Berita Palembang

Rupiah Melemah dan BBM Naik, Pengamat Ekonomi dari Sumsel Ini Sebut Daya Beli Masyarakat Tertekan

Pengamat ekonomi dari UMP, Amrah Muslimin, menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini belum dapat dikategorikan sebagai krisis

Tayang:
Penulis: Arief Basuki | Editor: Welly Hadinata
SRIPOKU.COM / Arief Basuki
Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Amrah Muslimin, menyatakan kondisi perekonomian nasional saat ini belum masuk kategori krisis, namun tengah mengalami turbulensi akibat dampak geopolitik global dan kenaikan harga BBM non subsidi. 

Ringkasan Berita:
  • Pengamat ekonomi UMP Amrah Muslimin menilai Indonesia belum mengalami krisis ekonomi, melainkan sedang menghadapi turbulensi akibat geopolitik global dan kenaikan BBM non subsidi.
  • Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor komoditas  sehingga menekan daya beli masyarakat.
  • Pemerintah didorong memperkuat UMKM, melakukan efisiensi anggaran, dan menunjukkan empati kepada masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang sedang berlangsung.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), Amrah Muslimin, menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini belum dapat dikategorikan sebagai krisis.

Namun, ekonomi nasional sedang menghadapi turbulensi yang dipengaruhi oleh faktor geopolitik global serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi.

Menurut Amrah, terdapat sejumlah indikator yang harus terpenuhi sebelum suatu negara dapat dinyatakan mengalami krisis ekonomi.

Di antaranya ketidakmampuan membayar utang luar negeri beserta bunganya, inflasi yang tidak terkendali, nilai tukar mata uang yang jatuh drastis, tingkat pengangguran yang sangat tinggi, hingga munculnya gejolak sosial-politik secara masif.

“Kalau kita ulas kondisi sekarang, dolar betul nilai tukar rupiah kita jatuh, tapi dalam konteks tidak seperti di tahun 1998. Tahun 1998 itu dari Rp2.500 sampai menembus Rp17.000. Itu salah satu ciri jatuhnya drastis,” ujar Amrah, Kamis (11/6/2026).

Ia menilai kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis yang pernah dialami Indonesia pada 1998.

Menurutnya, pemerintah masih memiliki kemampuan fiskal yang cukup kuat untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang dan bunga pinjaman.

Selain itu, tingkat pengangguran dan inflasi juga masih berada dalam batas yang relatif terkendali.

“Dalam kondisi ini saya menyebutnya perekonomian kita sedang mengalami turbulensi. Sebabnya karena geopolitik, awalnya terjadi perang di kawasan Timur Tengah. Dampaknya bukan hanya ke Indonesia tetapi juga negara-negara lain,” katanya.

Amrah menjelaskan turbulensi ekonomi tersebut berdampak pada sektor impor. Sejumlah komoditas seperti kedelai, jagung, dan gandum masih bergantung pada pasokan luar negeri yang transaksinya menggunakan dolar Amerika Serikat.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor menjadi lebih mahal sehingga berpengaruh terhadap harga jual barang di tingkat konsumen.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM non subsidi juga meningkatkan biaya operasional dunia usaha yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat.

“Dengan bahan bakar naik maka otomatis biaya operasional naik. Harga jual barang juga naik. Kalau pendapatan masyarakat tetap, maka kemampuan daya beli akan menurun,” ujarnya.

Amrah menilai kelompok masyarakat menengah ke bawah saat ini mulai melakukan penyesuaian dengan mengurangi pengeluaran dan lebih selektif dalam berbelanja.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk memberikan stimulus kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama roda perekonomian nasional.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved