Harga Beras di Tingkat Petani Empatlawang Anjlok
Dampak dari anjloknya harga beras di tingkat petani ini, tidak sedikit juga petani yang memilih menunda penggilingan padi hasil panen mereka.
SRIPOKU.COM, TEBINGTINGGI -- Meskipun harga beras mengalami kenaikan di tingkat pengecer, namun tidak terjadi di tingkat petani. Hal ini pun menuai protes dari petani, karena menilai hal ini dikarenakan tidak adanya kontrol dari pemerintah mengenai penjualan salah satu dari sembilan bahan pokok (Sembako) tersebut. Dampak dari anjloknya harga beras di tingkat petani ini, tidak sedikit juga petani yang memilih menunda penggilingan padi hasil panen mereka. Namun, ada pula sebagian yang harus menjualnya dengan harga murah, karena desakan ekonomi.
Menurut sejumlah petani di Kecamatan Pasemah Air Keruh (Paiker) sebagai daerah sentra pertanian, Jumat (2/5/2014), harga jual di tingkat petani jarang sekali membaik. Dalam sepekan ini, harga yang ditawarkan para tengkulak tidak lebih dari Rp 7.200 perkilogramnya. Harga tersebut untuk kualitas beras paling bagus, sedangkan kualitas sedang, paling tinggi Rp 7.000 perkilogramnya. Petani pun dibuat gigit jari, karena harga jual di pasaran Rp 8.500-9.000 perkilogramnya. Sementara, petani sendiri tidak memungkinkan untuk menjual langsung ke pasaran, karena terkendala dengan transportasi untuk pengangkutannya. Karena itu, mereka berharap agar kondisi ini menjadi perhatian pihak terkait, sehingga harganya normal dan stabil.
"Harganya jual berubah-ubah, namun tidak lebih dari Rp 7.200 perkilogramnya, itupun harga beras kualitas paling bagus. Ya, tidak stabil begitu, kadang di bawah Rp 7.000, tapi paling tinggi Rp 7.200 itulah," ungkap Madi, warga Desa Penantian.
Dikatakan, karena harga yang tidak kunjung membaik ini, mereka dengan terpaksa menjual dengan harga murah, karena desakan ekonomi. Namun, ada sebagian yang memilih menunda penggilingan, meskipu padi sudah siap digiling, karena melihat harganya yang dinilai cukup murah.
"Kalau mereka yang ada persiapan, bisa saja menunda penggilingan sampai harga beras cukup mahal. Tapi, kalau kami tidaklah bisa, karena kebutuhan lain sehari-harinya juga harus dipenuhi," terangnya.
Hal senada dikatakan Nurdin, petani lainnnya, semestinya pemerintah bisa mengambil tindakan untuk menstabilkan harga jual beras. Terutama di daerah sentra pertanian yang merupakan daerah penyuplai terbesar bahan pangan ini. Perhatian pemerintah dalam mengontrol harga beras ini sangat diharapkan, sehingga tidak terjadi kesenjangan.
"Pemerintah meski mencari faktor penyebabnya dan mengambil sikap sebagai solusinya. Petani butuh pihak yang bisa membela nasib mereka, karena kami sebagai masyarakat kecil tidak bisa berbuat banyak, melainkan hanya bisa berharap," katanya.
Menurutnya, setidaknya yang menjadi keluhan masyarakat adalah kelancaran transportasi menuju daerah mereka. Selain letaknya yang jauh dengan pusat kota, sarana transportasi boleh dikatakan minim. Hambatan pada akses menuju pusat kota inilah menyebabkan mereka terkendala pengangkutan hasil panen ke kota.
"Di sini sebagian besar masih mengandalkan para tengkulak ataupun tauke, karena untuk membawa sendiri tidak memungkinkan. Hanya saja, harga jual kepada mereka ini sangatlah murah. Ya, kalau aksesnya lancar, pastinya petani lebih memilih membawanya ke pasaran, sehingga harganya cukup tinggi," tandasnya.