Mutiara Ramadan 2018

Beyond Ritualisme, Gema Ramadan Berlanjut Sampai bulan Syawal

BERPUASA bagi kaum muslim pada umumnya lebih dilihat dari perspektif fikih ibadah. Yakni, berpuasa merupakan ibadah yang wajib ditunaikan dan

Beyond Ritualisme, Gema Ramadan Berlanjut Sampai bulan Syawal
www.youtube.com
Puasa Syawal. 
Dr Mutohharun Jinan
Direktur Pondok Shabran UMS Surakarta.
Dr Mutohharun Jinan Direktur Pondok Shabran UMS Surakarta. (SRIPOKU.COM)

BERPUASA bagi kaum muslim pada umumnya lebih dilihat dari perspektif fikih ibadah. Yakni, berpuasa merupakan ibadah yang wajib ditunaikan dan meninggalkannya tanpa alasan yang dibenarkan syariat berarti berdosa.

Tentu saja pandangan terhadap puasa dalam pendekatan fikih ibadah demikian itu tidak salah. Karena memang begitulah teks-teks suci Alquran dan Hadis menginformasikan tentang kemuliaan puasa Ramadan.

Bahwa puasa sebagai ibadah yang berpahala banyak, membuka peluang pelakunya dibersihkan dosa-dosanya, dan memperoleh ampunan-Nya. Lebih dari itu, puasa Ramadan sejatinya juga merupakan medium yang diciptakan Tuhan, untuk mendidik manusia agar melakukan otokritik spiritual, keluar dari rutinitas, dan lepas dari bingkai struktural yang membelenggu.

Secara individual, puasa Ramadan mengajarkan agar manusia melakukan transformasi diri dengan memeriksa dan menilai diri sendiri apakah iman dan keberagamaannya sudah menembus batas-batas ritual menuju pengalaman obyektif. Sedangkan secara sosial puasa dapat juga diletakkan sebagai alat refleksi untuk dikais maknanya dalam perspektif moral dan keadilan sosial sesuai konteks ibadah itu dilakukan.

Dalam suasana sosio-politik menjelang pemilihan pemimpin saat ini, tepat sekali untuk melakukan obyektifikasi nilai-nilai dasar puasa Ramadan, antar lain sebagai kriteria memilih pemimpin yang pantas menakhodai negeri ini. Nilai-nilai dasar puasa seperti empati, keberpihakan pada kaum lemah, kejujuran, dan kemampuan pengendalian diri cukuplah untuk mengukur sekaligus menentukan pilihan pemimpin.

Untuk itu, menilai kemampuan dalam pengendalian diri para pemimpin, dapat dilihat dari apakah mereka telah menunjukkan komitmen moral sehingga tidak terlibat dalam korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan tindak kejahatan lainnya. Berbagai bentuk tindak kejahatan ini merupakan representasi dari sifat kerakusan dan kebalikan dari sifat pengendalian diri.

Dengan begitu, ibadah puasa yang dilakukan selain memenuhi kaidah fikih juga mengandung makna kontekstual dan berdaya gugah untuk perbaikan publik. Transformasi nilai-nilai puasa harus terus diupayakan dalam berbagai aspek kehidupan agar ibadah ini semakin bermakna dan membekas dalam prilaku sehari-hari.

Nabi Muhammad SAW memperingatkan, "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta atau malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan" (HR. Bukhari).

Seremoni formal
Apabila dikaji lebih jauh, setiap pengamalan ibadah atau ritual keagamaan tidak boleh terjebak dalam kungkungan slogan dan seremoni formal sampai melalaikan fungsi, proses, dan sasaran yang hakiki. Sebab praktik ibadah yang kehilangan kekuatan emansipasi dan transformasi akan berubah menjadi kubangan sikap egoisme yang hanya mementingkan keselamatan dan keuntungan sendiri.

Gema Ramadan berlanjut sampai bulan Syawal yang segera tiba. Watak ritual ibadah kolektif akan selalu menghasilkan tradisi. Tradisi yang terbalut oleh makna-makna dan cita-cita akan kesucian dan kesempurnaan hidup.

Bila merasa berhasil meraihnya, manusia lantas merayakannya, karena memang satu di antara sifat dasar manusia suka perayaan. Watak ritual kolektif yang telah mentradisi dalam bentuk selebritas sebenarnya sarat prilaku simbolik.

Di sinilah sesungguhnya setiap orang, sesuai kapasitas dan kedudukannya, mempunyai motivasi dan interpretasinya sendiri terhadap selebrasi Ramadan. Ada yang dengan niat tulus benar-benar ingin mendapatkan percikan dari kedahsyatan bulan yang dimuliakan ini dengan menembus batas-batas simbolisme.

Ada pula yang memanfaatkannya untuk mengeruk keuntungan material dalam kemasan ritual ini. Entah seberapa banyak yang berniat memperoleh kesadaran moral publik, yakni menghilangkan kebiasaan membohongi rakyat banyak dan membuah prilaku korup.

Semoga kita dapat terhindar dari jebakan simbolisme selebrasi idul fitri dan menembus batas ritual menuju hikmah Ramadan yang hakiki. (*)

Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved