Idul Fitri

Ustaz Abdul Somad Prediksi Lebaran 1447 H Hari Sabtu, Hilal 2 Derajat, Bahas Hisab Falak dan Rukyah

UAS kemudian menjelaskan beberapa pendekatan yang biasa digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah, termasuk perhitungan ilmu falak atau hisab.

Ilustrasi AI
PENJELASAN UAS - Kolase. Ustaz Abdul Somad menjelaskan perkiraan Idul Fitri 1447 H berdasarkan ilmu falak atau hisab, di mana ketinggian hilal diperkirakan sekitar 2 derajat sehingga belum memenuhi syarat minimal 3 derajat yang ditetapkan oleh negara anggota MABIMS. 

Ringkasan Berita:1. Ustaz Abdul Somad menjelaskan perkiraan Idul Fitri 1447 H berdasarkan ilmu falak atau hisab.

2. Jika hilal belum mencapai 3 derajat, maka bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari sehingga menurut perhitungan tersebut Idul Fitri diperkirakan jatuh pada hari Sabtu.
 
3. UAS juga memaparkan tiga metode penentuan awal bulan Hijriah, yaitu teori wujudul hilal berdasarkan hisab, metode rukyah dengan pengamatan langsung hilal, serta teori kalender global internasional yang digunakan Muhammadiyah.

SRIPOKU.COM – Pendakwah kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) menjelaskan kemungkinan waktu perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah saat menjawab pertanyaan jamaah mengenai apakah Lebaran jatuh pada hari Jumat atau Sabtu.

Penjelasan tersebut disampaikan UAS dalam sebuah ceramah yang diunggah melalui kanal YouTube @Mntv_jurnalis, dikutip pada Kamis (19/3/2026).

Dalam kesempatan itu, UAS membacakan langsung pertanyaan dari jamaah terkait perkiraan penetapan hari raya Idul Fitri.

"Menurut perkiraan Ustaz, lebaran hari Jumat atau Sabtu?" tanya salah satu jamaah yang dibacakan oleh UAS.

Menanggapi pertanyaan tersebut, UAS kemudian menjelaskan beberapa pendekatan yang biasa digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah, termasuk perhitungan ilmu falak atau hisab.

Menurut UAS, secara perhitungan astronomi, posisi hilal pada saat itu diperkirakan belum memenuhi syarat yang disepakati oleh negara-negara anggota MABIMS.

"Kamis besok, menurut ilmu falaq, atau ilmul hisab atau astronomi, ketinggian hilal, 2 koma sekian. Tidak cukup syarat untuk wujudul hilal," jelas UAS.

Ia menerangkan bahwa berdasarkan kesepakatan negara-negara yang tergabung dalam MABIMS, yakni Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura, hilal baru dianggap terlihat apabila ketinggiannya mencapai minimal tiga derajat.

"Karena syarat wujudul hilal kesepakatan mabims (Malaysia, Brunei, Indonesia, Singapura), baru disebut hilal kalau 3 derajat," ujar UAS.

Dengan kondisi tersebut, menurut UAS, apabila ketinggian hilal belum mencapai batas minimal, maka bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.

"Mabims mengatakan bahwa hari raya Idul Fitri adalah hari Sabtu, karena hari Kamis tidak cukup hilal, tak cukup 3 derajat. Karena tak cukup hari Kamis, maka Kamis itu 29, Jumat 30. Hari rayanya, hari Sabtu. Menurut teori wujudul hilal," lanjutnya.

Selain metode hisab atau perhitungan astronomi, UAS juga menjelaskan metode rukyah yang biasa digunakan untuk menentukan awal bulan Hijriah.

Menurutnya, metode ini dilakukan dengan cara mengamati langsung hilal menggunakan alat bantu seperti teleskop atau teropong oleh saksi yang disumpah.

"Teori yang kedua, rukyah. Ditengok pakai teropong. Rukyah namanya. Sore Kamis dipakai teropong menengok. Yang menengok itu saksi tersumpah. Wallahi Allah billahi. Kata dia, aku menengok anak bulan," kata UAS.

Baca juga: Link Siaran Langsung Hasil Sidang Isbat Penetapan 1 Syawal 1447 H

Namun demikian, meskipun ada saksi yang mengaku melihat hilal, pengakuan tersebut belum tentu langsung diterima apabila tidak memenuhi syarat ketinggian hilal yang telah ditetapkan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved