Berita Muaraenim

Satu KK Beda TPS Hingga tidak Terdaftar Sebagai Pemilih Membuat Warga di Muaraenim Bingung

"Saya sudah cek lewat aplikasi melalui HP, dan ternyata tidak terdaftar. Jadi Pemilu kali ini membuat pemilih banyak bingung," tukasnya.

Satu KK Beda TPS Hingga tidak Terdaftar Sebagai Pemilih Membuat Warga di Muaraenim Bingung
SRIPOKU.COM/ARDANI ZUHRI
Ketua KPU Muaraenim Ahyaudin 

Laporan wartawan sripoku.com, Ardani Zuhri

SRIPOKU.COM, MUARAENIM---Pelaksanaan Pemilu Presiden (Pilpres) dan Pemilu Legeslatif (Pileg) serentak Tahun 2019 kali ini, ternyata masih banyak membuat pemilih bingung.

Pasalnya meskipun masih dalam satu Kepala Keluarga (KK) namun tidak menjamin bisa menyalurkan hak suaranya dalam satu Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Selama pemilihan, baru kali ini, kami dalam satu keluarga memilih beda-beda TPS. Ini sepertinya diacak, jadi membuat masyarakat bingung dan jadi malas. Kenapa tidak seperti dulu saja," ujar H Zainal warga Muaraenim, Senin (15/4/2019).

Menurut Zainal, dengan kondisi saat ini, sebagian masyarakat masih banyak yang bingung untuk menyalurkan hak suaranya. Karena Tempat Pemungutan Suara (TPS) seperti diacak oleh petugas sehingga dalam satu keluarga yang mempunyai hak pilih, TPS nya berbeda beda sehingga menyulitkan bukan mempermudah.

Padahal pada Pilpres dan Pileg tahun 2014 dan Pilkada serentak 2018 yang lalu, satu keluarga tersebut TPS-nya sama.

“Pilkada lalu saya dan istri saya mencoblos di TPS kompek SDN 12 dan SDN 7 Kelurahan Pasar 1 Muaraenim. Tapi pada Pilpres ini, saya mencoblos di TPS komplek SDN 12 sedangkan istri saya mencoblos di daerah Pelawaran, Kelurahan Pasar I,” jelas Zainal dan Aris Musnandar.

Hal senada dikatakan Andi warga Ujan Mas, bahwa ia mempermasalahkan formulir C6 (undangan pencoblosan) yang masih banyak belum diterima oleh pemilih. Sebagai contoh dirinya, ia sudah dapat formulir C6, namun istri dan anaknya belum juga dapat formulir C 6. Memang benar bisa menggunakan KTP el, tetapi kalau tidak ada formulir C-6, maka pemilih yang menggunakan identitas KTP el, tetapi baru diperbolehkan mencoblos pada pukul 12.00-13.00.

"Jika pemilih ada waktu pagi tentu tidak bisa siang dan akan menjadi hambatan,” jelasnya.

Lain lagi menurut Tiara warga Kelurahan Air Lintang, Muaraenim, bahwa Pilpres dan Pilkada sebelumnya ia mencoblos didekat rumahnya di Dek Sangke. Setelah ia menikah dan membuat KK sendiri, malah suaminya sudah dapat formulir C6, sedangkan dirinya tidak dapat dan tidak jelas.

Halaman
123
Penulis: Ardani Zuhri
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved