Berita Lubuklinggau

Batik Duren Belah Mada Linggau, Sudah Dapat Hak Cipta dari Kemenkum HAM RI Ternyata Ini Filosofinya

Seni sudah menjadi bagian hidup Armada Mandala Simapera. Sejak muda, pria kelahiran 16 Maret 1973 ini sudah menekuni dunia seni, khususnya seni rupa.

Batik Duren Belah Mada Linggau, Sudah Dapat Hak Cipta dari Kemenkum HAM RI Ternyata Ini Filosofinya
SRIPOKU.COM/AHMAD FAROZI
Seniman Lubuklinggau, Armada Mandala Simapera, memerlihatkan kain batik motif duren belah hasil karyanya. Batik motif duren belah ini sudah mendapatkan hak cipta dari Kementerian Hukum dan HAM RI. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Ahmad Farozi

SRIPOKU.COM, LUBUKLINGGAU-- Seni sudah menjadi bagian hidup Armada Mandala Simapera. Sejak muda, pria kelahiran 16 Maret 1973 ini sudah menekuni dunia seni, khususnya seni rupa. Tak terbilang sudah lukisan terukir di atas kanvas hasil karyanya.

Salah satu karya seni Armada Mandala Simapera yang cukup fenomenal adalah seni Batik Duren Belah Linggau. Batik bermotif duren belah ini, sudah mendapatkan hak cipta dari Kementerian Hukum dan HAM RI.

Dijumpai Sripoku.com, di studionya Jalan Sejahtera Gang Alkisam Kelurahan Taba Jemekeh Kecamatan Lubuklinggau Timur I Kota Lubuklinggau belum lama ini, Mada, demikian ia akrab disapa menuturkan, batik duren belah karyanya lahir dari sebuah ide.

Awalnya, ia berpikir untuk membuat batik dengan motif khas daerah Lubuklinggau saat belajar membatik di Jogjakarta pada tahun 2014 lalu.

"Idenya muncul ketika saya belajar membatik di Jogja. Saat itu saya berpikir motif apa yang pas untuk dijadikan batik. Sesuatu yang baru dan tidak ada kesamaan dengan motif batik lainnya. Lalu muncullah ide batik motif duren belah," tutur Mada.

"Karena ditempat kita (Lubuklinggau dan sekitarnya-red), kan banyak duren. Gambarnya juga mudah diutak atik, maka saya kemudian mencoba membuat batik dengan motif duren belah," ujarnya.

Batik duren belah ciptaannya memiliki filosopi empat duren terbelah melambangkan empat kecamatan di Lubuklinggau dan kemudian berkembang menjadi delapan kecamatan. Kemudian durinya berjumlah sebanyak 72, yang melambangkan 72 kelurahan.

Motifnya terus dapat dikembangkan, ada jalan dan juga berkembang sebagai penyangga daerah lainnya yang saling terhubung.

"Kekuatan batik duren belah ini pada motifnya. Ada filosopi yang khas daerah. Setelah saya buat, kemudan dilakukan uji publik selama satu tahun, sebelum akhirnya, batik duren belah ini mendapatkan hak cipta dari Kementeriam Hukum dan HAM," ujar Mada.

Baca: Mesin ATM Diganjal Tusuk Gigi, Polres Ogan Ilir Bongkar Sindikat Penguras ATM Lintas Provinsi

Baca: Live Streaming Final Bulutangkis Indonesia vs China Asian Games 2018, Malam Ini

Setelah mendapatkan hak cipta, ia terus memproduksi kain batik duren belah dan mulai memasarkannya. Awalnya, pasaran hanya untuk tingkat lokal. Namun, seiring waktu, mulai ada konsumen dari luar daerah yang membeli batiknya, yang dipasarkan secara online.

Sejauh ini ia mampu memproduksi kain batik sekitar 6-10 lembar per hari. Untuk kain batik bahan semi sutra ukuran 115 x 200 cm, ia menjualnya dengan harga Rp150 ribu.

Sedangkan untuk batik dengan bahan semi sutra ukuran 220 x 115 cm, dijual dengan harga berkisar Rp250-300 ribu per lembar. Untuk bahan kain batik, ia pasok dari Pekalongan, Jateng.

"Awalnya untuk pasaran lokal, kemudian perlahan-lahan mulai banyak yang pesan secara online, ada yang pesan dari Jakarta, Jogja. Sebagiannya untuk koleksi. Dalam satu bulan kadang habis 25 lembar bisa lebih, terkadang kita melayani pesanan khusus saat even-even," ujar Mada. (*)

Penulis: Ahmad Farozi
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved