Berita Palembang

Pembangunan IPAL di Dempo Palembang Dikeluhkan Warga, Jalan Jadi Berlumpur dan Berdebu

Warga mengaku sering kali melihat pekerjaan yang sudah dilakukan terpaksa dibongkar lagi dan dikerjakan ulang.

Tayang:
Penulis: Mat Bodok | Editor: Odi Aria
Sripoku.com/Mat Bodok
PEMBANGUNAN IPAL DEMPO- Pembangunan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) di Jalan Dempo II RT 19 RW 04, Kelurahan 20 Ilir II, Kecamatan Kemuning, Palembang, Senin (20/10/2025). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG- Pembangunan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) di Jalan Dempo II RT 19 RW 04, Kelurahan 20 Ilir II, Kecamatan Kemuning, Palembang, kembali menimbulkan keluhan dari warga sekitar.

Pada Senin (20/10/2025), suara dentuman keras terdengar dari lokasi proyek, yang diduga disebabkan oleh tanah timbunan yang turun di sekitar galian proyek IPAL.

Proyek yang merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah Australia ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sanitasi dan air di Kota Palembang.

Namun, proses pembangunan yang berjalan di tanah rawa-rawa ini ternyata menimbulkan sejumlah masalah teknis dan kekhawatiran bagi warga setempat.

Koko, salah satu warga yang rumahnya terletak tepat di depan proyek IPAL, mengungkapkan bahwa suara dentuman keras tersebut disebabkan oleh pasir timbunan yang digunakan untuk menutup bekas galian yang dalam.

 “Kemarin ada suara dentuman keras di depan rumah saya, karena tanah timbunan turun jauh,” ujar Koko, yang khawatir akan keselamatan dan kestabilan tanah di sekitar proyek.

Menurutnya, tanah di lokasi proyek bukanlah tanah asli, melainkan tanah timbunan yang labil dan mudah longsor.

Koko menilai bahwa penimbunan yang dilakukan dengan pasir urug tidak tepat untuk kondisi tanah tersebut.

Seharusnya, tanah timbunan perlu dicampur dengan pasir urug agar lebih padat dan stabil.

"Tanahnya labil, mudah longsor. Seharusnya mereka harus tahu kultur tanah awal," tambah Koko.

Masalah lain yang dikeluhkan warga adalah kurangnya pengawasan dari pihak terkait selama proses pembangunan.

Warga mengaku sering kali melihat pekerjaan yang sudah dilakukan terpaksa dibongkar lagi dan dikerjakan ulang.

Hal ini menambah kekhawatiran warga mengenai kualitas proyek dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

"Kerjanya berulang-ulang, dan tidak ada satu pun pengawas yang memantau di sini. Begitu pekerjaan salah, dibongkar lagi," ujar Koko.

Dia berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan masalah ini agar tidak menambah beban masyarakat yang sudah lama merasakan dampak dari proyek ini.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved