Bus Terbakar di Muratara

Kisah Muhammad Tahrul, Sang Pencari Kerja yang Menjadi Korban ke-17 Tragedi ALS

Muhammad Tahrul Hubaidi (31), pemuda asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, resmi tercatat sebagai korban tewas ke-17

Tayang:
Penulis: Eko Hepronis | Editor: Yandi Triansyah
dokumentasi Polisi
KORBAN BERTAMBAH- Jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan maut Bus ALS dan truk tangki minyak di Jalinsum Kabupaten Muratara bertambah menjadi 17 orang. Korban terbaru diketahui bernama Muhamad Tahrul Hubaidi (31), warga Tegal, yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama tiga hari di RSUD Rupit. Korban mengembuskan napas terakhir pada Jumat (8/5/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. 

Ringkasan Berita:
  • Muhammad Tahrul Hubaidi (31), pemuda asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, resmi tercatat sebagai korban tewas ke-17 dalam tragedi bus ALS
  • Setelah tiga hari berjuang melawan masa kritis di ruang ICU RSUD Rupit, Tahrul mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat (8/5/2026). 
  • Ia menyusul 16 korban lainnya yang telah lebih dulu berpulang dalam insiden mengerikan pada Rabu lalu.

SRIPOKU.COM, MURATARA – Niat hati hendak mengubah nasib di perantauan, apa daya maut justru menjemput di tengah jalan. 

Muhammad Tahrul Hubaidi (31), pemuda asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, resmi tercatat sebagai korban tewas ke-17 dalam tragedi kecelakaan maut antara Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki BBM di Musi Rawas Utara (Muratara).

Setelah tiga hari berjuang melawan masa kritis di ruang ICU RSUD Rupit, Tahrul mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat (8/5/2026). 

Ia menyusul 16 korban lainnya yang telah lebih dulu berpulang dalam insiden mengerikan pada Rabu lalu.

Baca juga: Breaking News: Korban Tewas Kecelakaan Bus ALS Bertambah Jadi 17 Orang, Tahrul Sempat Dirawat 3 Hari

Tahrul bukanlah sekadar penumpang biasa. Kehadirannya di dalam bus nahas tersebut membawa misi besar, memperbaiki ekonomi keluarga. 

Dengan tas berisi harapan, ia menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Jawa Tengah menuju Provinsi Sumatera Barat.

"Rencananya mau ke Sumbar itu cari kerja, karena ada saudara di sana," kenang Murni, saudara ipar Tahrul, dengan nada lirih.

Sumatera Barat baginya adalah tanah harapan baru. Namun, perjalanan trans-Sumatera itu terhenti secara tragis di Kelurahan Karang Jaya. 

Benturan hebat yang disusul kobaran api membuat impian Tahrul untuk bekerja di tanah Minang sirna seketika.

Tahrul sempat menjadi satu dari empat orang yang dianggap "ajaib" karena berhasil keluar hidup-hidup dari bus yang terbakar. 

Namun, kondisi fisiknya sangat memprihatinkan. Luka bakar hebat menyelimuti hampir 90 persen sekujur tubuhnya.

Selama tiga hari, tim medis RSUD Rupit berupaya melakukan penanganan intensif. 

Bahkan, pihak kepolisian dan rumah sakit sempat merencanakan untuk merujuk Tahrul ke Palembang via jalur darat demi mendapatkan perawatan yang lebih lengkap, menyusul korban selamat lainnya, Ngadiono.

Namun, takdir berkata lain. Sebelum ambulans sempat membawanya menuju Palembang, tubuh Tahrul tak lagi mampu menahan luka yang teramat berat.

Kasat Lantas Polres Muratara, AKP M Karim, mengonfirmasi kabar duka tersebut. 
"Berdasarkan informasi dari ruang ICU RSUD Rupit, korban atas nama Muhammad Tahrul Hubaidi telah meninggal dunia," jelasnya.

Kini, jumlah nisan yang tercipta akibat tragedi di Jalinsum Muratara bertambah menjadi 17. 

 

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved