Populasi Ikan Nila Diambang Virus Mematikan, BKIPM Palembang Awasi Ketat Peredarannya

Populasi Ikan Nila saat ini rentan terkena penyakit, diketahui peredaran ikan Nila di dunia sudah terserang TiLV (Tilapia Lake Virus).

Penulis: Reigan Riangga | Editor: Reigan Riangga
SRIPOKU.COM/NET
Ilustrasi Ikan Nila terkena Virus. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Populasi Ikan Nila saat ini rentan terkena penyakit, diketahui peredaran ikan Nila di dunia sudah terserang TiLV (Tilapia Lake Virus).

Dimana, virus TiLV ini awalnya di temukan pada tahun 2009 lalu di Israel dan menyebar dengan cepat ke beberapa negara lainnya seperti Mesir, Ekuador, Kolombia dan Thailand.

Virus TLV ini hanya berdampak pada ikan nila (Oreochromis niloticus) saja. Lantaran, ikan mas (Cyprinus carpio) yang dibudidayakan di kolam yang sama di Israel tidak menunjukkan gejala klinis serupa ikan nila.

Baca: Warga Tempirai PALI Gempar, Jasad Bapak dan Anak Ditemukan Tewas Membusuk di Kebun

Gejala klinis yang dimaksud adalah tubuh ikan nila menghitam, erosi pada kulit, pembengkakan rongga perut, mata mengalami pembengkakan dan katarak. Penyebaran penyakit ini bisa melalui air atau kontak antar ikan.

Adapun ciri-cirinya, diantaranya, 1. Wabah penyakit nila TiLV di kolam budidaya yang menyebabkan kematian. 2. Terlihat penyusutan mata nila. 3. Penampakan erosi dan penggembungan pada kulit perut. 4. Dilihat di bawah mikroskop, ada pembengkakan pada pembuluh darah.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Saat ini hal terbaik adalah dengan mencegah, karena belum ada obat untuk mengobati virus TLV ini. Para peneliti sedang mengembangkan vaksin secepatnya sebelum TLV menyerang stok ikan nila dunia.

Baca: Wow! Lewat Video Bugil, Napi dari Dalam Lapas Peras Wanita dan Kantongi Rp 800 Juta per Minggu

Erik Ariyanto Kasi Wasdalin BKIPM (Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu) Palembang mengatakan, kerugian akibat serangan penyakit ini diluar negeri sangat besar karena menyebabkan kematian ikan sampai dengan 80-100 persen yang merugikan ekonomi sangat besar bagi pendapatan petani dan sektor perikanan.

“Kita ketahui Ikan Nila merupakan ikan salah satu komoditas budidaya unggulan di Indonesia nomor dua setelah ikan Mas. Jadi dengan ditemukannya virus ini diharapkan masyarakat untuk berhati-hati dan bisa memilih ikan yang sehat untuk di konsumsi,” ujar Erik Ariyanto.

Baca: Lupakan Kekalahan, Sriwijaya FC Harus Tahu Faktor X Penentu Kemenangan Kontra Persipura 

Melalui BKIPM, pihaknya telah menerbitkan surat pemberitahuan untuk waspada nila dari negara terjangkit dengan menolak impor nila da melakukan pengecekan laboratorium pada nila impor yang telah masuk.

Jangan sampai nila pembawa penyakit masuk ke dalam media budidaya dan menyebarkan wabah yang mengakibatkan banyak kerugian

Baca: Jelang Ramadhan, Beberapa Jenis Kurma Bisa Dinikmati di Hypermart dengan Harga Super Murah

Untuk itu, peran BKIPM Palembang di pintu pemasukan dan pengeluaran sangat awas dan ketat dalam mengawasi potensi masuknya virus ini. Semua komoditi ikan yang masuk dari luar negeri di lakukan proses karantina yang ketat.

“Sampai saat ini di Indonesia terutama Sumatera Selatan belum di temukan adanya penyakit ikan ini,” jelas erik.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved