Berita OKI

Angka Anak Tidak Sekolah di OKI Capai 22.082 Orang, Dinas Pendidikan Terjunkan Tim Relawan

Dinas Pendidikan OKI akan menurunkan relawan guna mendata anak-anak yang tidak sekolah di tiga kecamatan seperti Kayuagung, Pedamaran dan SP Padang.

Tayang:
Penulis: Nando Davinchi | Editor: tarso romli
Sripoku.com/Nando Davinchi
ANAK TIDKA SEKOLAH - Kepala Dinas Pendidikan Ogan Komering Ilir, Muhammad Refly membentuk relawan pendidikan untuk melakukan pendataan puluhan ribu anak-anak tidak sekolah yang terbesar di Kecamatan Kayuagung, Sp Padang dan Pedamaran. 

 

Ringkasan Berita:
  • Menjadi satu-satunya daerah di Sumsel yang mendapat program khusus penanggulangan Anak Tidak Sekolah (ATS) pada 2026, Disdik OKI menerjunkan relawan untuk mengentaskan 22.082 anak putus sekolah.
  • Sebagai langkah awal, para relawan berfokus melakukan penyisiran, pendataan, dan validasi data ATS di tiga wilayah, yaitu Kecamatan Kayuagung, Pedamaran, dan Sirah Pulau (SP) Padang.
  • Anak-anak yang teridentifikasi nantinya akan diarahkan ke jalur pendidikan formal maupun nonformal (Paket A, B, dan C).

Baca juga: PS Palembang U-15 Juara Piala Gubernur Sumsel Regional Palembang Usai Kalahkan DSP, Adu Penalti

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Menjadi satu-satunya daerah di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang mendapatkan program khusus penanggulangan Anak Tidak Sekolah (ATS) pada tahun 2026, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memulai langkah tegas. Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten OKI resmi melepas barisan relawan pendidikan guna menyisir dan menyelamatkan masa depan anak-anak yang tercatat putus sekolah atau belum tersentuh pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan OKI, Muhammad Refly, menegaskan bahwa pengentasan belasan ribu anak yang putus sekolah atau belum mengenyam bangku pendidikan akan menjadi fokus utama pemerintah daerah ke depan.

"Menurut data yang kami terima, angka ATS di Kabupaten OKI sangat tinggi, mencapai 22.082 orang. Oleh karena itu, ini menjadi fokus utama kami ke depannya untuk segera menuntaskan persoalan tersebut," ujar Refly saat dikonfirmasi, Minggu (24/5/2026) pagi.

Sebagai langkah awal dari gerakan ini, Refly menyatakan bahwa para relawan pendidikan mengemban misi khusus untuk menyisir, mendata, dan memvalidasi angka ATS di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Kayuagung, Pedamaran, dan Sirah Pulau (SP) Padang.

"Relawan pendidikan yang disiapkan akan didayagunakan secara maksimal. Dengan bantuan dari perangkat pemerintahan di desa, kami yakin target penuntasan anak tidak sekolah ini dapat tercapai sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat," jelas Refly.

Nantinya, para relawan pendidikan akan dibekali pelatihan pemetaan sosial dan teknik pendataan yang mengacu pada standar data nasional. Data yang terkumpul kemudian disinkronkan secara berkala antara relawan, pendamping desa, dan Dinas Pendidikan.

"Hal ini penting agar setiap anak yang teridentifikasi bisa segera mendapatkan penanganan tepat, baik diarahkan ke jalur pendidikan formal maupun ke jalur pendidikan nonformal dan kesetaraan seperti Paket A, B, atau C bagi mereka yang sudah melewati batas usia sekolah reguler," sambungnya.

Selain aspek pendataan, kolaborasi ini dirancang untuk menyasar akar masalah dari fenomena ATS. Berdasarkan evaluasi lapangan, persoalan ini umumnya dipicu oleh faktor ekonomi, jarak tempuh ke sekolah yang jauh, hingga kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan.

"Melalui pendekatan terpadu, kita berharap setiap hambatan dapat diidentifikasi dan dicarikan solusinya bersama-sama, baik melalui skema bantuan sosial, penyediaan sarana transportasi, maupun peningkatan kesadaran masyarakat," terangnya.

Di sisi lain, Kepala Bidang (Kabid) PAUD dan Dikmas Disdik OKI, Desi Puspita, membeberkan fakta bahwa dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan, hanya Kabupaten OKI yang mendapatkan kepercayaan dari pusat untuk menjalankan program pengentasan ATS ini.

"Alhamdulillah, Kabupaten OKI menjadi satu-satunya yang mendapatkan program ini. Tentu hal tersebut memberikan motivasi besar bagi dunia pendidikan kita yang memang membutuhkan peran strategis dari semua pihak, khususnya para relawan," jelas Desi.

Desi menggarisbawahi bahwa tugas para relawan di lapangan sangat krusial demi memastikan sinkronisasi antara data di atas kertas dengan realitas yang ada di masyarakat.

"Kita berharap tidak sekadar mengumpulkan data, tetapi kebenaran dan validitas data itulah yang terpenting. Angka 22.082 bukan jumlah yang kecil. Kami berharap kerja keras rekan-rekan relawan membawa hasil positif. Kami juga selalu membuka ruang koordinasi setiap saat jika ditemukan kendala di lapangan," pungkas Desi.

Simak berita menarik lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News.

Baca juga: Dua Tahun Mati Suri, Warga Desa Pematang Sukatani Kini Kembali Bisa Salat Berjemaah di Mushola

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved