Bus Terbakar di Muratara
Pagi yang Tertunda dan Takdir di Ujung Jalan: Duka Hambali Menanti Identifikasi Anak dan Cucunya
Keluarga berharap proses DVI segera rampung agar para korban kecelakaan maut tujuan Pekanbaru tersebut dapat segera dimakamkan dengan layak.
Penulis: Andi Wijaya | Editor: tarso romli
Ringkasan Berita:
- Hambali yang menyerahkan sampel DNA untuk identifikasi jenazah anak, menantu, dan cucunya di RS Bhayangkara Palembang.
- Terungkap kisah pilu keberangkatan korban yang sempat tertunda dua kali akibat bus yang tidak menunggu dan jadwal penuh sebelum akhirnya naik bus nahas tersebut.
- Keluarga berharap proses DVI segera rampung agar para korban kecelakaan maut tujuan Pekanbaru tersebut dapat segera dimakamkan dengan layak.
Baca juga: Fakta Baru Tragedi Bus ALS di Muratara, Armada Rencana Pensiun Bulan Oktober 2026
SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Di koridor Rumah Sakit Bhayangkara Moh. Hasan Palembang yang dingin, Hambali (44) duduk terpaku. Tatapannya kosong, namun pundaknya memikul beban duka yang teramat berat.
Sore itu, Kamis (7/5/2026), ia baru saja keluar dari ruang Tim Disaster Victim Identification (DVI).
Bukan untuk menjemput kepulangan, melainkan menyerahkan sebagian dari dirinya—sampel air liur—demi mengenali jasad anak dan cucunya yang kini tak lagi utuh.
"Tadi tim dokter meminta air liur saya. Katanya untuk mencocokkan identitas Rani dan cucu saya, Bella," suara Hambali terdengar bergetar sedikit tertahan.
Bagi Hambali, prosedur medis itu terasa seperti garis akhir dari sebuah perjalanan panjang yang penuh rintangan.
Rani (24) dan anaknya, Bella yang masih mungil (1,8 tahun), serta sang menantu, Aldi Sulistiawan (26), adalah bagian dari rombongan penumpang bus ALS yang terbakar di Kabupaten Muratara dalam perjalanan menuju Pekanbaru.
Takdir seolah-olah telah memberi "tanda" melalui serangkaian hambatan sebelum keberangkatan.
Hambali mengenang bagaimana rencana perjalanan keluarga kecil itu terus-menerus terganjal.
"Awalnya mereka mau naik bus Handoyo. Tapi gagal karena busnya tidak mau menunggu saat mereka terjebak perlintasan kereta api yang lama sekali," kenang Hambali.
Upaya kedua pun gagal karena kendala jadwal.
Namun, keinginan untuk merantau ke Pekanbaru begitu kuat, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka dengan bus yang berangkat pada Selasa (5/5/2026).
Siapa sangka, bus yang semula menjadi tumpuan harapan itu justru menjadi persemayaman terakhir mereka.
Di RS Bhayangkara, pemandangan pilu juga terlihat saat orang tua Aldi datang dengan tujuan yang sama: memberikan sampel DNA agar sang anak bisa segera dikenali dan dipulangkan.
Hambali tak lagi bicara soal firasat. Baginya, semuanya sudah terjadi.
Bus ALS Terbakar di Muratara
Hambali (44)
Disaster Victim Identification (DVI)
RS Bhayangkara Palembang
| Fakta Baru Tragedi Bus ALS di Muratara, Armada Rencana Pensiun Bulan Oktober 2026 |
|
|---|
| Kernet Bus ALS yang Selamat Ungkap Penumpang Mayoritas Tertidur saat Bus Terbakar |
|
|---|
| Cerita Keluarga Korban Bus ALS di Muratara, Aldy Ajak Istri & Anak Merantau ke Riau Ingin Ubah Nasib |
|
|---|
| Cerita Penumpang Selamat Saat Kecelakaan di Muratara, Mesin Bus ALS Sempat Bermasalah |
|
|---|
| Rencana Merantau Berujung Duka, Kisah Haru Satu Keluarga Korban Tewas Kecelakaan Bus ALS di Muratara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Hambali-Tunggu-Hasil-DVI.jpg)