Bus Terbakar di Muratara

Kabar Terkini Pasutri Korban Selamat Kecelakaan Bus ALS di Muratara, Kembali Jalani Operasi

Pasangan suami istri yang selamat setelah bus ALS yang mereka tumpangi terbakar di Kabupaten Musi Rawas Utara kembali dioperasi.

Tayang:
Editor: Refly Permana
Sripoku.com/Rachmad Kurniawan Putra
JALANI OPERASI - Ngadiono saat dibawa ke RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang untuk mendapat pengobatan intensif, beberapa hari lalu. Informasi terkini Senin (11/5/2026), korban kecelakaan bus ALS di Kabupaten Muratara ini bersama istrinya akan jalani operasi debridement. 
Ringkasan Berita:
  • Ngadiono dan Jumiatun, pasangan suami istri korban kecelakaan bus ALS di Musi Rawas Utara pada 6 Mei 2026, selamat namun menderita luka bakar luas.
  • Senin (11/5/2026), keduanya kembali menjalani operasi debridement untuk mengangkat jaringan kulit mati dan mencegah infeksi.
  • Ngadiono mengalami luka bakar 50–60 persen, sementara Jumiatun 70–80 persen, disertai trauma inhalasi.

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Ngadiono dan Jumiatun adalah pasangan suami istri yang selamat setelah bus ALS yang mereka tumpangi terbakar di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatra Selatan, pada 6 Mei 2026 siang.

Kecelakaan akibat tabrakan bus ALS dengan truk tangki BBM itu menyebabkan 18 orang meninggal dunia. 

Kondisi pasangan tersebut cukup memprihatinkan karena menderita luka bakar lebih dari 50 persen.

Sempat dirawat di RSUD Rupit Muratara, keduanya dirujuk ke RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang pada waktu berbeda. 

Baca juga: Kecelakaan Bus ALS di Muratara Disorot DPR, Komisi V Pertanyakan Izin Bus dan Jalan Rusak

Senin (11/5/2026), keduanya kembali menjalani operasi debridement, yaitu prosedur untuk mengangkat jaringan kulit mati, rusak, atau terinfeksi akibat luka bakar. 

Operasi dilakukan untuk membersihkan luka, mencegah infeksi, membuang benda asing, dan mempercepat penyembuhan.

Kepala RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang Kombes Pol dr. Budi Susanto menjelaskan, operasi akan dilakukan beberapa kali secara berkala. 

"Tujuannya membersihkan luka, mencegah infeksi lebih lanjut, membuang benda asing, serta mempercepat proses penyembuhan dengan menyisakan jaringan sehat," jelasnya.

Ngadiono mengalami luka bakar 50–60 persen, sedangkan Jumiatun 70–80 persen. 

Keduanya juga didiagnosis mengalami trauma inhalasi.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved