Berita Banyuasin

Trauma Dirampok, Guru SDN 12 Suak Tapeh Banyuasin Sempat Pikirkan Pensiun Dini

Pascapenangkapan satu dari dua pelaku perampokan terhadap dirinya, Parida, seorang guru di SDN 12 Suak Tapeh

Penulis: Ardiansyah | Editor: Yandi Triansyah
dokumentasi Polisi
DITANGKAP -- Samsul Bahri, pelaku perampokan seorang guru PNS di Palembang yang hendak berangkat mengajar di SD Negeri saat diamankan Subdit III Jatanras Polda Sumsel, Rabu (25/2/2026). Pelaku menawarkan tumpangan lalu melakban mata korban serta menguras saldo ATM 
Ringkasan Berita:
  • Parida, seorang guru di SDN 12 Suak Tapeh, Kabupaten Banyuasin, mengaku masih mengalami trauma mendalam setelah menjadi korban perampokan. 
  • Meski tersangka Samsul Bahri (41) alias SB telah diringkus polisi, korban mengaku belum sepenuhnya lega karena satu pelaku lainnya masih buron.
  • Parida sempat terpikir untuk pensiun dini saja. Kejadian itu tidak bisa hilang begitu saja dari ingatan

 

SRIPOKU.COM, BANYUASIN – Pascapenangkapan satu dari dua pelaku perampokan terhadap dirinya, Parida, seorang guru di SDN 12 Suak Tapeh, Kabupaten Banyuasin, mengaku masih mengalami trauma mendalam. 

Meski tersangka Samsul Bahri (41) alias SB telah diringkus polisi, korban mengaku belum sepenuhnya lega karena satu pelaku lainnya masih buron.

Rasa trauma yang membekas membuat Parida sempat terpikir untuk mengakhiri pengabdiannya lebih awal sebagai tenaga pendidik. 

Peristiwa kekerasan yang dialaminya menyisakan luka psikologis yang sulit dihilangkan.

"Masih empat tahun lagi sebenarnya sampai pensiun, makanya sempat terpikir untuk pensiun dini saja. Kejadian itu tidak bisa hilang begitu saja dari ingatan," ungkap Parida dengan nada lirih, Kamis (26/2/2026).

Meski dibayangi ketakutan, Parida memilih untuk tetap bertahan dan menjalankan profesinya secara profesional. 

Keputusan ini diambil lantaran dirinya merupakan tulang punggung keluarga yang masih harus membiayai pendidikan anak-anaknya.

Parida menjelaskan bahwa saat ini ia masih menanggung biaya kuliah dan sekolah untuk anak keempat dan kelimanya. 
Sementara itu, sang suami sudah lama memasuki masa pensiun.

"Uang di tabungan yang hilang diambil para pelaku itu sebenarnya disiapkan untuk bayar biaya kuliah dan sekolah anak. Karena tabungan sudah habis, mau tidak mau saya harus tetap bertahan mengajar demi mereka," tambahnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved