Berita Palembang
Pakar Dorong Penguatan BPDP dan ISPO, Kunci Masa Depan Kelapa Sawit di Indonesia
Penegasan tersebut mengemuka dalam Andalas Forum VI yang digelar di Hotel Aryaduta Palembang, Senin (20/4/2026).
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Odi Aria
Ringkasan Berita:
- Andalas Forum VI di Palembang menegaskan pentingnya penguatan BPDP dan sertifikasi ISPO sebagai kunci masa depan industri sawit Indonesia yang berdaya saing dan berkelanjutan
- Para pakar menyoroti peran strategis sawit sebagai penopang ekonomi nasional, penyerap 16 juta tenaga kerja, serta kontribusi besar terhadap devisa negara
- Forum juga menghasilkan rekomendasi penting seperti penguatan kebijakan sawit berkelanjutan, percepatan peremajaan sawit rakyat
SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Sejumlah pakar dan pemangku kepentingan menegaskan bahwa penguatan tata kelola industri kelapa sawit nasional melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) serta sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) menjadi kunci penting masa depan sawit Indonesia.
Penegasan tersebut mengemuka dalam Andalas Forum VI yang digelar di Hotel Aryaduta Palembang, Senin (20/4/2026).
Forum ini merupakan agenda rutin tahunan GAPKI cabang se-Sumatera sekaligus menjadi seminar dan expo sawit terbesar di Pulau Sumatera pada 2026.
Forum yang berlangsung selama dua hari ini mengangkat tema “Sawit Indonesia: Mau Dibawa ke Mana?”, dengan fokus pembahasan arah kebijakan sawit nasional yang berdaya saing, berkelanjutan, serta mampu menjawab tantangan global seperti transisi energi, ketahanan pangan, dan standar keberlanjutan internasional.
Guru Besar Kebijakan Agribisnis IPB, Y. Bayu Krisnamurthi, menegaskan bahwa Indonesia dan sawit memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan.
“Indonesia butuh sawit, sawit butuh Indonesia. Industri ini menyerap sekitar 16 juta tenaga kerja dan menjadi andalan ekspor, sekitar 64 persen devisa,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Ia menekankan perlunya kebijakan terintegrasi untuk menjaga keseimbangan antara energi, pangan, dan keberlanjutan lingkungan.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, menyebut BPDP berperan penting sebagai instrumen fiskal dalam mendukung keberlanjutan industri sawit.
“Mulai dari biodiesel, peremajaan sawit rakyat, hingga riset dan inovasi, semua diarahkan untuk meningkatkan daya saing global dengan prinsip keberlanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Bank Indonesia Sumatera Selatan menilai sektor perkebunan sawit masih memiliki peluang besar karena risiko pembiayaannya relatif lebih rendah dibanding komoditas lain, meski tetap perlu peningkatan produktivitas dan hilirisasi.
Guru Besar IPB, Rizaldi Boer, menyoroti potensi sawit sebagai aset karbon dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Ia menyebut perkebunan sawit mampu berkontribusi dalam penurunan emisi gas rumah kaca secara signifikan.
Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan besar seperti isu deforestasi, konflik lahan, dan tekanan standar keberlanjutan global.
Di sisi lain, Petrus Gunarso dari Lembaga Literasi Dayak menegaskan bahwa sawit bukan penyebab utama deforestasi berdasarkan pemetaan satelit selama puluhan tahun.
Ketua Umum Apkasindo, Gulat M.E. Manurung, menyoroti ketimpangan produktivitas antara petani dan perusahaan besar yang masih perlu perhatian serius.
| Pembangunan Tol Betung-Jambi Seksi 2A dan 2B Ditargetkan Rampung 2027, Ada Rest Area |
|
|---|
| Usaha Sejak 2002 Kini Hangus Dilalap Api, Pedagang Pasar 16 Ilir Rugi Ratusan Juta Akibat Kebakaran |
|
|---|
| Ratu Dewa Tinjau Uji Coba Ketiga CFD Palembang, Ribuan Warga Padati Lokasi, Bakal Jadi Agenda Rutin |
|
|---|
| Perbedaan Jadwal Pembukaan Jalan Warnai CFD Palembang, Arus Lalu Lintas Sempat Padat |
|
|---|
| Uji Coba Ketiga CFD Palembang, Warga Senang Bisa Bersantai dan Berswafoto |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Seminar-dan-Expo-Sawit.jpg)