai banyak mendapatkan berbagai macam batu mustika/kemala dengan berbagai sebab. Baik yang datang sendiri ataupun dijemput setelah mendapatkan petunjuk secara gaib. Hingga kini, sudah ratusan batu dari berbagai jenis yang menjadi koleksinya, bahkan batu-batu yang umurnya sudah ratusan tahun.
Batu Mustika yang dimiliki Pakde DG diantaranya merupakan batu yang sangat langkah di dunia, salah satu batu yang dimiliki pakde DG diantaranya, Diamond Sparta, Blue Diamond, White Diamond, Aquamarine, Blue Sapphire Ocean, Green Saphire, Brown Shaphire, dan Batu Zircon.
Pakde DG mendapatkan batu-batu mustika tersebut dari berbagai macam cara yang unik, seperti diperoleh melalui warisan dari orang tua ataupun leluhur, dan sang batu mustika datang dengan sendirinya melalui sinyal berupa pertanda seperti mimpi atau cahaya (aura) berwarna-warni seperti merah, biru, hijau atau yang lainnya. Petunjuk yang datang akan memberitahukan kapan mustika itu akan muncul dan dimana letak posisinya. Pengambilan juga harus tepat waktu dan menggunakan metode yang tepat sesuai dengan watak batu mustika itu sendiri. Seperti menggunakan pasir, daun pisang, bambu, tangan kosong atau yang lainnya. Karena jika melewati waktu tersebut biasanya batu mustika itu akan hilang dengan sendirinya.
Pakde DG mendapatkannya melalui Hibah dari orang-orang yang membutuhkan uang atau ketidak mampuan dalam merawat batu mustika tersebut. Tentu saja akan dibalas dengan pembayaran mahar yang dianggap wajar.
Batu Mustika yang datang ke Pakde DG yang baik lewat mimpi (pertanda) atau lewat hibah akan selalu dikarantina (netralisasi) dalam waktu yang tidak sama antara batu satu dengan batu yang lainnya. Dengan tujuan untuk menenangkan khodam yang mendiami batu mustika tersebut, supaya bisa selaras dengan sang ahli mustika.
“Setelah dinetralisasi, baru batu mustika tersebut bisa dipertontonkan atau digunakan. Dan setelah batu mustika tersebut dirawat sekian lama, biasanya khodamnya akan menunjukkan jati dirinya melalui mimpi ataupun melalui hal-hal yang tak terduga,” jelas Pakde DG yang sangat tidak mau disbutkan nama aslinya saat diwawancari Sripo, Jumat (6/3/2015).
Pakde sangat menekankan, segala bentuk syirik atau menduakan Allah, bisa melalui benda apa saja yang dianggap menjadi kebanggan bagi si pemiliknya. Misalnya sipemiliknya memiliki baju, tas, handphone, jam tangan sampai yang pada saat ini sering dilakukan masyarakat yaitu memamerkan batu akik ataupun batu mulia yang harganya mencapai jutaan, puluhan, sampai ratusan juta rupiah. Pakde DG berpendapat harusnya semua masyarakat harus menilai batu tersebut bukan dari harganya, melainkan harus menilai dari sebuah kekuasaan Allah SWT yang menciptakan semua yang ada di alam semseta ini dengan keindahan.
“Allah Sangat mencintai keindahan, maka dari itu kita harus bersyukur bisa melihat ataupun menikmati ciptaan Yang Maha Esa tersebut," ujar Pakde DG.