Berita OKU Timur
Petani OKU Timur Resah Hama Sundep dan Cuaca Ekstrem Meski Harga Gabah Membaik
tantangan terbesar petani saat ini bukan lagi hama tikus, melainkan hama sundep yang menyerang batang padi dan sulit dikendalikan
Penulis: Choirul Rahman | Editor: Welly Hadinata
Ringkasan Berita:
- Petani di OKU Timur mengeluhkan serangan hama sundep dan cuaca ekstrem yang mengancam hasil panen padi.
- Meski harga gabah membaik, biaya produksi seperti pupuk dan pestisida terus meningkat.
- Petani berharap pemerintah membantu pengendalian hama dan menjaga stabilitas harga gabah.
SRIPOKU.COM, MARTAPURA — Di tengah membaiknya harga gabah, para petani padi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Sumsel masih dibayangi ancaman serangan hama dan perubahan iklim yang tidak menentu.
Kondisi tersebut dirasakan Sunarto (41), petani asal Dusun Bukit Napuh, Kelurahan Bukitsari, Kecamatan Martapura, OKU Timur, Sumsel, yang telah menggarap sawah sejak 2009.
Menurut Sunarto, tantangan terbesar petani saat ini bukan lagi hama tikus, melainkan hama sundep yang menyerang batang padi dan sulit dikendalikan.
“Kalau terus menyerang, hasil gabah pasti turun,” ujar Sunarto saat ditemui, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi pertanian memang membantu pekerjaan petani, terutama dengan penggunaan traktor dan mesin panen modern yang mempercepat proses pengolahan lahan hingga panen.
Namun, modernisasi alat pertanian belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan utama petani, terutama tingginya biaya produksi.
“Pupuk mahal, pestisida mahal, dan modal tanam terus naik,” katanya.
Meski begitu, Sunarto mengaku bersyukur karena harga gabah kering panen saat ini masih berada di kisaran Rp6.500 hingga Rp6.700 per kilogram, sehingga cukup membantu kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anak.
Selain ancaman hama, para petani juga dihantui dampak perubahan iklim dan potensi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino.
“Kami takut kemarau makin panjang dan panas. Ditambah lagi hama sundep yang sulit diatasi,” ujarnya.
Untuk menambah penghasilan, Sunarto juga menanam cabai, daun bawang, dan semangka sejak 2022. Ia mengaku pernah memperoleh keuntungan hingga Rp60 juta dalam satu musim tanam semangka selama dua bulan.
Namun, usaha tersebut tetap memiliki risiko tinggi akibat banjir dan cuaca yang sulit diprediksi.
Di sisi lain, Sunarto menyoroti minimnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
“Sekarang jarang anak muda yang mau jadi petani. Kebanyakan lebih memilih jadi pegawai,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga gabah sekaligus membantu petani mengatasi serangan hama sundep agar petani tidak terus mengalami kerugian.
Berita Oku Timur
petani padi
Petani padi di Kabupaten OKU Timur
Petani Padi Oku Timur
sundep
gabah petani
| Penampakan Sapi Kurban Presiden RI Prabowo Subianto di OKU Timur, Jenis Limosin Bobot Capai 930 Kg |
|
|---|
| Sosok Petani Jagoan di Belitang OKU Timur Jadi Bandar Sabu, Paket Dikemas dalam Bungkusan Mi Instan |
|
|---|
| Menembus 56 Kilometer Setiap Hari, Titik Rusyanti Hidupkan Semangat Hardiknas dari Pelosok OKU Timur |
|
|---|
| Transaksi Sabu via WhatsApp Digagalkan, Polisi Menyamar Tangkap Pengedar di Buay Madang |
|
|---|
| 2 Mahasiswa Asal Lampung Ini Coba Berlagak Jagoan di OKU Timur, Jadi Penguasa Narkoba Antar Provinsi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/sunarto-petani-padi-di-OKU-Timur.jpg)