Selebrasi Lokal 2026

Prediksi Grup L Piala Dunia 2026: Misi Balas Dendam Inggris terhadap Kroasia

Podcast Selebrasi Lokal 2026 yang digelar Tribun Sumsel dan Sripoku.com memprediksi persaingan menarik Misi Balas Dendam Inggris

Tayang:
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Abdul Hafiz Sripo
Sripoku.com/dokumen
MISI BALAS DENDAM INGGRIS - Analis Siemen dan Refly dipandu pembawa acaranya Melisa mengupas misi balas dendam Inggris di Grup L Piala Dunia 2026 pada podcast Selebrasi Lokal 2026 digelar Tribun Sumsel dan Sripoku.com, Selasa (9/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Pertandingan antara Inggris dan Kroasia menjadi sorotan utama sebagai ajang balas dendam semifinal Piala Dunia 2018.
  • Pelatih Inggris Thomas Tuchel menerapkan kebijakan tegas dengan tidak memanggil pemain bintang yang dianggap egois.
  • Kroasia tetap diunggulkan berkat konsistensi performa dan semangat pantang menyerah yang dipimpin oleh Luka Modric.
  • Ghana dan Panama diprediksi menjadi tim kuda hitam yang berpotensi memberikan kejutan di fase grup.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Podcast Selebrasi Lokal 2026 yang digelar Tribun Sumsel dan Sripoku.com memprediksi persaingan menarik Misi Balas Dendam Inggris, Panama Siap Beri Kejutan di Grup L Piala Dunia 2026.  

Analis Siemen dan Refly dipandu pembawa acaranya Melisa mengupas mampukah The Three Lions melaju mulus ke babak berikutnya? Ataukah Panama akan menjadi kuda hitam yang mengejutkan dunia? Inggris di Grup L Piala Dunia 2026 akan menampilkan persaingan bersama Kroasia, Ghana, dan Panama.

Big Match Inggris melawan Kroasia, dendam delapan tahun yang lalu 2018 di Rusia, Inggris terhenti di semifinal. Pelatihnya membawa bukan pemain yang terbaik, tetap ingin tim ini menang.

Sementara Kroasia tidak jauh berbeda diisi pemain andalannya. 2018 Kroasia di final melawan Prancis. 2022 di Qatar juara ketiga. Pastinya ini berambisi akan masuk final juga targetnya. 

"Kalau di Grup L ini tentunya yang menarik dibahas antara Inggris melawan Kroasia karena di sini Big Match di awal, artinya bukan di pertandingan terakhir. Tetapi saat pertandingan pertamalah Inggris dan Kroasia harus saling membunuh demi mendapatkan tiga poin penuh," ungkap Siemen.

Di sini juga kenapa Inggris tidak membawa skuad-skuad yang mempunyai nama besar. Menariknya di sini pelatih Thomas Tuchel sejak dikontrak Inggris 2024 terkenal bisa sebagai pawang pemain egois. Sebelum melatih Inggris, dia melatih Chelsea menjuarai Liga Champions, menjuarai Piala Dunia Antar Klub, melatih Bayern Munchen, dan melatih PSG.

Kenapa nama-nama top tidak dipanggilnya ke dalam skuad 2026 ini. Ternyata pemain-pemain yang tidak dipanggil ini rata-rata bermainnya sosok yang egois.

Tapi ada catatan Marcus Rashford ternyata dia ada perubahan saat bermain di Barcelona. Dia bisa mendengarkan arahan pelatih dan membantu Barcelona menjadi juara tahun ini.

"Kalau Kroasia tentu tidak terlepas dari nama besar dari Luka Modric, Josko Gvardiol, dan di bawah mistar gawang ada Dominik Livakovic yang kita ketahui memang spesialis adu penalti dan ini juga tentunya kita melihat dari pertemuan terakhir di semifinal di Piala Dunia 2018, di mana Kroasia mampu membalikkan keadaan dan lolos ke final meskipun kalah dengan Prancis," ujar Siemen.

Tetapi menariknya di pertandingan semifinal Piala Dunia 2018 Rusia, Kroasia manang tipis 2-1. Itu pun menang setelah menjalani babak tambahan, extra time. Gol di menit 109. Yang menarik juga Inggris sempat unggul dulu 1-0. Lalu 1-1 sehingga dilanjutkan babak extra time. Akhirnya Kroasia menjadi pemenang semifinal ini.

Sebelum mereka dikalahkan Prancis di final. Kroasia ini dikenal tim yang tidak kenal menyerah. Kita ketahui juga di 2022, Kroasia bertemu Brasil, Kroasia yang sudah ketinggalan namun bisa kembali meraih kemenangan. Jadi catatan Kroasia ini salah satu tim yang menjadi panutan dari tim-tim Eropa yang lain.

Di mana semangat pantang menyerah, semangat juang bertanding sebelum peluit akhir dibunyikan mereka tidak pernah menyerah. Mereka terus menyerang sampai titik darah penghabisan bagaimana kemenangan harus diraih. Itulah rata-rata pemain Kroasia.

"Inggris ini mungkin skuadnya sudah hampir 80 persen berbeda dengan EURO lalu dan Piala Dunia lalu. Mereka ini sudah diproyeksikan jauh-jauh hari untuk mengejar EURO dan Piala Dunia. Tapi di Piala Dunia 2026 ini mayoritas skuadnya sudah berubah. Pertanyaannya kenapa nama-nama besar tidak dipanggil. Selain tidak suka pemain egois, memang performa mereka musim ini jauh menurun," kata Refly.

Sejarah Piala Dunia masih menjadi bayang-bayang. Sejak juara pada 1966, Inggris belum pernah kembali ke final dan kerap tersingkir di fase gugur.

Sebaliknya, Kroasia tampil konsisten. Mereka mencapai final pada 2018 dan finis di posisi ketiga pada 2022. Pengalaman ini membuat Kroasia tetap berbahaya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved