Berita OKU Timur

Petani OKU Timur Resah Hama Sundep dan Cuaca Ekstrem Meski Harga Gabah Membaik

tantangan terbesar petani saat ini bukan lagi hama tikus, melainkan hama sundep yang menyerang batang padi dan sulit dikendalikan

Tayang:
Penulis: Choirul Rahman | Editor: Welly Hadinata
Sripoku.com/Choirul Rahman
PETANI -- Sunarto, petani padi asal Dusun Bukit Napuh, Kecamatan Martapura, menunjukkan kondisi sawahnya di Bukit Napuh, Kelurahan Bukitsari, Kecamatan Martapura, Jumat (15/5/2026). Di tengah harga gabah yang membaik, petani masih dihantui ancaman hama sundep dan perubahan iklim yang tidak menentu. 
Ringkasan Berita:
  • Petani di OKU Timur mengeluhkan serangan hama sundep dan cuaca ekstrem yang mengancam hasil panen padi.
  • Meski harga gabah membaik, biaya produksi seperti pupuk dan pestisida terus meningkat.
  • Petani berharap pemerintah membantu pengendalian hama dan menjaga stabilitas harga gabah.

SRIPOKU.COM, MARTAPURA — Di tengah membaiknya harga gabah, para petani padi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Sumsel masih dibayangi ancaman serangan hama dan perubahan iklim yang tidak menentu.

Kondisi tersebut dirasakan Sunarto (41), petani asal Dusun Bukit Napuh, Kelurahan Bukitsari, Kecamatan Martapura, OKU Timur, Sumsel, yang telah menggarap sawah sejak 2009.

Menurut Sunarto, tantangan terbesar petani saat ini bukan lagi hama tikus, melainkan hama sundep yang menyerang batang padi dan sulit dikendalikan.

“Kalau terus menyerang, hasil gabah pasti turun,” ujar Sunarto saat ditemui, Jumat (15/5/2026).

Ia menjelaskan, perkembangan teknologi pertanian memang membantu pekerjaan petani, terutama dengan penggunaan traktor dan mesin panen modern yang mempercepat proses pengolahan lahan hingga panen.

Namun, modernisasi alat pertanian belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan utama petani, terutama tingginya biaya produksi.

“Pupuk mahal, pestisida mahal, dan modal tanam terus naik,” katanya.

Meski begitu, Sunarto mengaku bersyukur karena harga gabah kering panen saat ini masih berada di kisaran Rp6.500 hingga Rp6.700 per kilogram, sehingga cukup membantu kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anak.

Selain ancaman hama, para petani juga dihantui dampak perubahan iklim dan potensi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino.

“Kami takut kemarau makin panjang dan panas. Ditambah lagi hama sundep yang sulit diatasi,” ujarnya.

Untuk menambah penghasilan, Sunarto juga menanam cabai, daun bawang, dan semangka sejak 2022. Ia mengaku pernah memperoleh keuntungan hingga Rp60 juta dalam satu musim tanam semangka selama dua bulan.

Namun, usaha tersebut tetap memiliki risiko tinggi akibat banjir dan cuaca yang sulit diprediksi.

Di sisi lain, Sunarto menyoroti minimnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

“Sekarang jarang anak muda yang mau jadi petani. Kebanyakan lebih memilih jadi pegawai,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga gabah sekaligus membantu petani mengatasi serangan hama sundep agar petani tidak terus mengalami kerugian. 

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved