Breaking News

Imlek 2026

Makna di Balik Angpao hingga Kue Keranjang di Momen Imlek 2026

Di salah satu sudut ruangan, tersaji deretan kuliner khas yang tak pernah absen setiap tahunnya pada perayaan Imlek. 

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Yandi Triansyah
Sripoku.com/Linda Trisnawati
BERI KETERANGAN - Suasana dikediaman Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Provinsi Sumatera Selatan, Tjik Harun, dalam rangka merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, Selasa (17/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Provinsi Sumatera Selatan, Tjik Harun mengungkapkan, setiap makanan memiliki filosofi tersendiri.
  • Kue keranjang misalnya, melambangkan keakraban dan persatuan, sementara kue berlapis dan mengembang dimaknai sebagai harapan agar rezeki terus bertambah
  • Selain itu, tradisi pemberian angpao juga menjadi momen yang dinanti, khususnya bagi anak-anak.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Di salah satu sudut ruangan, tersaji deretan kuliner khas yang tak pernah absen setiap tahunnya pada perayaan Imlek. 

Ada kue keranjang yang lengket, bolu lapis yang rapi, hingga aneka kue yang merekah. Namun, bagi Tjik Harun, makanan ini bukan sekadar pengganjal perut.

Ada makna di balik deretan kuliner tadi di momen yang sakral tersebut. 

Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Provinsi Sumatera Selatan, Tjik Harun mengungkapkan, setiap makanan memiliki filosofi tersendiri.

Baca juga: Polisi Pastikan Perayaan Imlek 2026 di Pemulutan Ogan Ilir Berlangsung Kondusif

Kue keranjang misalnya, melambangkan keakraban dan persatuan, sementara kue berlapis dan mengembang dimaknai sebagai harapan agar rezeki terus bertambah dan berlapis-lapis.

Selain itu, tradisi pemberian angpao juga menjadi momen yang dinanti, khususnya bagi anak-anak.

Tjik Harun menuturkan, angpao umumnya diberikan oleh mereka yang sudah menikah kepada yang belum menikah atau kepada anak-anak sebagai simbol transfer rezeki dan keberkahan. 

Bahkan, anak yang telah dewasa juga dapat memberikan angpao kepada orang tua sebagai bentuk terima kasih.

"Makna angpao bukan dilihat dari isinya, tetapi dari bungkusan merahnya. Di dalamnya terselip doa dan harapan. Tangan yang menerima di bawah, suatu saat nanti akan berada di atas untuk memberi. Itu harapan kita, agar filosofi ini terus berlanjut sampai mereka berkeluarga,” katanya, Selasa (17/2/2026). 

Tjik Harun mengatakan, rangkaian perayaan Imlek diawali dengan ibadah di tempat ibadah masing-masing pada malam pergantian tahun. 

"Kalau kemarin kita sudah lakukan ibadah di tempat ibadah masing-masing. Malam pergantian tahun, umat melaksanakan ritual sembahyang mulai sekitar pukul 22.00 WIB dan mencapai puncaknya tepat pukul 00.00 tengah malam,” kata Tjik Harun saat dikediamannya.

Setelah ibadah, perayaan dilanjutkan dengan kegiatan silaturahmi bersama keluarga dan kerabat.

Menurutnya, inti dari perayaan Imlek adalah mempererat hubungan, saling menghormati, serta saling memaafkan satu sama lain.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa perayaan Imlek tahun ini terasa lebih meriah seiring adanya program Harmoni Imlek Nasional yang didukung pemerintah dan digelar secara besar-besaran di Jakarta serta sejumlah kota lainnya.

Memasuki Tahun Kuda Api 2026, Tjik Harun berharap masyarakat memiliki semangat baru dalam menjalani tahun ini. Karakter kuda yang kuat, dinamis, dan penuh energi, dipadukan dengan unsur api yang melambangkan semangat serta keberanian, diharapkan mampu membawa optimisme dan kemajuan bagi masyarakat di tahun mendatang.

 

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved