Berita Palembang

Penderita Penyakit Demam Berdarah Dengue Meningkat di Kota Palembang Terbanyak di Kecamatan Sukarami

Tahun 2018 Penyakit DBD Meningkat di Kota Palembang. Ditemukan 641 Kasus. Kecamatan Sukarami Terbanyak

Penderita Penyakit Demam Berdarah Dengue Meningkat di Kota Palembang Terbanyak di Kecamatan Sukarami
SRIPOKU.COM/EVAN HENDRA
Ilustrasi: Petugas dinas kesehatan saat melakukan fogging untuk mencegah jentik nyamuk demam berdarah. Tahun 2018 Penyakit DBD Meningkat di Kota Palembang. Ditemukan 641 Kasus. Kecamatan Sukarami Terbanyak 

Tahun 2018 Penyakit DBD Meningkat di Kota Palembang. Ditemukan 641 Kasus. Kecamatan Sukarami Terbanyak

Laporan wartawan Sripoku.com, Yandi Triansyah

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kecamatan Sukarami tercatat korban paling banyak di Palembang yang terserang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan total 81 kasus ditemukan.

Secara keseluruhan penderita DBD di Palembang sepanjang tahun 2018 cenderung meningkat mencapai 641 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, dr Letizia, melalui Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M), Yudhi Setiawan, mengatakan, Kecamatan Sukarami mendominasi penyakit yang disebabkan serangan nyamuk aedes aegypti tersebut dengan jumlah kasus 81 orang.

Akhirnya Gisella Anastasia Terpaksa Akui Hal Ini ke Gempita Setelah Gugat Cerai Gading Marten

Kepala BKPSDM Bantah Kabar Bakal Ada Mutasi Jabatan di Lingkungan Kota Palembang Awal Januari 2019

Tak Hanya Bersihkan Bak Mandi, Berikut 4 Cara Cegah Demam Berdarah

"Sepanjang tahun 2018, total kasus mencapai 641 orang yang tersebar di Kota Palembang, sukarami terbanyak dengan 81 kasus, " kata Yudhi, Selasa (8/1/2019).

Yudhi menerangkan, dari total 641 kasus DBD 301 menyerang laki-laki dan sebanyak 340 orang diantaranya perempuan. Dimana, untuk usia yang kerap diserang penyakit mematikan ini adalah usia produktif.

"Berdasarkan data kasus DBD dibagi beberapa kelompok, yakni untuk usia 1 tahun hanya 12 kasus, 1-4 tahun 64 orang, usia 5-14 371 orang, usia 15-44 185 orang dan usia 44 tahun ke atas 9 orang," kata dia.

Untuk mengantisipasi penyakit DBD tersebut, Dinkes terus melalukan sosialisasi terkait penanganan dan antisipasi yang dapat dilakukan masyarakat.

Ketahuan Posting Foto Maia Estianty, Ini Alasan Ahmad Dhani, Diajak Umroh hingga Jadi Duta Yerusalem

Pantes Mahal, Ternyata Ini Alasan Besar Pengusaha Lumajang Rela Bayar Vanessa Angel Rp 80 Juta

Link Live Streaming & Jadwal Thailand Masters 2019 Mulai 8 Januari 2019, Lin Dan Unggulan Teratas

Seperti dengan mensosolisasikan penerapan 3 M (Menguras, Menutup dan Mengubur) karena jentik-jentik tersebut berasal dari genangan air.

"Rumah kosong atau rumah yang tidak berpenghuni banyak menampung air dan nyamuk jenis aedes aegypti ini menyukai tempat yang digenangi air," terangnya.

Penerapan 3 M sambung Yudhi, sangat efektif dalam melakukan pencegahan berkembangnya jentik-jentik nyamuk aedes aegypti.

Selain itu, untuk pemberantasan sarang nyamuk, dilakukan fogging. Namun itu dilakukan apabila dua parameter sudah dilakukan.

Pertama penyelidikan epidemiologi (PE) dengan memeriksa 20 rumah, jika 60 persen ditemukan positif maka dilanjutkan dengan parameter PE kedua yakni jika ditemukan tiga orang terjangkit DBD maka fogging segera dilakukan.

"Fogging adalah langkah terakhir. Lingkungan tidak boleh juga sering di fogging, karena nyamuk nanti akan kebal," kata dia.

Penulis: Yandi Triansyah
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved