Home »

Bisnis

» Makro

Berita Palembang

Dolar Naik Eksportir Karet Untung. Ketua Gapkindo: Pengusaha Tidak Melihat Itu Sebagai Keuntungan

Pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir memberikan keuntungan

Dolar Naik Eksportir Karet Untung. Ketua Gapkindo: Pengusaha Tidak Melihat Itu Sebagai Keuntungan
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Ketua DPD Gapkindo Sumsel, Alex K Eddy 

Laporan wartawan Sripoku.com, Rahmaliyah

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir memberikan keuntungan tersendiri bagi eksportir karet.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Provinsi Sumatera Selatan, Alex K Eddy faktor pelemahan Rupiah ini bagi eksportir sejujurnya menguntungkan tapi pengusaha tidak melihat itu sebagai sebagai suatu keuntungan.

Jika dilihat dari sisi perekonomian nasional, sebab untuk jangka panjang sangat berbahaya dan tak begitu bagus.

"Karena kita jual ekspor menerima Dolar yang kemudian konversi ke Rupiah tentu untung bagi kita, tapi untung jangka panjang tak bagus. Secara tak langsung penguatan Dolar ini bisa mendongkrak harga jual karet dari petani. Oleh karena itulah petani bisa tertolong. Bayangkan saja kalau Dolar 10 ribu, berapa lagi harga di petani bisa gak punya harga," jelasnya, Rabu (5/9/2018) usai kegiatan Diskusi Peningkatan Daya Saing Komoditi Karet dengan Dirjen Bea Cukai Sumatera Bagian Selatan di Arista Hotel.

Menurut Alex, dengan kondisi Dolar sekarang mendatangkan sisi positif dan negatif, sisi positifnya pengusaha bisa membeli karet dari petani dengan harga yang tak terlalu terpuruk.

Sebagai perantara, pihaknya memperkirakan harga beli karet dipabrik sekitar Rp 18 ribu perkilo/Kering atau Rp 9 ribuan perkilo/karet basah.

Alex menambahkan, pihaknya percaya kondisi saat ini (penguatan Dolar) tak akan berlangsung lama dan bisa segera pulih, sebab pemerintah pasti tidak akan tinggal diam.

"Tapi kalau soal harga karet di pasaran itu bukan kendali kita tapi mengikuti harga dunia," ungkapnya.

Dijelaskannya, Sejak awal tahun 2018, harga karet belum menunjukkan perbaikan.

Hingga 5 September 2018 harga karet berada 1,31 USD/Kg, angka ini jauh menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni, sekitar 1,6 USD perkilo.

"Sampai kuartal ini harga masih jelek, langkah perbaikan bisa dilakukan seperti hilirisasi tapi tak hanya soal membangun pabrik ban saja tapi mebel dari karet atau lantai dari karet. Apalagi Sumsel merupakan provinsi yang berkontribusi paling besar karet nasional," ujarnya

Dirinya pun berharap, kurs Rupiah bisa kembali stabil dan harga karet bisa segera membaik sehingga komoditi karet bisa menyumbang devisa negara lebih besar.

Sementara itu, Kepala Kanwil DJBC Sumbagtim, M Aflah Farobi menambahkan, komoditas karet merupakan ekspor nonmigas yang sangat mendominasi untuk diwilayah Sumsel khususnya.

"Bicara soal karet jika Untuk ekspor memang menguntungkan dengan kondisi Kurs Dolar saat ini, tapi bagi impor ini merugikan. Harapannya ada pada stabilitas kurs Rupiah. Bagi rekan-rekan yang punya valuta asing bisa dikonversi ke Rupiah untuk membantu penguatan dan mengurangi belanja barang impor terutama untuk barang konsumsi," tuturnya.

Penulis: Rahmaliyah
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help