Satwa Langka di Pagaralam Diburu Warga
Kedua jenis satwa tersebut merupakan satwa yang hanya hidup di kawasan Sumatera dan keberadaannya sudah hampir punah.
Penulis: Wawan Septiawan | Editor: Sudarwan
Kedua jenis satwa tersebut merupakan satwa yang hanya hidup di kawasan Sumatera dan keberadaannya sudah hampir punah.
Namun sayangnya sampai saat ini satwa langka tersebut masih saja diburu warga untuk dijadikan obat dan bahan makanan.
Padahal satwa tersebut sudah sangat dilindungi. Untuk itu tim ekspedisi mengharapkan warga tidak terus memburu satwa tersebut.
Menurut Dansubkorwil Tim Ekspedisi Bukit Barisan Sumsel, Mayor Inf Doni Pramono, tulang kambing hutan dan kepala rusa sambar tersebut ditemukan di kawasan Hutan Pauh Tunggal yang terletak di Dusun Bandar Kelurahan Kance Diwe, Kecamatan Dempo Selatan.
"Kami menemukan tulang kambing hutan dan rusa tersebut di Hutan Pauh Tunggal yang jaraknya sekitar 5 Km dari permukiman warga Dusun Bandar. Kambing hutan dan rusa sambar tersebut diperkirakan mati akibat diburu warga," ujarnya.
Berdasarkan cerita warga setempat kambing hutan dan rusa sambar tersebut merupakan satwa yang sulit ditemukan. Karena untuk dapat menemukan kedua jenis satwa tersebut warga harus melakukan persembahan dengan pemiliknya yang ada di hutan.
"Kita berusaha untuk dapat melihat kedua satwa tersebut dalam keadaan hidup, namun karena warga mengatakan harus melakukan persembahan dan mengirim doa kepada pemiliknya yang ada di hutan maka kami memutuskan untuk tidak ingin melihat langsung," jelasnya.
Selain itu, aktivitas perburuan yang dilakukan warga bukan sekadar untuk menjadikan kambing hutan dan rusa sambar tersebut untuk santapan saja. Namun mereka juga mempercayai bahwa daging kambing hutan dapat dipergunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
"Warga setempat memang sudah jarang menemui kambing hutan tersebut. Karena sudah habis diburu warga untuk diambil semua bagian tubuhnya untuk dijadikan sebagai obat segala penyakit. Hal inilah yang membuat populasi satwa ini semakin berkurang," katanya.
Kambing hutan yang bernama latin Capriconis Sumateraensis tersebut juga diburu untuk diambil tanduknya. Karena menurut warga setempat harga sepasang tanduk kambing hutan tersebut sekitar Rp 700 ribu. Sedangan untuk rusa sambar biasanya kepalanya yang lebih berharga dan biasa dijadikan hiasan dinding yang bernilai cukup tinggi.
Selain akibat diburu berbagai jenis satwa di kawasan Gunung Dempo dan Bukit Barisan di Pagaralam saat ini sudah mulai kehilangan tempat tinggal karena sudah banyak hutan yang dirambah juga dijadikan lahan pertanian. Hal tersebut juga menjadi salah satu faktor penyebab kepunahan populasi tersebut.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kota Pagaralam, Hasan Bahrin, mengatakan, memang sudah banyak kawasan hutan lindung yang merupakan tempat satwa langkah sudah rusak. Hal ini menjadikan ekosistem yang ada di hutan menjadi rusak. Untuk itu pemerintah kota (Pemkot) memprogramkan reboisasi hutan yang sudah rusak.
"Kita sudah melakukan penanaman kembali di kawasan hutan yang sudah rusak. Hal ini merupakan salah satu upaya kita untuk dapat melindungi satwa yang ada di kawasan hutan lindung. Selain itu kita juga telah membuat berbagai peraturan untuk tidak melakukan perburuan terhadap satwa yang dianggap langka," jelasnya.