Mutiara Ramadan 2018

Merajut Persaudaraan, Pilar Penting untuk Membangun Masyarakat Berkeadaban

KEHARUSAN merajut persaudaraan (ukhuwah) sesama manusia merupakan satu di antara pilar penting untuk membangun masyarakat berkeadaban.

Merajut Persaudaraan, Pilar Penting untuk Membangun Masyarakat Berkeadaban
http://yasirmaster.blogspot.com/
Ilustrasi. 

SRIPOKU.COM - KEHARUSAN merajut persaudaraan (ukhuwah) sesama manusia merupakan satu di antara pilar penting untuk membangun masyarakat berkeadaban. Kehidupan manusia sejak mulanya juga dilengkapi serangkaian perbedaan, kekhasan, dan keunikan dalam berbudaya.

Berita Lainnya:
Beyond Ritualisme, Gema Ramadan Berlanjut Sampai bulan Syawal

Dalam ranah interpretasi keagamaan di masyarakat muslim juga telah muncul fakta kuat adanya perbedaan. Betapapun bedanya sangat jauh upaya mencari titik-titik kesamaan harus dilakukan untuk merajut persaudaraan, untuk mewujudkan ukhuwah.

Di antara faktor penunjang lahirnya persaudaraan, khususnya sesama muslim, adalahmelihat unsur-unsur yang sama. Semakin banyak persamaan akan semakin kokoh pula persaudaraan.

Persamaan rasa dan cita merupakan faktor dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki.

Pada gilirannya, seseorang akan mudah berempati untuk turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Tidak ada persaudaraan tanpa empati dan kebersamaan.

Merajut persaudaraan harus berbasis pada dua kesadaran, yaitu kesadaran adanya perbedaan dan kesadaran untuk saling menemukan persamaan-persamaan. Pertama-tama perlu disadari, hakekat diperlukannya ukhuwah adalah adanya perbedaan, meskipun pada akhirnya ukhuwah menghendaki hidup dalam perlakuan yang sama.

Alquran menggarisbawahi, perbedaan adalah hukum yang berlaku secara kodrati dalam kehidupan ini (QS. Al-Maidah [5]: 48).

Seandainya Allah menghendaki kesatuan pendapat, niscaya diciptakan-Nya manusia tanpa akal budi seperti binatang atau benda-benda tak bernyawa yang tidak memiliki kemampuan memilah dan memilih, karena hanya dengan demikian seluruhnya akan menjadi satu pendapat.

Kedua, setelah menyadari secara benar adanya keragaman itu bagian dari skenario Allah maka kita perlu menyadari pentingnya menemukan titik-titik persamaan. Misalnya kesadaran tentang persamaan kemanusiaan, bahwa pada haketanya manusia adalah makhluk mulia diciptakan untuk saling mengenal.

Halaman
12
Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved