Danlanud Palembang: Penerbang Tak Kenal Kawasan Magic

Ada kemungkinan Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak karena menabrak tebing hingga hancur jadi serpihan.

Tayang:
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Soegeng Haryadi
zoom-inlihat foto Danlanud Palembang: Penerbang Tak Kenal Kawasan Magic
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Letkol Pnb Adam Suharto
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Melihat dari serpihan-serpihan jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor Rabu (9/4/2012) pukul 15.30 ada kemungkinan berawal dari media (cuaca yang tidak terlihat ketinggian atau gunung posisi dalam awan).

"Sehingga pilot calling turun, nggak lihat dan menabrak dari 5.500 kaki. Melihat dari serpihan sekecil itu, kecepatan pesawat itu 300 knot atau 540 km per jam dan menghantam sehingga habislah," ungkap Danlanud Palembang, Letkol Pnb Adam Suharto, Kamis (10/5/2012) kemarin.

Adam yang telah mengantongi 5.500 kali menerbangkan pesawat tempur mengaku sudah mengitari seluruh wilayah udara tanah air maupun luar negeri. Di luar, bapak dua anak buah pernikahan dengan Herlina Hardianti ini pernah menerbangkan pesawat tempur ke Singapura, Malaysia, Australia, Thailand, dan membawa pesawat China.

"Kalau Shukoi ini kan pesawat baru tercanggih generasi keempat, rasionik perlengkapannya canggih, hebatlah. Walau pesawat komersial, semuanya sudah komputerisasi. Sementara kecelakaan ini banyak kemungkinan penyebabnya. Ada faktor media (cuaca), man (human error), machine (engine), dan manajemen. Tapi kalau kemungkinannya untuk insiden ini ada dua, yakni awalnya media sama orang (human error). Sedangkan mesin nampaknya kurang karena pilot bisa saja calling, mayday," beber perwira lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1991.

Melihat dari kronologisnya, pesawat ini dari 10.000 kaki melakukan descend (turun) ke 6.000 kaki. Menurut Adam, sebetulnya tidak masalah.

"Mau turun ke berapa aja, asal nggak nyemplung tanah. Selama visual, tapi kalau dalam awan atau instrumen harus tahu dengan ketinggian yang ada. Minimal dalam instrumen 8.000 di atas Gunung Salak. Tapi sepertinya visual nggak masalah, dengan secanggih itu harusnya ketahuan apakah ada awan CB. Pilot ngecek itu nggak (instrumen, red)," terang Adam.

Menyinggung santernya kabar Gunung Salak ini memiliki magic yang kemungkinan mempengaruhi terjadinya kecelakaan pesawat Shukoi Jetset 100, Adam menepisnya.

"Gunung Salak atau gunung apa saja sama saja. Di Indonesia bagian timur seperti Papua, gunung-gunungnya dan cuacanya lebih ekstrim. Landingnya di atas ketinggian. Nggak ada itu magic. Kuncinya cuma satu, stick the rule. Bagi penerbang, masalah magic nggak berlaku. Sesuai SOP, dasar-dasar penerbang yang betul nggak terjadi. Yang mengancam itu cuma mesin. Tapi itu mesti ada tanda-tanda. Kalau mesin mati, pilot akan membawa ke pendaratan darurat," tandasnya. 
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved