Berita Palembang

Pemprov Sumsel Kaji Kebijakan WFH Setiap Rabu untuk Efisiensi BBM hingga 18 Persen

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tengah mempertimbangkan penerapan kebijakan bekerja dari rumah

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Yandi Triansyah
Sripoku.com/dokumen pemprov sumsel
SAMBUTAN - Gubernur Sumsel, Herman Deru, saat hadir di kegiatan Harmonisasi Ramadhan Pelajar SMA/SMK/SLB Sumatera Selatan 1447 H/2026 yang digelar di SMA Negeri Sumatera Selatan, Kamis (12/3/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Pemprov Sumsel mempertimbangkan penerapan kebijakan bekerja dari rumah bagi ASN sebanyak satu hari dalam sepekan. 
  • Langkah ini dikaji sebagai upaya strategis untuk efisiensi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM).
  • Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, mengungkapkan bahwa hari Rabu menjadi opsi paling memungkinkan untuk penerapan WFH tersebut. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tengah mempertimbangkan penerapan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) bagi ASN sebanyak satu hari dalam sepekan. 

Langkah ini dikaji sebagai upaya strategis untuk efisiensi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, mengungkapkan bahwa hari Rabu menjadi opsi paling memungkinkan untuk penerapan WFH tersebut. 

Pemilihan hari di tengah pekan ini bertujuan untuk menjaga produktivitas dan kedisiplinan pegawai agar tidak disalahgunakan untuk memperpanjang waktu libur.

“Kalau Jumat atau Senin, nanti panjang sekali weekend-nya. Kalau Senin, Selasa, Kamis, atau Jumat dijadikan 'harpitnas' (hari jepit nasional). Jadi yang paling mungkin itu Rabu," ujar Herman Deru di Kantor Gubernur Sumsel, Senin (30/3/2026).

Menurut Deru, bahwa penerapan WFH satu hari dalam sepekan berpotensi bisa menghemat biaya bahan bakar minyak (BBM) hingga 18 persen. 

"Penerapan WFH dilakukan dengan tetap mempertimbangkan dampak ekonomi masyarakat secara keseluruhan," katanya. 

Ia mencontohkan keberadaan kantin di kantor-kantor pemerintahan yang menggantungkan pendapatannya dari aktivitas pegawai.

“Jangan sampai kita menghemat BBM, tapi di sisi lain justru membuat aktivitas ekonomi menjadi mandek. Contohnya, kantin yang sumber bahan bakunya bergantung pada geliat pasar,” ujarnya

Ia mengatakan akan tetap patuh terhadap instruksi pusat, namun tetap menyesuaikan kebijakan dengan kondisi ekonomi masyarakat setempat.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved