Resensi Buku

Bismillah Aku Berjilbab

Jilbab menandai keutuhan iman, sebagai ekspresi hati dalam menjalani kehidupan.

Editor: Sudarwan

Jilbab bukan lagi menjadi kata yang asing didengar, mengingat belakangan ini wanita muslimah berbondong-bondong untuk mengenakannya.

Jilbab menandai keutuhan iman, sebagai ekspresi hati dalam menjalani kehidupan. Jilbab bukan hanya sekedar pakaian yang berfungsi sebagai penutup aurat, namun kini jauh berkembang fashionable dan trendi, tak ayal cenderung disukai dikalangan remaja metropolitan (hlm. 6).

Jilbab sejatinya adalah ‘body covering’, penutup tubuh (aurat) yang akan melindungi seorang wanita, dari pandangan dan penilaian orang lain, khususnya laki-laki. Bukannya ‘body shaping’, pembalut tubuh yang menampilkan seluruh lekuk liku tubuh seorang wanita, membuat orang menoleh kepadanya.

Namun, tren berpakaian dengan jilbab model ketat sehingga lekuk tubuh masih kelihatan sangat mencolok adalah salah satu contoh fungsi hijab yang kehilangan ruhnya. Padahal, ada nilai lain mampu menjadi karekter kuat alasan jilbab menjadi sesuatu yang patut dipertahankan sesuai syari’at.

Jilbab, bukan hanya sekedar penutup kepala. Tapi adalah kehormatan dan harga diri muslimah. Ya, kehormatan dan harga diri, yang dalam hubungan sosial menjadi hal yang sensitif. Sehingga jika demikian seorang muslimah memberi nilai dan arti pada jilbabnya yang sesuai dengan tatanan agama. Maka tak ada lagi "tawar menawar" syarat menutup aurat dengan berderet alasan logis namun dangkal dan menjerumuskan (hlm. 30).

Buku bertajuk “Bismillah, Aku Berjilbab” ini menyuguhkan sederet keuntungan berjilbab. Praktis, dalam catatan Iqro’ ada tujuh keuntungan; pertama, dengan berjilbab rambut terlindung dari debu, polusi dan sengatan sinar matahari. Kedua, sebagai penanda identitas muslimah.

Ketiga, mendapat penghormatan sebagai seorang muslimah. Keempat, dengan berjilbab membuat wanita lebih anggun dan cantik. Kelima, membuat diri muslimah semakin termotivasi untuk lebih baik dan takwa. Keenam, membentengi dan menjauhkan diri dari lakon dosa. Ketujuh, berjilbab membuat diri semakin terjaga dan istiqamah (hlm.17-18).

Selain itu, buku yang terdiri dari empat bab ini juga mendeskripsikan beberapa kisah inspiratif ihwal lika-liku perjuangan para wanita di penjuru dunia yang akhirnya terketuk memilih berjilbab.

Diantaranya, kisah Amra Babic, seorang wali kota wanita pertama yang berjilbab di seantero Eropa. Wali kota Bosnia itu menjadi pelajaran penting, bahwa berjilbab tak menghalangi karir dan aktivitas bisnis dan politik.

Bagi Amra Babic, jilbab adalah hak asasi dan Eropa—yang selama ini menentang jilbab—lamat-lamat akan paham dan toleran ihwal jilbab sebagai identitas hati muslimah (hlm. 37-39).

Selanjutnya, ada inspirasi dari Hana Tajima Simpson, seorang gadis keturunan Jepang yang tinggal di Amerika. Ia memeluk Islam di usia 17 tahun berkat pertemuan dan diskusinya dengan teman-teman muslim di bangku perkuliahan. Setelah memeluk Islam, Hana langsung tergerak mengenakan hijab, lantaran menutupi auratnya. Hana pun mantap berjilbab mengarungi kehidupan barunya sebagai muslimah, dengan sendirinya ia meninggalkan alkohol, daging haram, dan seks bebas.

Pada akhirnya Hana yang memiliki latar belakang seni dan kemampuan desain, terjun membuat produk fashion bagi para muslimah dengan label “Maysaa” yang kini tersohor di seantero dunia dan mendapat respon positif (hlm.40-46).

Di dalam negeri, ada cerita dari Zaskia Adya Mecca yang memutuskan berjilbab, dan karirnya kian meroket. Istri Hanung Bramantyo ini sejatinya telah lama malang melintang di dunia sinetron dan film Indonesia, namun namanya baru melambung paska mengenakan jilbab tahun 2005.

Baginya, “rezeki itu datang dari arah yang tidak disangka-sangka”, benar saja, sebelumnya banyak yang memroyeksikan karirnya jatuh setelah berjilbab. Namun, faktanya tak sampai setahun karir entertainment-nya justru mengalir berlipat-lipat (hlm.113-117).

Fakta itu, juga dialami sederet artis lainnya; mulai dari Annisa Trihapsari, Cici Tegal, Desy Ratnasari, Zaskia Sungkar, Peggy Melati Sukma dan lainnya, kesemuanya diulas dalam bab ketiga buku ini.

Halaman 1/2
Tags
Jilbab
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved