Berita OKI

Menelusuri Tradisi Nyubok di Pedamaran OKI Sumsel, Cara Unik Pemuda Mencari Jodoh dengan Korek Api

Karena sebagian besar rumah tradisional di Pedamaran berupa rumah panggung, proses nyubok pun memiliki ciri khas tersendiri

Editor: Welly Hadinata
Tangkapan Layar YouTube
TRADISI NYUBOK PEDAMARAN : Menelusuri Tradisi Nyubok di Pedamaran OKI Sumsel, , Cara Unik Pemuda Mencari Jodoh dengan Korek Api. (Foto Youtube Mang Dayat Via Urang Diri TV) 

Ringkasan Berita:
  • Tradisi nyubok di Pedamaran, OKI, merupakan cara sopan pemuda mendekati gadis dengan mengunjungi rumahnya pada malam hari.
  • Ciri khasnya adalah komunikasi dari bawah rumah panggung dan simbol penerangan wajah dengan korek api.
  • Jika disetujui, proses berlanjut ke tahap beterang sebagai langkah menuju pernikahan dan mempererat hubungan antar keluarga.

Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang

SRIPOKU.COM - Masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), khususnya di Kecamatan Pedamaran, memiliki tradisi unik dalam mencari jodoh yang dikenal dengan sebutan nyubok.

Tradisi ini menjadi bagian dari warisan budaya lokal yang sarat nilai kesopanan dan tata krama.

Dalam praktiknya, seorang pemuda yang menaruh hati kepada seorang gadis tidak langsung berpacaran seperti lazimnya generasi sekarang.

Ia terlebih dahulu mengunjungi rumah sang pujaan hati sebagai bentuk perkenalan dan penyampaian niat untuk melakukan pendekatan secara baik-baik.

Karena sebagian besar rumah tradisional di Pedamaran berupa rumah panggung, proses nyubok pun memiliki ciri khas tersendiri.

Pemuda biasanya menyapa dari bawah rumah atau melalui celah lantai panggung, kemudian berbincang dengan gadis yang dituju secara sopan.

Sebagai simbol awal perkenalan, pemuda akan menyalakan korek api untuk menerangi wajah sang gadis dari balik jendela rumah.

Cahaya kecil itu menjadi cara sederhana agar keduanya dapat saling melihat dalam temaram malam, sekaligus melambangkan kesungguhan niat.

Percakapan berlangsung dari bawah ke atas rumah panggung, mencerminkan batas kesopanan yang dijaga dalam adat setempat.

Interaksi dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu keluarga maupun tetangga sekitar.

Kepala Desa Menang Raya, Rian Syaputra, menjelaskan bahwa nyubok bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bagian dari proses adat yang menjunjung norma.

“Ketika seorang pemuda jatuh cinta kepada seorang gadis, ia akan memberi kabar dan meminta izin untuk mampir ke rumah sang pujaan hati pada malam hari. Kebiasaan inilah yang disebut nyubok,” ujarnya melalui kanal YouTube Mang Dayat, Senin (23/2/2026).

Bagi masyarakat Pedamaran, nyubok menjadi tahap awal yang dapat berlanjut ke proses yang lebih serius.

Jika sang gadis bersedia, hubungan dapat meningkat ke tahap beterang, yakni kesepakatan untuk melibatkan keluarga kedua belah pihak sebagai langkah menuju pernikahan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved