Berita Palembang
Menelusuri Logat Khas Wong Kito Palembang, Mengapa Huruf “R” Terdengar Berbeda?
Di ruang publik maupun media sosial, pelafalan huruf “R” ala Wong Kito kerap menjadi bahan candaan.
Ringkasan Berita:
- Logat khas Wong Kito di Palembang membuat huruf “R” terdengar lebih lembut atau berbeda dari bahasa Indonesia baku.
- Fenomena ini dipengaruhi sistem fonologi Melayu dan sejarah penggunaan aksara Arab Melayu.
- Pelafalan tersebut bukan kekurangan, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Palembang.
Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang
SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Di Palembang, masyarakat yang akrab disebut Wong Kito dikenal memiliki logat khas dalam percakapan sehari-hari.
Salah satu ciri yang sering disorot adalah pelafalan huruf “R” yang terdengar lebih lembut, samar, atau berbeda dibanding pengucapan bahasa Indonesia baku.
Menurut kajian linguistik, fenomena ini dipengaruhi oleh sistem fonologi Bahasa Palembang yang memiliki karakter tersendiri dalam rumpun Melayu.
Dalam sejumlah dialek Melayu, bunyi “R” memang cenderung tidak digetarkan kuat seperti dalam bahasa Indonesia formal, melainkan terdengar lebih halus atau bergeser artikulasinya.
Pegiat sejarah Palembang, Mang Dayat, menyebut gejala serupa juga ditemukan di sejumlah wilayah Melayu lain seperti Malaysia, Pontianak, hingga Riau.
“Kesamaan penyebutan huruf ‘R’ terdengar biasa saja. Bukan berarti masyarakat tidak bisa mengucapkannya.
Hal ini lebih dipengaruhi kebiasaan menggunakan huruf Arab Melayu dalam percakapan sehari-hari,” ujarnya melalui kanal YouTube pribadinya, Senin (23/2/2026).
Pengaruh Arab Melayu
Sejarah panjang penggunaan aksara Arab Melayu di Palembang turut memengaruhi pola baca dan ucap masyarakat.
Generasi terdahulu terbiasa membaca dan menulis menggunakan aksara tersebut, sehingga bunyi-bunyi tertentu, termasuk huruf “R”, mengalami penyesuaian dalam praktik lisan.
Perbedaan fonetik ini kemudian diwariskan secara turun-temurun dalam komunikasi keluarga dan lingkungan sosial.
Akibatnya, logat khas tersebut menjadi bagian alami dari identitas bahasa masyarakat Palembang.
Di ruang publik maupun media sosial, pelafalan huruf “R” ala Wong Kito kerap menjadi bahan candaan.
Namun bagi masyarakat setempat, logat itu justru menjadi simbol kebanggaan daerah dan penanda identitas kultural.
Dengan demikian, pengucapan huruf “R” yang terdengar unik bukanlah bentuk ketidakmampuan berbahasa, melainkan refleksi sejarah dan warisan budaya yang memperkaya khazanah linguistik Melayu di Palembang.
| Tiap Hari Ngaji Jalan Kaki, Bocah Ini Nangis Dapat Sepeda Baru dari Polisi Robi Malian Zani |
|
|---|
| Rektor Unsri dan Pimpinan Kompak Gunakan Transportasi Umum, Dukung Program Pemerintah Hemat Energi |
|
|---|
| Walikota Ratu Dewa Tegaskan Tak Ada PHK PPPK, Pemkot Palembang Fokus Efisiensi dan Peningkatan PAD |
|
|---|
| Dijanjikan Proyek Milik Anggota DPRD Palembang, Pria Ini Tertipu Rp100 Juta |
|
|---|
| Harga Plastik Melejit, Herman Deru Ajak Pelaku Usaha di Sumsel Gunakan Daun Pisang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Sungai-Musi-Jembatan-Ampera-2026.jpg)