Berita Palembang

Kampung Kapitan Palembang Pernah Ditawar Pengusaha Kaya Brunei Rp250 M, Begini Kata Ahli Warisnya

Tahun 2012 lalu ada pengusaha kaya dari Brunei Darussalam menawar dengan harga Rp250 M," ungkap Mulyadi Tjoa.

Kampung Kapitan Palembang Pernah Ditawar Pengusaha Kaya Brunei Rp250 M, Begini Kata Ahli Warisnya
SRIPOKU.COM/REIGAN RIANGGA
Mulyadi Tjoa yang merupakan ahli waris keturunan ke-14 Kampung Kapitan Palembang. 

Laporan wartawan sripoku.com, Reigan Riangga 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Kampung Kapitan yang terletak di Kelurahan 7 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I Palembang memiliki sejarah panjang dan kental dengan budaya khas Bumi Sriwijaya.

Nuansa Thionghoa dipadu dengan melayu menjadi pusat peradaban warga Palembang khususnya seberang ulu untuk beraktivitas hingga beribadah dari zaman dahulu.

Dari itu, Kampung Kapitan dengan sejarah panjangnya sekarang dijadikan cagar budaya Kota Palembang dan banyak kegiatan dilaksanakan, misalnya perayaan cap go meh tiap tahunnya.

"Dengan sejarah panjang yang kental budaya Sriwijaya di Palembang, Tahun 2012 lalu ada pengusaha kaya dari Brunei Darussalam menawar dengan harga Rp250 M," ungkap Mulyadi Tjoa yang merupakan ahli waris keturunan 14 Kampung Kapitan pada Sripoku.com, Kamis (15/2/2019).

Menurut dia, meski ditetapkan sebagai cagar budaya pada Tahun 2010 lalu, namun belum ada surat resmi tertulis dari Kementerian Kebudayaan atau pemerintah mengenai Cagar Budaya untuk Kampung Kapitan.

"Surat ini penting, karena kalau tidak ada bukti surat Cagar Budaya kita takutkan akan diperjual belikan kalau saya tidak lagi menjabat sebagai ahli warisnya," jelas dia.

Abdullah Tewas Dilindas Truk Fuso di Jalintim Kayuagung Akibat Terjebak Jalan Rusak Berlobang

Pencuri Dibawah Umur Ini Gasak 9 Buah Gitar dari Toko Garuda di Kota Lahat

300 Pasutri Bakal Ikuti Sidang Itsbat Nikah Gratis

Pada Tahun 1871 awal mula lahirnya Kampung Kapitan Sebelum Dinasti Ming dan Dinasti Ching, Tjoa Ham ling keturunan ke 11 diangkat oleh Residen Belanda menjadi penanggung jawab terhadap rumah leluhur serta rumah ibadah ini.

Meski demikian, kata dia, sejak menjadi ahli waris pada Tahun 2004 lalu menggantikan ayahnya, Tjoa Kok Lym keturunan ke 13, perawatan Kampung Kapitan menjadi tanggungan dirinya sendiri.

"Untuk perawatan Kampung Kapitan dua tahun belakang ada juga dana bantuan dari pemerintah dan kita juga kadang mendapat sumbangan dari orang beribadah dan berkunjung kesini misalnya dari warga Cina," ujarnya.

"Kita menata tata ruang serta memperbaiki rumah yang rusak agar terlihat lebih Indah, sehingga pengunjung atau orang mau beribadah akan lebih ramai," jelasnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Palembang, Isnaini Madani mengatakan, tahun 2019 ini merupakan Tahun kedua diadakannya acara Cap Go Meh yang banyak menggelar lomba, seperti lomba membuat Lampion, Lomba Lagu Mandarin, permainan tradisional serta Dul Muluk.

"Festival Cap Go Meh Kampung Kapitan ini diadakan tanggal 15-22 Februari mendatang, diharapkan ini akan menjadi agenda tiap Tahun di Kota Palembang," ujarnya.(cr2)

Penulis: Reigan Riangga
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved