Harga Karet
Harga Karet di Sumsel Naik Rp 34 Ribu per Kilogram, Produksi Menurun
Di tengah tren harga yang membaik, produksi karet justru mengalami penurunan.
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga karet yang menyentuh Rp 34 ribu per kilogram belakangan ini belum sepenuhnya membawa dampak positif bagi petani di Sumatera Selatan
- Di tengah tren harga yang membaik, produksi karet justru mengalami penurunan
- Sekjen DPW Asosiasi Petani Karet Indonesia Sumatera Selatan, H Rudi Arpian, mengingatkan petani agar tidak terlena dengan kondisi tersebut
SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Kenaikan harga karet yang menyentuh Rp 34 ribu per kilogram belakangan ini belum sepenuhnya membawa dampak positif bagi petani di Sumatera Selatan.
Di tengah tren harga yang membaik, produksi karet justru mengalami penurunan.
Sekjen DPW Asosiasi Petani Karet Indonesia Sumatera Selatan, H Rudi Arpian, mengingatkan petani agar tidak terlena dengan kondisi tersebut.
Pasalnya, kenaikan harga belum sejalan dengan peningkatan produksi.
“Harga memang naik, tapi produksi turun. Jadi dampaknya belum signifikan bagi petani,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah faktor menjadi penyebab turunnya produksi karet, mulai dari banyaknya kebun tua yang tidak lagi produktif, serangan penyakit tanaman, hingga tingginya biaya produksi yang membebani petani.
Selain itu, alih fungsi lahan karet ke perkebunan kelapa sawit serta berkurangnya luas kebun karet turut mempercepat penurunan produksi.
Kondisi ini kini mulai berdampak pada industri pengolahan karet di Sumatera Selatan yang mengalami kekurangan bahan baku.
Jika tidak segera diatasi, situasi ini berpotensi mengganggu keberlangsungan industri karet, tidak hanya di daerah tetapi juga secara nasional.
Meski demikian, kenaikan harga karet dinilai sebagai momentum penting untuk melakukan pembenahan sektor hulu.
Tanpa adanya peremajaan kebun dan dukungan kebijakan yang kuat, kenaikan harga ini dikhawatirkan hanya bersifat sementara.
APKARINDO mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret, seperti mempercepat program peremajaan kebun karet rakyat, menyediakan pupuk bersubsidi, memperbaiki tata niaga, serta mendorong hilirisasi, termasuk pengembangan aspal karet.
“Jangan hanya bicara hilirisasi. Kalau bahan baku tidak ada, semua akan runtuh,” tegasnya.
Di sisi lain, petani juga diimbau tetap menjaga kualitas produksi dan tidak tergesa-gesa beralih ke komoditas lain.
Kenaikan harga ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperbaiki sistem usaha tani secara berkelanjutan.
| Harga Karet di OKI Rp 12 Ribu Per Kilo, Petani Keluhkan Penurunan Pendapatan Akibat Faktor Cuaca |
|
|---|
| Harga Karet OKU Akhir Januari 2026, Kawasan Ulu Naik, Produksi Justru Anjlok |
|
|---|
| Harga Karet di OKU Timur Hari Ini Naik Rp 13.500 per Kilogram, Petani Kembali Bergairah Menyadap |
|
|---|
| Harga Karet di OKU Timur Naik Rp 300, Petani Perjaya Bernapas Lega |
|
|---|
| Harga Karet di Kabupaten OKI Sumsel Terus Turun, Petani Tercekik Jelang Tahun Ajaran Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Jual-Karet-oki.jpg)